BRI Janji Tak Menaikkan Bunga KUR

Suku Bunga Acuan Tetap Tinggi

Selasa, 25/03/2014

NERACA

Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk berjanji tidak akan menaikkan suku bunga pinjaman nasabah, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang mendapatkan dana dari program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Kebijakan ini dipertahankani meski suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate selama lima bulan masih bertahan di level 7,5%.

Direktur Utama BRI, Sofyan Basir, mengatakan kebijakan internal perusahaannya yang tidak akan menaikkan bunga pinjaman KUR merupakan kebijakan final karena 70% pertumbuhan kredit BRI disokong dari sektor mikro. "Meskipun BI Rate masih tinggi, bunga KUR masih tetap sama yaitu dikisaran 0,8%-0,9%. Kami berjanji tidak akan menaikkan (bunga KUR)," ujarnya di Jakarta, Senin (24/3).

Sofyan menilai kebijakan tidak menaikkan bunga pinjaman KUR ini jelas tidak merugikan perseroan. Justru, lanjut dia, net interest margin (NIM) BRI awal tahun ini tercatat tumbuh 8,5%. Kendati demikian, Sofyan mengakui tetap ada penyesuaian ketika BI Rate masih bertahan tinggi. Yaitu kenaikan bunga pinjaman akan dikenakan kepada nasabah segmen korporasi.

"Itu pun telah dijalankan sejak Januari 2014. Untuk korporasi kami menaikkan (bunga pinjaman) 1% di awal tahun ini. Jadi kami berbagi (beban) sama nasabah. Kalau SBI naik 2% kami naik 1%. Ini masih menguntungkan (bagi BRI)," jelas Sofyan.

Pada tahun ini, BRI masih merancang beberapa strategi ekspansi bisnis baik organik maupun anorganik. Dengan BI Rate tinggi, direksi masih optimis pertumbuhan kredit mikro mencapai 22%. Adapun untuk KUR, tahun ini BRI akan menyalurkan Rp19 triliun dana usaha kepada pengusaha kecil.

Pemerintah telah menarget penyaluran KUR lewat bank-bank mitra pada 2014 bisa mencapai Rp37 triliun, atau meningkat Rp1 triliun dibanding 2013 yang sebesar Rp36 triliun. Kredit macet (nonperforming loan/NPL) sejauh ini di bawah 5%. Mekanisme pengucuran juga tetap sama, bila KUR digunakan buat modal kerja, maka besaran maksimumnya Rp500 juta, sementara untuk pengembangan atau kredit ekspor mencapai Rp2 miliar.

Di sisi lain, Bank Indonesia sejak krisis ekonomi singkat pada Juni 2013, telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 175 basis poin (bps). Kondisi tersebut menyebabkan likuiditas perbankan mengetat, dan beberapa mengerek bunga pinjaman yang membebani nasabah. Terakhir, BI menaikkan BI Rate hingga bertahan pada posisi 7,5% pada Desember 2013 lalu. Salah satu alasan bank sentral saat itu adalah untuk mengendalikan inflasi dan defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD). [agus]