Norwegia Siap Investasi Migas di Indonesia

Selasa, 25/03/2014

NERACA

Jakarta – Salah satu perusahaan minyak dan gas asal Norwegia Stat Oil tengah menjajaki investasi migas di Indonesia. Hal tersebut seperti diungkapkan Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Edy Hermantoro di Jakarta, Senin (24/3).

Menurut dia, minat investasi perusahaan tersebut adalah untuk mencari sumber minyak yang berada di laut Indonesia. “Itu salah satu kerjasama yang sudah lama, konteks ini sudah tujuh kali, kita sudah merealisasikan stat oil mau datang, mereka tetap komit menginvestasi di Indonesia,” kata Edy.

Edy melanjutkan, untuk melancarkan aksi pencarian minyak di laut dalam Indonesia, setidaknya disiapkan terlebih dahulu dana investasi sekitar US$100 juta. Itu pun masih dana investasi minimum untuk melakukan pencarian minyak di laut dalam Indonesia. “Laut dalam kan US$100 juta minimum kalau mau ngebor,” tambahnya.

Tidak hanya itu menjelaskan mengenai komitmen investasi perusahaan asal Norwegia tersebut, Edy juga menuturkan bahwa pemerintah Indonesia dan Norwegia tengah membicarakan penyelesaian proyek mini dan medium gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG). "Kita relaksasikan tahun ini, minimum sudah jalan, kemarin saja sampah jadi LNG," tuturnya.

Investasi Meningkat

Sebelumnya, Satuan Kerja Khusus Unit Pelaksana Kegiatan Hulu Migas (SKK Migas) menargetkan investasi sektor hulu migas tahun ini sebesar US$25,64 miliar. Sebagian besar investasi tersebut dialihkan ke sektor produksi. SKK Migas memerinci, investasi tersebut digunakan untuk kegiatan eksplorasi sebesar US$3,84 miliar, administrasi US$1,6 miliar, pengembangan US$5,3 miliar, dan produksi US$14,9 miliar.

Rencana kegiatan yang akan dilakukan antara lain, survei seismik dua dimensi (2D) sepanjang 9.020 km, seismik tiga dimensi (3D) seluas 11.633 km persegi, pengeboran sumur eksplorasi sebanyak 205, pengembangan 1.364 sumur, kerja ulang (work over) sebanyak 932 sumur, dan perawatan sumur (well services) sebanyak 33.060.

Jumlah ini sesuai pembahasan rencana kerja dan anggaran (work program and budget/WP&B) antara Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama dengan kontraktor kontrak kerja sama (Kontraktor KKS). “Naik 32% jika dibandingkan realisasi investasi 2013 yang sebesar US$19,34 miliar,” kata Pelaksana Tugas Kepala SKK Migas, J. Widjonarko.

Adapun realisasi investasi 2013 yakni untuk kegiatan eksplorasi sebesar US$1,87 miliar, administrasi US$1,19 miliar, pengembangan US$4,30 miliar, dan produksi US$11,96 miliar. Investasi di sektor hulu migas menunjukkan tren meningkat beberapa tahun terakhir. Pada 2010, investasi tercatat US$11,03 miliar, 2011 naik menjadi US$13,98 miliar, dan meningkat lagi US$16,54 miliar pada 2012. “SKK Migas mendorong peningkatan investasi, khususnya pada kegiatan eksplorasi untuk penemuan cadangan baru,” kata Widjonarko.

Dalam APBN 2014 ditargetkan lifting minyak sebanyak 870.000 barel per hari dan lifting gas bumi 7.175 juta british thermal unit per hari (bBtud). Jumlah tersebut setara 2.110.000 barel ekuivalen minyak per hari. Target penerimaan negara dari penjualan migas tersebut sebesar US$30,6 miliar. Target produksi migas dari pemerintah ini lebih tinggi ketimbang hasil pembahasan WP&B 2014 yang memperkirakan lifting minyak 804.000 barel per hari dan gas bumi sebesar 6.853 bBtud. “Gap target produksi ini menjadi tantangan industri migas pada 2014,” kata Widjonarko.

SKK Migas menyiapkan beberapa langkah untuk menyiasati tantangan yang dihadapi. Pertama, mengatasi masalah gangguan operasi. Upaya yang dilakukan dengan mengurangi kegagalan operasi produksi dan pengeboran untuk mendapat tambahan produksi serta fasilitasi penyelesaian masalah proyek.

Kedua, mengurangi penghentian produksi yang tidak direncanakan (unplanned shutdown). Langkah yang dilakukan antara lain, evaluasi detail atas rencana pemeliharaan fasilitas produksi dan meningkatkan pengawasan fasilitas produksi.

Ketiga, mengatasi decline rate yang tajam dengan memastikan jadwal pengeboran sumur pengembangan tepat waktu dan optimalisasi proses pengembangan. Keempat, mengatasi kendala pembebasan lahan dan perizinan.

Caranya, SKK Migas akan terlibat langsung dalam proses pembebasan lahan, jadwal pembebasan lahan diupayakan tepat waktu, serta mengupayakan dan mendorong terus penyelesaian Service Level Agreement (SLA) terkait perizinan.

Terakhir, mengatasi kendala pengadaan dengan pemutakhiran proses bisnis dalam pengadaan dan meningkatkan akuntabilitas serta tata kelola yang baik. “Jika langkah-langkah tersebut berjalan baik, ditambah upaya kontraktor mengoptimalkan produksi minyak di sejumlah lapangan, mudah-mudahan produksi minyak berada di kisaran 830-840 ribu barel per hari,” kata Widjonarko.