Minimalisir Dampak Game Online Pada Anak

Semarak

Sabtu, 29/03/2014

NERACA

Anak-anak zaman sekarang tak asing lagi dengan gadget dan teknologi. Tinggal sebut saja, entah itu komputer PC, tablet, hingga beraneka jenis smartphone yang dimiliki orangtua, pasti sudah ”khatam” diutak-atik oleh mereka. Untuk apa lagi kalau bukan untuk menjajal beraneka macam game seru yang tersedia online, baik yang bisa diunduh gratis maupun yang berbayar.

Seringkali anakmenyukai jenis game yang melibatkan kekerasan, seperti perang-perangan, bela diri, dan sebagainya. Alhasil, efek samping dari kecanduan game online dari jenis ini dapat mengganggu perkembangan kejiwaan anak di masa depan.

Disamping terpicunya agresivitas anakdan terkikisnya empati si kecil terhadap orang lain, mereka lebih cenderung individualistis kurang menyukai kegiatan bersama anak seusianya. Ya, lantaran banyak menghabiskan waktu untuk bermain dengan mesin (bukan manusia), anak bisa merasa canggung dan kurang nyaman kala datang kesempatan untuk bergaul dengan temannya.

Menanggapi hal tersebut, beberapa waktu lalu Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Psikologi Pendampingan Anak (UKMFP PENA) bersama Komunitas Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Katolik Atmajaya menggelar serangkaian acara Sehari Bermain Bersama Anak (Semarak), di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta

“Anak-anak sekarang lebih suka bermain game. Itu menyebabkan mereka indvidualistis, kurang terampil berinteraksi dengan sesamanya di masyarakat. Sehari bermain bersama merupakan salah satu solusi yang kami tawarkan," kata ketua acara program Semarak Unika Atmajaya, Sarlito Priyadi

Ratusan anak dari berbagai jenjang usia, berkumpul dan bermain bersama di salah satu pelataran depan Bundaran HI. Mereka bermain ketrampilan memasukkan bola pingpong ke dalam gelas plastik, membawa umbul-umbul dan aneka balon, bernyanyi bersama seraya bergandengan tangan.

Dengan menggelar acara sehari bermain bersama anak, orangtua diingatkan akan pentingnya manfaat mengajak dan mendorong anak-anaknya bermain di alam bebas. Berbagai permainan yang pernah orangtua alami dan jalani ketika mereka masih seusia anak-anak, antara lain petak umpet, bola kasti, main kelereng, main gasing.

Dengan kampanye Semarak, sambung Sarlito, orangtua diajak untuk ingat kembali masa-masa kecil mereka kemudian menularkannya kepada anak-anaknya.

"Orangtua antusias setelah melihat program kampanye kami ini. Mereka kemudian ingat, bahwa dulu mereka bermain seperti itu," kata Sarlito.

Dalam kampanye Semarak itu, warga masyarakat yang melintas di Bundaran HI juga diminta membubuhkan tandatangannya sebagai bentuk dukungan akan pentingnya hak bermain bagi anak dalam masyarakat Indonesia.

"Kegiatan ini akan terus bergulir, skalanya akan kami perbesar," kata Sarlito menegaskan.

Sebelum menggelar kampanye Semarak di bundaran HI, UKMFP PENA yang juga juga melakukan pendampingan rutin seminggu sekali di Rumah Singgah Antonius Padua, Senen dan Rumah Singgah Home of Prolife, Matraman, Jakarta, telah mengadakan acara di Jurank Doank, Ciputat bersama pegiat anak-anak Dik Doank. Acara-acara yang digelar antara lain bermain di alam bebas dengan prasarana outbound.