Pertumbuhan Transaksi Kartu Kredit Diharapkan Mencapai 15%

Pasar Kartu Kredit 2014

Sabtu, 29/03/2014

Menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) pada 2014 diharapkan tidak terjadi melambatnya industri kartu kredit. Pertumbuhan transaksi kartu kredit pada 2014 diharapkan mencapai 15%. Angka yang ditargetkan tidak jauh dari target transaksi pada 2013, yakni sebesar 12%.

NERACA

General Manager Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI), Steve Martha, mengatakan pihaknya tidak menargetkan terlalu tinggi karena perlambatan ekonomi dan adanya pembatasan pemilikan kartu kredit yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI).

"Pembatasan kartu kredit tersebut sangat berpengaruh. Bank tangannya semakin terikat untuk mengeluarkan kartu," ujar Steve.

Sementara itu, AKKI menargetkan jumlah kartu yang beredar pada 2014 sebanyak 16 juta kartu. "Untuk jumlah kartu, kita tidak berani menargetkan terlalu tinggi," ujar dia. Untuk 2013, AKKI menargetkan jumlah kartu sebanyak 15,5 juta.

Indonesia juga akan menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) pada 2014. Steve mengatakan Pemilu biasanya tidak berpengaruh apapun terhadap penggunaan kartu kredit. Namun, ia berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk.

Sapti M Wahyudi, Kepala Divisi Kartu Kredit PT Bank Bukopin Tbk sebelumnya juga mengungkapkan optimisme, karena meski sepanjang dua tahun belakangan kinerja bisnis kartu kredit terkesan melambat, namun pada 2013 Bukopin masih mencatatkan pertumbuhan signifikan pada sektor tersebut.

Di industri perbankan sendiri, menurut Sapti, tahun ini jumlah kartu kredit yang diterbitkan oleh perbankan di Indonesia adalah sebanyak 17 juta kartu. Ditanya mengenai prospek secara umum di 2014 mendatang, dia yakin bisnis kartu oleh perbankan di Indonesia akan tetap bergairah.

Setidaknya terdapat beberapa sentimen yang mendorong optimisme itu. Pertama adalah kehadiran Citibank di bisnis kartu kredit sejak pertengahan tahun 2013 lalu. Perlu diketahui, Citibank sempat disanksi oleh Bank Indonesia (BI) dan dilarang menjalankan bisnis kartu kredit selama 2 tahun sejak 2011, sebagai respons atas meninggalnya nasabah kartu kredit Citibank, Irzen Octa."Citibank sekarang kan sudah bisa akuisisi lagi. Jadi tahun depan pasar akan jadi tambah ramai,” kata Sapti.

Peluang lainnya yang turut mendorong kinerja bisnis kartu kredit pada 2014, adalah banyaknya perbankan umum yang gencar berekspansi ke daerah, serta gencarnya upaya BI untuk mendorong terbentuknya less cash society.

Persaingan Kian Sengit

Persaingan bisnis kartu kredit sepertinya semakin sengit. Perbankan kini berlomba-lomba memperbesar jumlah pengguna kartu kredit, di tengah aturan Bank Indonesia (BI) yang mengharuskan nasabah berpenghasilan di bawah Rp 10 juta sebulan hanya boleh memiliki kartu dari dua penerbit.

Bank pun menggandeng prinsipal baru. Salah satunya Bank BNI, kemarin menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Japan Credit Bureau (JCB). JCB adalah penyedia jasa pembayaran kartu kredit asal Jepang, laiknya Visa dan MasterCard. JCB telah menerbitkan kartu kredit di 16 negara dengan total 79 juta pengguna.

Direktur Konsumer dan Ritel BNI, Darmadi Sutanto, mengatakan kolaborasi BNI dan JCB bakal tertuang dalam tiga skema.Pertama, di kuartal IV mendatang, BNI bakal merilis kartu kredit BNI dengan JCB sebagai prinsipal.

Kedua, kerja sama ATM agar pemegang kartu kredit berlogo JCB leluasa bertransaksi di seluruh jaringan ATM BNI.Ketiga, kerja sama mesin pembaca kartu atawaelectronic data capture(EDC). "Dalam tiga tahun mendatang, penerbitan kartu kredit BNI dan JCB ditargetkan mencapai 200.000," ujar dia.

Pangsa pasar yang bakal digarap BNI yakni ekspatriat, perusahaan, hingga wisatawan Jepang. Dodit W. Probojakti,General Manager Card CenterBNI, mengatakan saat ini nasabah Jepang yang tergabung di BNI saja sekitar 14.000 orang.