Bangun Kilang, Indonesia Tidak Punya Uang?

NERACA

Jakarta – Masalah minyak masih menjadi momok menakutkan untuk negeri ini selain menggerogoti dana APBN untuk subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM), masalah minyak juga menjadi biang kerok dari defisit neraca perdagangan maupun neraca transaksi berjalan. Padahal negeri ini kaya dengan sumber energi, hanya saja belum bisa mengoptimalkan sehingga masih terus impor. Mungkinkah Indonesia tidak memiliki uang untuk membangun kilang minyak?

Adalah Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan, yang mengatakan bahwa Indonesia tidak memiliki uang untuk membangun kilang minyak. Menurut dia, pembangunan kilang minyak membutuhkan anggaran yang besar, di mana satu kilang dengan kapasitas 300 ribu barel itu menelan biaya sebesar Rp80 triliun. "Inginnya memang kita bisa membangun kilang agar impornya bisa ditekan tapi anggarannya belum ada karena belum punya uang," kata Dahlan di Jakarta, Selasa (25/3).

Pembangunan kilang ini selanjutnya diserahkan Dahlan ke PT Pertamina (Persero) yang terlibat dalam pembangunan kilang minyak di Bontang dengan skema Kerja sama Pemerintah Swasta (KPS) setelah pemerintah Indonesia lakukan market consultation di Singapura beberapa bulan lalu. "Kalau untuk membangun sendiri, Pertamina tidak, dananya tidak cukup kalau konsorsium saya silakan terserah direksi," tegasnya.

Ungkapan senada pernah disampaikan oleh Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Karen Agustiawan, yang mengakui bahwa dana yang dimiliki untuk pembangunan kilang minyak sangat terbatas. "Itu bukan kita tidak mau (bangun kilang), tapi memang dari sisi keuangan tidak mampu," katanya.

Lantaran tak mampu dari sisi finansial ini, Pertamina pun diizinkan bergabung jika ada investor yang berminat membangun kilang atau refinary. Karen mengakui, beberapa pemodal sudah mendekati BUMN migas tersebut. "Sudah ada yang mengajak," kata dia.

Sedangkan menurut Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo mengatakn Indonesia sejak tahun 1994, belum memiliki kilang minyak baru. Untuk membangun sebuah kilang minyak baru diperlukan investasi sebesar US$10 miliar atau Rp100 triliun hingga US$12 miliar atau Rp120 triliun. "Untuk membangun satu kilang minyak butuh US$10-12 miliar," kata Susilo.

Mahalnya investasi untuk membangun kilang baru, membuat pemerintah Indonesia mengundang investor dari luar negeri. Dari pertemuan dengan calon investor di Singapura, Susilo mengaku banyak yang berkeinginan membangun kilang di Indonesia. Kita undang 30-40 investor. Tapi yang minat banyak," jelasnya.

Saat ini, pemerintah baru tahap mendengarkan masukan dari para investor. Langkah ini, diperlukan sebagai dasar menyusun basic design. "Ini belum lelang. Ini tahap basic design," sebut Karen. Selain permodalan masalah yang harus menjadi perhatian yaitu masalah infrasturuk penunajngnya"Akses infratruktur menjadi pertimbangan. Infrastruktur jalan, pelabuhan, kedalaman laut harus memadai," pungkasnya. [agus]

BERITA TERKAIT

Siap Menang Tidak Siap Kalah

Oleh: Budi Setiawanto Perusakan kantor dan kendaraan yang ada di Kementerian Dalam Negeri serta penganiayaan terhadap 15 karyawan kementerian itu…

Indonesia-Australia Jajaki Tarif BM Nol Persen - Perdagangan Bilateral

NERACA Jakarta – Indonesia dan Australia tengah menjajaki kerja sama bilateral untuk pemberlakuan tarif bea masuk nol persen (0%) terhadap…

Kemitraan Indonesia-Uni Eropa Didorong Lebih Seimbang

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mendorong perundingan dari Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia dan Uni Eropa (IEU CEPA)…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Darmin Prediksi Inflasi Dibawah 4%

      NERACA   Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan laju inflasi Indonesia bergerak ke arah…

Menkeu : Proyeksi IMF Berikan Kewaspadaan

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan proyeksi pertumbuhan ekonomi global Dana Moneter Internasional…

Sumbangan Devisa Pariwisata Masih Terbatas

      NERACA   Padang - Bank Indonesia (BI) menilai sumbangan sektor pariwisata terhadap cadangan devisa Indonesia, masih relatif…