Produk Sido Muncul Ditantang Untuk Go Global

Dituntut Agresif Dalam Ekspansi

Rabu, 26/03/2014

NERACA

Jakarta – Kuatnya penetrasi Indofood terhadap pasar mie instan di Indonesia hingga di dunia, menjadikan Indomie sebagai produk Indofood yang memiliki brand paling kuat tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dimancanegara. Maka melihat kesuksesan produk Indofood tersebut, pemerintah memiliki impian agar PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) dengan produk Tolak Anginnya juga bisa terkenal sama seperti Indomie.

Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi mengatakan, saat ini produk-produk Indonesia semakin bermunculan di mancanegara. Pihaknya berharap, menjadikan produk "Tolak Angin" juga sama terkenalnya seperti Indomie,”Tolak Angin sebenarnya laku di mana-mana, produk itu musti bisa seperti Indomie,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Dia menceritakan, awal mula Indomie dikenal di mancanegara karena dibawa oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Timur Tengah (Timteng). Karena TKI pekerja rumahan, saat mereka makan dilihat oleh anak majikannya yang kemudian langsung ikut makan Indomie tersebut,”Begitu mereka makan Indomie, hari ini Indofood punya empat line di Saudi Arabia," kata Mendag.

Menurutnya, yang terjadi pada Indomie dapat diterapkan juga pada produk asli Indonesia, yaitu Tolak Angin. Dia pun berambisi menjadikan Tolak Angin sama terkenalnya dengan Indomie,”Tolak Angin sangat Indonesia sekali, ini harus dijelaskan karena barangnya bagus. Apalagi harus menjelaskan masuk angin itu bagaimana. Saya bilang, kita akan kerja sama untuk menerjemahkan, buat stiker dan labelnya, terus kita penetrasi ke Malaysia," tuturnya.

Dia mengatakan, dengan jumlah TKI di Malaysia yang mencapai dua juta jiwa, Lutfi yakin ini akan jadi pasar ekspor yang luar biasa. Karena itu, ini patut dicoba. Sebelumnya, guna mengembangkan ekspansi bisnisnya di pasar global. PT Sido Muncul Tbk (SIDO) berencana menjalin kerjasama dengan perusahaan farmasi asal Jepang untuk pembangunan pabrik pengolahan jamu Tolak Angin. Besar tawaran kerjasama, hal ini disebabkan karena larisnya penjualan produk Tolak Angin di pasar Asia, termasuk di Jepang.

Direktur Operasional PT Sido Muncul Tbk, David Hidayat pernah bilang, kerjasama dengan perusahaan Jepang masih dikaji dan termasuk soal harga investasinya, “Sudah banyak perusahaan asing mau jalin kerjasama, yang paling kencang selain dari Jepang juga Taiwan. Namun kita belum sepakat soal nilai harganya,”ujarnya.

Dia menuturkan, nantinya bila terjadi kesepakatan soal harga. Maka porsi kepemilikan saham 50%-50% dengan tetap bahan baku dan ramuan berasal dari Sido Muncul. Hanya saja, nantinya perusahaan farmasi tersebut boleh memakai lisensi brand jamu Tolak Angin.

Selain itu, kata David, perseroan juga menyiapkan dana sebesar Rp 150 miliar untuk rencana akuisisi perusahaan farmasi. Dimana sumber pendanaan masih berasal dari hasil dana penawaran saham perdana atau IPO,”Kita sudah siapkan dana investasi Rp 150 miliar untuk akuisisi perusahaan farmasi, namun perusahaan yang mau diakuisisi masih dimatangkan,”tandasnya.

Rencana akusisisi perusahaan farmasi dimaksudkan untuk mengintegrasikan bisnis perseroan selain jamu dan obat tradisional juga bidang farmasi. Sebagai informasi, seiring dengan meningkatnya penjualan produk jamu Tolak Angin, perseroan bakal memperluas pabrik yang sudah ada sekitar 1 hektar dengan nilai investasi sekitar Rp 240 miliar dengan sumber pendanaan berasal dari hasil IPO.

Sepanjang tahun 2013, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp405,94 miliar. Angka ini naik 4,75% dibanding 2012 senilai Rp387,54 miliar. Disebutkan, naiknya laba bersih tersebut ditopang turunnya beban pokok, naiknya pendapatan keuangan maupun pendapatan lain-lain, meski penjualan tercatat turun tipis. Penjualan perseroan pada akhir tahun lalu tercatat sebesar Rp2,37 triliun atau turun 0,84% dibanding tahun sebelumnya sebesar Rp2,39 triliun. Sementara beban pokok berhasil dikurangi menjadi Rp1,36 triliun dari Rp1,47 triliun.

Akibatnya, laba kotor perusahaan meningkat menjadi Rp1,01 triliun dibanding tahun sebelumnya Rp920,65 miliar. Sedangkan, beban penjualan dan pemasaran tercatat meningkat menjadi Rp341,46 miliar dari Rp336,69 miliar, beban umum dan administrasi juga melonjak menjadi Rp152,91 miliar dari Rp79,6 miliar. (bani)