Kalibrasi Kinerja Obligasi

Oleh : Tumpal Sihombing

Founder and CEO BondRI

Figur total utang domestik terhadap PDB masih relatif aman dibanding Yunani apalagi Jepang. Dengan total utang sebesar 150% lipat dari nilai PDB dan tingkat pengangguran melebihi figur 26%, tak heran perekonomian Yunani default. Jepang sebenarnya lebih parah, sebab total utang sudah melebihi 200%. Namun negeri matahari terbit ini masih tetap survive dengan peringkat investment tertinggi. Mengapa bisa ? Penjelasan gamblang adalah sebagai berikut: Yunani adalah seorang pengangguran yang mengandalkan kartu kredit untuk hidup, sementara Jepang bagai seorang pekerja keras dan produktif dan bahkan kartu kreditnya lebih jor-joran lagi. Sebagai informasi, tingkat pengangguran Jepang sangat rendah. Esensinya, “jika elemen sumber daya negara masih produktif dan sustain, maka utang negara dan korporasi masih dapat teratasi.“

Perihal utang, bukan perihal besar-kecil jumlah total utang yang menjadi concern, atau besarnya rasio total utang terhadap PDB. Pertimbangan utamanya adalah, bagaimana suatu negara dapat konsisten membaik dalam peringkat dan kredibilitasnya.

Ada tiga hal utama yang urjen menjadi pusat perhatian perumus kebijakan/pelaku pasar /investor dalam mempertahankan tingkat kredibilitas kredit nusantara di 2014 ini, yaitu kemampuan issuer dalam pelunasan. Selain informasi peringkat, para calon investor sebaiknya dibekali juga dengan informasi umum yang bersifat kuantitatif. Salah satu informasi yang sangat prinsip adalah rasio antara net earning terhadap nilai kewajiban pembayaran bunga sang issuer. Semakin besar rasio ini, semakin tinggi tingkat keyakinan calon investor dalam melakukan investasi.

Selanjutnya, efektivitas jenis obligasi yang di-emisi. Kategori obligasi sangat beragam, ada yang dibedakan berdasarkan issuer, struktur, atau tenornya. Dalam hal terkait tenor, durasi obligasi menjadi faktor utama. Durasi adalah jangka waktu efektif dari suatu obligasi. Semakin pendek durasi, semakin baik di mata investor. Obligasi korporasi domestik secara rata-rata masih di atas 6 tahun, lebih tinggi daripada obligasi pemerintah sebesar 5 tahun. Figur ini dapat menjadi acuan yang mudah bagi para investor dalam memilih obligasi berdasar tenor secara pruden. Sementara di sisi yang berbeda, informasi ini dapat meningkatkan tingkat keyakinan para calon emiten dalam memilih jenis tenor yang efektif dan bakal terserap banyak nantinya.

Dan terakhir, immunisasi nilai portofolio. Suku bunga pasar terus mengalami dinamika. Sebagai konsekuensi logis, nilai portofolio obligasi yang dimiliki oleh investor juga akan mengalami perubahan. Imunisasi adalah upaya menghilangkan dampak perubahan suku bunga terhadap nilai portofolio asset under management (AUM). Ini merupakan suatu bentuk best practice yang dapat memitigasi risiko investor dalam memegang obligasi.

Penambahahan volume outstanding surat berharga tidak seharusnya menjadi masalah. Namun jika partisipan pasar tak dibekali dengan ketiga hal di atas, itu adalah ciri sikap yang overconfident. Dalam perjalanan sejarah pasar modal, tak jarang terjadi bahwa sikap overconfident adalah investasi bom waktu.

Jika basis ukuran sukses penilaian emisi obligasi adalah besarnya tingkat penyerapan, maka sudah pasti ada kekeliruan mispersepsi di tingkat perumus kebijakan dan pelaku pasar.

BERITA TERKAIT

Refinancing, WSKT Rilis Obligasi Rp 3,5 Triliun

NERACA Jakarta - Refinancing pinjaman, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) berencana untuk menerbikan obligasi senilai Rp 3,5 triliun pada semester…

Bank Capital Terbitkan Obligasi Rp 250 Miliar

Perkuat likuiditas dalam menunjang ekspansi bisnis, PT Bank Capital Indonesia Tbk (BCAP) berencana untuk melaksanakan penerbitan obligasi subordinasi Bank Capital…

Refinancing, LPKR Rilis Obligasi US$ 75 Juta

Refinancing atau lunasi utang, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) bakal menerbitkan obligasi senior atau senior note dalam mata uang dollar…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

OTT Lagi

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo   Menjelang lebaran lalu KPK kembali melakukan OTT untuk…

THR, Gaji 13 dan APBN - Oleh : Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Masih percaya dengan Menkeu Sri Mulyani yang bolak-balik menyatakan APBN dikelola dengan prudent? Kisah anggaran Tunjangan Hari Raya (THR) dan…

Memupuk Pertumbuhan Kredit

  Oleh: Nailul Huda Peneliti INDEF   Kinerja penyaluran kredit pada April 2018 mengalami perbaikan lebih baik daripada akhir tahun…