Pemerintah Dorong Pengembangan CBM

Energi Alternatif

Kamis, 27/03/2014

NERACA

Jakarta – Beberapa daerah seperti Sumatera masih terus mengalami defisit listrik, maka dari itu pemerintah berupaya keras untuk dapat memberikan pasokan terhadap kebutuhan listrik nasional yang setiap tahun terus meningkat. Salah satu cara yang dilakukan dengan pengembangan energi listrik alternative, diantaranya ki ni pemerintah mulai mengembangkan eksplorasi Coal Bed Methane (CBM) sebagai cadangan energi gas nasional.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo mengatakan CBM dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Kendati demikian saat ini baru ada dua sumur CBM yang sudah beroperasi , maka dari itu perlu ibutuhkan lebih banyak lagi tambahan sumur untuk menggenjot penggunaan energi alternatif.

"CBM bisa dimanfaatkan untuk energy alternatif untuk listrik, maka dari itu masih diperlukan banyak banyak sumur yang harus diambil kompressor untuk listrik. Dengan," ujar Susilo di Jakarta, kemarin.

Oleh kerenanya Kementerian ESDM menargetkan mengeksplorasi 40 sumur sepanjang tahun ini. Tetapi, hingga saat ini proses eksplorasi masih berjalan untuk 20 hingga 30 sumur. Walaupun sebenarnya potensi CBM terbilang lebih kecil dibandingkan dengan minyak dan gas, tapi jika dioptimalkan akan bisa menjadi besar. "Meski kecil itu bisa dimanfaatkan, jika pemanfaatannya lebih optimal bisa menjadi besar " imbuhnya Susilo.

CBM merupakan gas metana yang terperangkap batu bara. Untuk dapat dimanfaatkan, gas diambil menggunakan rig dengan kapasitas rendah, yang hanya mampu mengebor hingga kedalaman 1.500 meter.

Tetapi, Indonesia belum memiliki rig semacam itu. Sehingga, menurut Susilo, pihaknya melalui Lembaga Penelitian dan Pengembangan Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) telah membuat rig yang khusus."Satu rig itu bisa sampai 1.500 meter. Kita himbau agar industri pakai rig ini, maka dari itu sedang kita dorong agar optimalisasinya bisa lebih maksimal" tegasnya.

Sebelumnya Susilo pernah mengungkapkan untuk mengimbangi pertumbuhan penduduk Indonesia yang saat ini mencapai 1,1%, Indonesia dinilai perlu meningkatkan jumlah pasokan energi sebesar 7,5%-8%.

"Kami ini perlu membangun minimal setiap tahunnya 5 ribu Mega Watt pembangkit kalau mau kebutuhan listrik kita terus terpenuhi," ungkap Susilo.

Susilo mengatakan pembangunan pembangkit tersebut telah dimasukan dalam rencana kerja PLN untuk jangka panjang hingga tahun 2022. "Tadi PLN sudah merencanakan antara tahun 2012 hingga 2022 kita ingin membangkitkan 5000 MW per tahun," tegasnya.

Susilo menambahkan, Kementrian ESDM menargetkan Indonesia akan memiliki pembangkit listrik yang memiliki total kapasitas 66.000 MW pada tahun 2020. "Target 66.000 MW pada tahun 2020 sekarang kan baru 44.000 MW, tambahan 20.000 MW dalam 4-5 tahu kedepan semoga tercapai, Insyaallah, tapi insyaallah tidak cukup, kita harus butuh dukungan dari semua pihak," pungkasnya. [agus]