Kuliah Daring

Hapus Disparitas Kualitas Pendidikan Tinggi di Indonesia

Sabtu, 29/03/2014

Pengembangan sistem pengajaran daring (online) dipandang penting untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Saat ini, ada perguruan tinggi yang memiliki dosen dan bahan ajar berkualitas, sementara sebagian lainnya tidak. Sistem perkuliahan daring menjadi jembatan bagi insan perguruan tinggi untuk saling berbagi materi bahan ajar.

NERACA

Dengan perkembangan Teknologi Informasi (TI) secepat yang terjadi dewasa ini, hampir tidak ada bidang yang tidak dirambahnya, tidak terkecuali di dunia pendidikan tinggi. TI tidak hanya berguna untuk hal-hal yang memang secara langsung mengeksploitasi potensi teknologi, tapi juga mendorong munculnya cara-cara baru dalam melakukan pekerjaan atau kegiatan belajar mengajar.

Seperti contoh riil dalam pemanfaatan TI di bidang pendidikan yaitu sistem perkuliahan dengan menggunakan metode kelas daring (online). Kelas daring merupakan proses belajar mengajar melalui jaringan online tanpa bertatap muka secara langsung. Adapun sistem pembelajaran ini memudahkan mahasiswa untuk belajar dimanapun dia berada. Ini adalah bukti riil bahwa teknologi informasi sangat berguna dalam bidang pendidikan.

"Pemanfaatan TI bisa mencakup banyak aspek. Khusus pendidikan tinggi, TI dimanfaatkan mulai dari peningkatan akses, peningkatan kualitas, hingga peningkatan tata kelola,” tutur Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh di Jakarta belum lama ini.

Mulai April, kuliah jarak jauh model ini akan menjadi pengalaman baru bagi mahasiswa. Pasalnya, dengan program kuliah daring memungkinkan mobilitas yang tinggi di kalangan mahasiswa. Mahasiswa di Universitas Gajah Mada, misalnya, bisa mengikuti mata kuliah di Institut Teknologi Sepuluh November. Dengan demikian, mahasiswa memiliki wawasan yang lebih.

Menekan Disparitas Kualitas Pendidikan

Penyebaran geografis lembaga pendidikan tinggi unggulan di Indonesia tidak merata. Berbagai perguruan tinggi terkemuka dipusatkan berada di pulau Jawa, sehingga masyarakat yang berada di pulau lain harus meninggalkan kampung halamannya demi melanjutkan pendidikan tinggi

Demi menekan disparitas kualitas pendidikan tinggi di setiap daerah, TI dapat dimanfaatkan untuk memperluas akses bagi seluruh universitas di Indonesia. Ini adalah misi untuk mewujudkan persamaan kesempatan (equal opportunities) atau “TI untuk semua“.

Bagaimana tidak? Dengan daya penetrasinya yang sangat tinggi, TI dapat menjangkau pihak-pihak bahkan yang paling jauh dan terpencil sekalipun. Sehingga perluasan akses informasi dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pembelajaran yang lebih merata, efektif, dan berkualitas.

Kemampuan inilah yang dimanfaatkan untuk memperluas akses komunikasi dan menyebarkan informasi ke pihak-pihak yang sebelumnya tidak bisa menikmatinya.

Lebih lanjut Mendikbud menuturkan, dengan sistem ini seluruh mahasiswa bisa mendapatkan materi kuliah yang sama, meski kuliah di pendidikan tinggi yang berbeda.

“Selain mobilitas yang tinggi, kulih daring bisa menekan disparitas kualitas pendidikan tinggi di setiap daerah. Mahasiswa di daerah, bisa ikut belajar dari universitas-universitas besar seperti ITB, UI, UGM, dan lain sebagainya. Rencana jangka panjang, sistem kuliah daring ini tidak hanya dikembangkan untuk menghubungkan antar universitas di Indonesia saja,” papar Mendikbud

Sistem ini, sambung Mendikbud, juga akan dikembangkan untuk menghubungkan universitas Indonesia ke universitas lain di luar negeri yang sudah memiliki sistem daring juga. Sedangkan untuk pendidikan dasar, sistem daring tidak digunakan untuk peningkatan akses. Karena konsep tatap muka di pendidikan dasar masih diandalkan. Tapi untuk urusan tata kelola, maka pemanfaatan IT bisa diterapkan.

"Tatap muka untuk pendidikan dasar lebih diandalkan karena terkait dengan pembentukan kepribadian, dimana guru menjadi panutan," kata Mendikbud.

Lantas bagaimana cara mengikuti kuliah daring ini?

Teknis pelaksanaannya adalah dengan cara mendaftar terlebih dahulu untuk mengikuti perkuliahan online di universitas yang dipilih. Materi perkuliahan nantinya bisa diunduh dalam situs web dan akan mendapatkan nilai yang sama dengan mahasiswa yang hadir langsung. Nilai ini tentunya juga berlaku di universitas asal mahasiswa tersebut.