Eksplorasi Minim, Cadangan Energi Fosil Kian Ciut

Rabu, 26/03/2014

NERACA

Jakarta – Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio menilai cadangan energi fosil seperti minyak bumi dan gas bumi sudah mengalami penurunan bahkan sudah sangat minim. Penilaian Agus, lantaran semakin berkurangnya eksplorasi yang dilakukan di Indonesia. Kebutuhan minyak bumi nasional diperkirakan sekira 1,5 juta barel per hari, namun hanya dipenuhi dari lifting dengan rata-rata 800 ribu barel per hari (bph).

Oleh karena itu, menurut Agus, nilai impor minyak nasional begitu tinggi. “Kita ini sudah miskin energi fosil, sudah 50% kita impor,” kata Agus di Jakarta, Selasa (25/3).

Untuk cadangan gas, sambung Agus, Indonesia mempunyai cadangan yang cukup namun yang jadi permasalahan adalah infrastruktur pipa gas yang masih minimal. Selain itu, besarnya subsidi untuk BBM mengganggu pertumbuhan energi alternatif di Indonesia. Lanjut dia, tidak adanya kebijakan yang sangat terfokus kepada ketahanan energi yang dapat dipakai sebagai pegangan semua pihak.

Sebab, menurut Agus, kebijakan energi tidak pernah bisa komprehensif dan menguntungkan untuk Indonesia. “Banyak kebijakan energi dibuat bukan membuat negara ini semakin kuat, tapi melemah, sementara energi terbarukan atau alternatif tidak bisa berkembang,” ungkapnya.

Kendati demikian, Agus berharap perlu adanya revolusi kebijakan sektor energi yang berpacu dengan kelangkaan energi dan kemiskinan. Adapun, pemerintah juga harus segera menghapus subsidi BBM secara bertahap dalam kurun waktu dua tahun dengan landasan hukum yang jelas. Lengkapi juga kebijakan untuk pengembangan energi alternatif atau nonfosil. “Jadi buat strategi ketahanan energi nasional yang komprehensif, bangun juga infrastruktur gas dan sumber energi terbarukan lainnya dengan menggunakan dana subsidi BBM sehingga tidak mengganggu alokasi lain,” tuturnya.

11 Tahun

Lembaga Kajian untuk Reformasi Pertambangan, Energi, dan Lingkungan Hidup (ReforMiner Institute) menyatakan cadangan minyak bumi (minyak fosil) Indonesia akan habis 11 tahun lagi. “Untuk itu, dibutuhkan adanya penemuan energi terbaharukan pengganti minyak bumi,” kata Wakil Direktur ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro.

Menurut data lembaga ini, cadangan minyak per tahun 2011 hanya tersisa sekitar 3,74 miliar barel sementara produksi per tahunnya sekitar 358,890 juta barel. Itu artinya, cadangan minyak bumi nasional akan habis pada 11 tahun.

Sementara untuk cadangan gas bumi, menurut catatan ReforMiner, masih sekitar 104,71 triliun standar feet kubik/Tera Standard Cubic Feet (TSCF) atau produksi pertahunnya yakni mencapai 471.507 Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD). “Untuk cadangan energi fosil khusus gas bumi, diperkirakan masih akan tersedia hingga 31 tahun ke depan,” katanya.

Kemudian untuk cadangan jenis energi fosil jenis batubara, ReforMiner Institute mencatat ada sebanyak 21.131,84 juta ton, dimana produksi per tahunnya yakni mencapai 353.387.341 ton. Khusus untuk batubara, lembaga kajian ini memprediksikan cadangan yang terkandung dalam bumi Indonesia masih akan ada hingga 59 tahun kedepan.

ReforMiner mencatat, posisi cadangan khusus minyak bumi Indonesia terhadap dunia saat ini menempati pisisi 28 (2010). Posisi ini jauh berada di bawah Saudi Arabia yang berada di peringkat teratas dengan cadangan minyak bumi mencapai 264,50 miliar barel dan diposisi kedua ditempati Venezuela dengan nilai cadangan mencapai 211,20 miliar barel. Untuk posisi ketiga ditempati oleh Iran yang memiliki cadangan minyak mencapai 137,00 miliar barel dan disusul oleh Iraq dengan cadangan minyak sekitar 115,00 miliar barel.