Budaya Serba Semu, Formalitas, dan Seolah-olah

Oleh: Prof Dr Imam Suprayogo, Mantan Rektor UIN Malang

Rabu, 26/03/2014

Siapapun sebenarnya tidak menyukai sesuatu yang hanya bersifat semu, formalitas, dan seolah-olah. Sebaliknya, orang menghendaki keaslian, sebenarnya, dan yang bersifat esensial. Akan tetapi suka atau tidak, dalam kehidupan sehari-hari, yang didapatkan justru yang hanya bersifat semu atau seolah-olah itu.

Lihat saja misalnya, sebuah bangunan yang tampak kokoh, ternyata beberapa bulan kemudian ambruk. Setelah diusut, banyak bahan bangunannya yang dipalsu. Daun pintu yang dikira kayu jati, ternyata hanya tiruan. Begitu pula betonnya, dibuat tidak menurut ukuran seharusnya, misal semennya dikurangi. Dalam kehidupan sehari-hari, sesuatu yang mudah dilihat saja bisa dipalsu, maka apalagi terhadap hal yang lebih rumit, misalnya tentang perilaku seseorang yang sangat mudah dibuat-buat, berubah-ubah, atau tampak bukan sebagaimana adanya.

Dalam musim kampanye seperti sekarang ini, rakyat dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah itu, ialah memilih di antara calon wakil dan juga presidennya yang benar-benar cakap, kuat, jujur, adil, dan mampu memperjuangkan kepentingan bangsa secara keseluruhan. Pilihan itu pada saat ini sedemikian banyak. Semua calon wakil dan presiden itu tampak baik dan menyatakan sanggup, tatkala nanti benar-benar terpilih, akan menjalankan tugasnya sebaik-baiknya.

Selain itu, semua calon berharap untuk dipilih. Akan tetapi di antara sekian banyak calon yang baik itu tentu ada yang terbaik. Mereka yang terbaik itulah yang seharusnya dipilih. Tentu, yang dimaksud terbaik adalah, terbaik secara lahir dan batinnya, atau luar dan dalam. Aspek luar dari para calon itu sudah bisa dilihat melalui foto-foto mereka yang dipasang di pinggir-pinggir jalan, di koran, di majalah, atau di televisi.

Melihat aspek luar terhadap seseorang sedemikian mudah, sekalipun kadang juga keliru, oleh karena yang tampak itu serba semu dan seolah-olah. Seolah-olah mereka cantik, tampan, dan gagah. Tidak mungkin seseorang yang gambarnya akan dipasang di tempat-tempat strategis, yang bersangkutan hanya tampil seadanya. Banyak orang, dalam hal tampil di muka publik, ternyata lebih memilih yang serba semu dan seolah-olah itu. Bahkan, agar lebih menarik dan dipercaya lagi, foto atau gambar mereka itu dijajarkan dengan tokoh terkenal. Tentu, hal itu tidak mengapa.

Kiranya, banyak orang, tatkala menentukan pilihan calon wakil dan presidennya bukan sekedar atas dasar foto mereka yang tampak gagah dan atau cantik yang dipasang di pinggir-pinggir jalan itu. Foto atau gambar-gambar itu telah dibuat yang sifatnya seolah-olah. Kiranya orang juga tidak peduli dengan foto-foto itu. Namun anehnya, semua calon melakukannya begitu, ialah menampilkan yang semu, sehingga artinya kesemuan atau seolah-olah itu masih saja ditampakkan. Cara itu mungkin dianggap tidak mengapa, tokh budaya hidup saat ini masih menyukai hal yang serba semu.

Melihat yang lahir atau yang tampak saja sudah sedemikian sulit, maka apalagi untuk memahami dari aspek yang bersifat batin. Tentu akan lebih sulit lagi. Tetapi sebenarnya, setiap orang telah memiliki track record atau jejak perbuatannya masing-masing. Jejak perbuatan itulah sebenarnya yang lebih tepat dijadikan alasan untuk dipilih.

Namun sayangnya, para calon wakil rakyat dan juga calon presiden tidak banyak yang menyebutkan prestasinya itu. Semua berjanji dan akan melakukan sesuatu. Ada di antaranya yang akan mensejahterakan buruh, petani, nelayan, guru, dan lain-lain. Selain itu, ada pula yang akan memberantas korupsi, berlaku disiplin, menggratiskan biaya sekolah, jujur dan juga akan berlaku adil. Rasa-rasanya belum banyak yang berusaha meyakinkan calon pemilih dengan menunjukkan prestasi yang telah mereka lakukan selama ini.

Padahal melihat kualitas seseorang, agar mendapatkan hal yang tidak semu, tidak formal, dan bukan seolah-olah, akan lebih tepat justru dari wajah belakang dan bukan dari depan. Apa yang tampak dari depan, umumnya yang serba semu, serba dipoles agar tampak indah, dan belum jelas. Sebaliknya melihat dari belakang, atau jelasnya, track record atau jejak perbuatan yang bersangkutan selama ini adalah merupakan gambaran yang riil, atau bisa dipercaya, dan yang sebenarnya. Sayangnya itu tadi, apa yang dibutuhkan itu tidak banyak orang yang memiliki, sehingga yang diperoleh adalah yang serba semu, formal, dan seolah-olah itu. Wallahu a’lam. (uin-malang.ac.id)