Pesta Demokrasi dan Hati Nurani

Oleh: Jenny Gichara, Pemerhati Masalah Pendidikan & Keluarga

Rabu, 26/03/2014

Pesta akbar rakyat (demokrasi) akan segera tiba di ambang pintu. Tahun ini Indonesia kembali melaksanakan pemilu dengan nuansa demokrasi. Berbagai kelompok partai sudah unjuk gigi sejak beberapa tahun lalu, dan tak ketinggalan dengan caleg yang bermodal sendiri.

Ada kampanye besar-besaran di berbagai kota hingga ke daerah-daerah dan memenuhi setiap jalan protokol. Poster para calegnya juga hampir memadati ruang di sepanjang jalan. Ada juga partai yang kampanyenya sedang-sedang saja alias poster calegnya hanya berjumlah separuh dari partai bermodal besar. Namun, ada pula partai yang terkesan malu-malu, bagai hidup segan, mati tak mau, yaitu dengan poster para calegnya yang hanya nyempil sedikit di ketiak jalan, kemudian tertutup oleh rimbunnya daun pepohonan. Bagaimana partai kecil seperti ini mampu menyuarakan hati rakyat?

Lalu, dengan berbagai cara, para caleg pun mulai melaju mempromosikan diri bersama janji semanis madu di awal kampanye. Misalnya, memasang baliho raksasa di jalan-jalan utama, mencetak jutaan copy poster, spanduk, bendera, dan membagi-bagikan flier (selebaran) kepada massa.

Tentu saja semua itu terlaksana bukan dengan tangan hampa alias kantong kosong, melainkan sampai merogoh kocek para caleg dan kubunya agar dapat ‘gol’ di panggung pesta rakyat nanti. Lihat saja kaum politikus, pengusaha, tokoh masyarakat, karyawan, kaum profesional, artis-artis yang kini lagi naik daun, semuanya memasang kubu dan ‘brand’ masing-masing agar terlihat wah dan dianggap memiliki capability serta terpercaya. Benarkah demikian?

Melihat besarnya jumlah dana yang mereka keluarkan, dua orang rakyat jelata (sebut saja Amin dan Burhan) langsung terbelalak, namun segera gigit jari. “Mana mungkin kita-kita ini punya kesempatan menjadi calon legislatif. Saya melihat bahwa para calon legislatif umumnya adalah orang yang sudah mapan dan telah mempersiapkan kocek sebelumnya. Artinya, ada dana, berarti ada kesempatan. Bila tidak, jadilah mereka sebagai penonton saja. Bagaimana dengan nasib saya yang hanya memiliki modal hati nurani yang murni,” tanya Amin.

“Hush. Nanti hati nurani Anda juga akan menjadi batu andai suatu saat terpilih, ”sergah Burhan.

“Mana mungkin. Tidak mungkin.”

“Kenapa tidak? Melihat peluang dan kemegahan yang menjanjikan di sana-sini, apakah hati nuranimu masih berbicara?”

“Bukan itu maksud saya. Yang mau saya katakan adalah bahwa orang yang akan duduk di kursi legislatif paling tidak harus memiliki modal awal. Bukan seperti saya.”

Lalu kedua tokoh itu manggut-manggut.

Hati Nurani

Memang tidak salah bila saat ini, sangat banyak orang mulai berkompetisi agar dapat duduk di kursi bergengsi selama hati nurani mereka murni berjuang untuk kepentingan rakyat. Dalamnya laut bisa diduga, dalam hati siapa yang tahu? Faktanya, dari sekian tahun negeri kita ini berdiri, seberapa banyakkah wakil rakyat yang jujur mendengar jeritan rakyat setelah duduk di lembaga perwakilan? Ingatlah, bahwa para wakil tidak akan duduk di kursi kebanggaan itu tanpa suara rakyat. Setelah berhasil, banyak wakil rakyat lupa kacang akan kulitnya. Mereka hanya sibuk mengurus agenda sendiri, sementara suara rakyat banyak terabaikan. Alhasil, rakyat tidak lagi percaya pada janji-janji manis yang pernah diucapkan para caleg di depan umum. Hati nuraninya sudah membatu ketika kesempatan sudah tiba di ambang pintu.

Status quo

Mempertanyakan hati nurani para calon legislatif masih terus berlangsung di pikiran kita hingga kini. Benarkah mereka datang untuk membawa pembaruan? Benarkah mereka hadir untuk mengubah nasib bangsa? Apakah mereka muncul untuk mensejahterakan rakyat atau sekadar memenuhi quota? Terlebih sekarang banyak selebritis merangsek masuk ke panggung politik. Tidak peduli punya kemampuan berpolitik atau tidak, yang penting nyaleg karena sudah punya nama. Tanpa menyepelekan kemampuan, sekali lagi, benarkah hati nurani mereka murni membawakan suara rakyat atau sekadar mempertahankan status quo yang nyaman, tenteram, borju, karena telah terbiasa hidup dengan gelimangan uang? Ini akan menjadi PR kita bersama.

Hidup dalam zona nyaman (comfort zone) merupakan salah satu keinginan manusia. Dalam ilmu ekonomi, mungkin kita pernah mendengar tingkat kepuasan hidup manusia. Bila manusia terbiasa hidup dengan foya-foya, mereka akan cenderung mempertahankan gaya hidup seperti itu karena sulit sekali dilepaskan. Bila manusia sudah terbiasa memegang banyak uang, ia cenderung meraup uang lebih banyak lagi untuk memenuhi kepuasannya karena sesungguhnya manusia tidak ingin hidup susah.

Sekarang, kita kembali mempertanyakan motivasi para caleg dan selebritis untuk duduk di perwakilan rakyat. Hanya mereka yang tahu. Benarkah mereka tulus menyuarakan hati rakyat? Apakah itu sudah benar-benar teruji? Bagaimana panitia mengukur kredibilitas mereka?

Dalam pemilu mendatang, rakyat tentu ingin sekali memiliki wakil yang teguh berdiri membawa suara mereka dan memihak pada mereka supaya tali aspirasi itu tidak terputus ketika para calon terpilih dan masuk ke gedung parlemen. Rakyat merindukan pesta pemilu kali ini benar-benar berbeda dan menghadirkan wakil yang sungguh dipercaya, disiplin, bijaksana, dan takut akan Tuhan sehingga tidak perlu lagi diseret ke pengadilan karena diserempet korupsi.

Wajib ‘Melek’ Politik

Banyak rakyat meragukan kemampuan politik para selebritis kita. Kenyataan membuktikan bahwa kedudukan kaum selebritis di kursi empuk biasanya hanya sebagai pelengkap dan pemanis saja. Umumnya, mereka bisa menang karena popularitas saja, bukan karena kinerja. Saya terheran-heran melihat sebuah poster caleg dengan latar belakang superman dan batman. Apa maksud sang caleg ini? Jangan jadikan panggung politik sebagai panggung hiburan dan berkesan main sinetron. Jutaan rakyat jelata menunggu perubahan nasib yang tidak akan terjawab dengan kehadiran pahlawan fiktif superman dan batman seperti itu. Betapa menyedihkannya suatu negara yang carut-marut dengan politik akan dipimpin oleh seorang tokoh yang hanya mengutamakan kesenangannya sendiri. Mau jadi apa negara ini dengan wakil rakyat yang tidak sehat? Itukah kharisma yang ditampilkan kaum selebritis berbaju wakil rakyat?

Selain menyorot kehadiran para caleg, rakyat sebaiknya belajar atau diberikan pendidikan politik yang memadai agar tidak sembarang memilih calon wakilnya atau ikut-ikutan karena diiming-imingi uang. Yakinkan diri Anda memilih calon wakil rakyat yang tepat, capable, smart, bersih, disiplin, visioner, dan bertanggung jawab dengan tidak jual tampang, ketenaran, tanpa bisa berbuat apa-apa. Lembaga perwakilan kita hendaknya tidak tidak diisi oleh wajah-wajah manis dan tampan yang hidup glamour, namun dalam waktu sekejap sudah tersiar oleh kasus suap dan korupsi.

Singkat kata, rakyat jangan terkecoh dengan sosok penampilan dan harta seorang caleg. Kita membutuhkan wakil yang rela memperjuangkan nasib rakyatnya dan mengisi panggung politik dengan tindakan nyata untuk mengubah bangsa, bukan menyelesaikan persoalan negara di atas panggung sandiwara dan sinetron.

Negara kita ini sudah sangat terpuruk di berbagai bidang. Jangan tambah lagi dengan persoalan calon legislatif yang tidak kompeten di bidangnya sehingga hanya menambah lelucon dunia luar. Artinya, bila para caleg ingin maju di panggung politik, majulah dengan cara elegan. Persiapkan pundi Anda dan sudah tentu satu paket dengan ilmu pengetahuan Anda. Janganlah Anda menjadi caleg cemoohan rakyat karena tidak bisa menjawab pertanyaan politis seorang awam di depan umum. Coba tanyakan kembali hati nurani dan motivasi Anda, siapkan diri dengan kemampuan politik yang mapan, antusiasisme, disiplin, proaktif, dan mengetahui persoalan bangsa yang sesungguhnya, Yang lebih penting lagi adalah kredibilitas iman Anda, yaitu takut akan Tuhan sehingga Anda menyadari bahwa Tuhan selalu mengontrol perbuatan Anda setiap saat. (analisadaily.com)