Pentingnya Menghemat Air Untuk Masa Depan

Diperkirakan Tahun 2025 Terjadi Krisis Air

Sabtu, 29/03/2014

NERACA

Penggunaan air dalam kegiatan rumah tangga sehari-hari merupakan salah satu faktor yang menyebabkan akan terjadinya krisis air bersih di Indonesia pada tahun 2025. Disebutkan bahwa kegiatan mencuci pakaian adalah pemakaian air terbesar kedua setelah keperluan mandi.

“Salah satunya kegiatan mencuci baju yang menghabiskan hingga 30% konsumsi air dalam rumah tangga secara keseluruhan. Dari jumlah tersebut, 30% digunakan untuk mencuci sedangkan 70% digunakan untuk pembilasan. Harus ada perubahan perilaku menghemat air sesegeranya demi menyelamatkan kehidupan generasi mendatang,” ujar Pauline Liongosari, brand manager Molto PT Unilever Indonesia, Tbk.

Menurutnya pemakaian air rata-rata rumah tangga di perkotaan di Indonesia untuk golongan ekonomi menengah ke bawah adalah 169,11L/orang/hari sedangkan untuk golongan ekonomi menengah ke atas adalah 247,36L/orang/hari untuk kegiatan sehari-hari (mencuci tangan, menggosok gigi, mandi, toilet, mencuci baju, mencuci piring, memasak, menyiram tanaman, dan mencuci kendaraan).

Pendiri dan Ketua Indonesia Water Institute, Firdaus Ali mengatakan, kondisi air bersih di Indonesia, sebenarnya, sejak tahun 2000 telah terjadi kelangkaan air bersih di beberapa kawasan di Indonesia. Data memperlihatkan bahwa Pulau Jawa telah mengalami defisit air sebesar 2,809 miliar, Sulawesi 9,232 miliar, Bali 7,531 miliar dan NTT 1,343 miliar.

“Di Jakarta sendiri, sampai tahun 2013 cakupan layanan air bersih baru mampu menjangkau sekitar 38% dari total jumlah populasi (10,1 juta jiwa). Jika sepersepuluh dari warga Jakarta dapat mengubah perilakunya untuk menghemat air, maka dapat bantu memperlambat laju krisis air,” tuturnya.

Menurutnya ibu berperan besar dalam mengajarkan perilaku penggunaan air secara optimal demi kelestarian air untuk masa depan generasi mendatang yang lebih cerah. Lebih dari itu, menghemat air juga secara langsung dapat mengurangi pengeluaran rumah tangga. Ibu dapat mulai mengubah perilaku keluarga dalam penggunaan air bersih dari sekarang secara optimal melalui 3P: pengurangan, penggunaan kembali dan pelestarian air.

Riyanni Djangkaru, yang juga pecinta lingkungan menjelaskan, melestarikan air untuk kehidupan anak di masa depan dapat dimulai perlahan dalam keseharian. Ibu sebagai penggerak rumah tangga dituntut untuk menjadi panutan keluarga agar langkah kecilnya dalam menghemat air mudah ditiru dan diikuti oleh anggota keluarga yang lain. Banyak hal yang dapat dilakukan untuk menghemat air melalui 3P.

“Di rumah, saya membiasakan menggunakan hanya satu gayung air dan waslap saat mandi untuk mengurangi penggunaan air, menampung air hujan agar dapat digunakan kembali untuk menyiram tanaman, serta membuat lubang resapan biopori atau menanam tanaman yang mampu menyimpan banyak air,” tutur Riyanni Djangkaru.

Ketika ketersediaan air bersih ini semakin terbatas, maka dibutuhkan upaya pengendalian kebutuhan dan konsumsi oleh semua lapisan masyarakat. Unilever mempunyai visi untuk melipatduakan bisnisnya namun secara bersamaan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan hingga setengahnya serta meningkatkan dampak positif terhadap kehidupan masyarakat dengan menjalankan strategi bisnis yang disebut dengan Unilever Sustainable Living Plan (USLP).