Capital Inflow Belum Bisa "Dibendung"

Terkait Kenaikan Batas Utang AS

Rabu, 03/08/2011

Terkait Kenaikan Batas Utang AS

Capital Inflow Belum Bisa Dibendung

Jakarta---Disetujuinya kenaikan batas utang Amerika Serikat (AS) sebesar USD2,1 triliun dalam tiga tahap oleh Kongres belum mampu menahan derasnya aliran modal asing ke Indonesia. Intinya, capital inflow masih tetap deras. "Khususnya Indonesia masih akan tetap besar. Karena yield SBN Rupiah relatif lebih tinggi dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cenderung menguat," kata Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto kepad wartawan di Jakarta, Selasa (2/8)

Lebih jauh kata Rahmat, kenaikan batas utang (debt deal) hanyalah sebagai strategi dan upaya pemerintah AS guna menghindari gagal bayar (default) sebagai imbas dari tekanan China dan Jepang. Dua negara itu merupakan pemegang US Treasury atau surat utang terbesar AS. Tapi yang jelas, ini belum menyelesaikan masalah fiscal. “Namun diperkirakan tidak membantu penyelesaian fiskal problem,” ungkapnya.

Yang jelas, lajut Rahmat, kesepakatan batas utang AS tersebut juga tetap menyisakan problem jangka panjang, misalnya terkait pengangguran dan pertumbuhan ekonominya. “Unemployment dan growth dalam jangka panjang karena akan ada pemotongan anggaran (spending cut) yang cukup signifikan dalam 10 tahun dan tidak ada tax increase," terangnya.

Dengan demikian, kata Rahmat, kemungkinan besar AS tetap menahan suku bunga The Fed (Fed Fund rate) cukup rendah, di mana imbasnya aliran dana asing (capital inflows) masih akan mengalir deras ke negara berkembang (emerging markets). Hal itu, kata dia, dibuktikan dengan pasar sekunder SBN yang masih tetap bullish. "Minggu lalu yield SUN 10 tahun sebesar 7,2% dan kepemilikan asing sudah tembus 35%dan cenderung meningkat," imbuhnya.

Hal yang sama dikatakan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa yang menilai para investor lebih memilih melakukan investasi pada negara berkembang ketimbang pada AS maupun Australia. Pasalnya, meskipun debt deal terjadi namun secara fundamental belum menyelesaikan masalah fiskal AS. "Dana akan tetap mengalir ke emerging country,” cetusnya.

Alasanya, kata Hatta, situasi ekonomi Eropa dan AS belum kondusif. Sehingga tak menarik bagi investor. “Akan terus berjalan karena situasi di Eropa dan Amerika belum begitu menjanjikan dibandingkan dengan negara berkembang (emerging)," jelasnya.

Dia melanjutkan, saat ini emerging market seperti Indonesia jauh lebih menarik, baik bunga utang maupun dari suku bunga yang ditawarkan. "Seperti kita kan, orang bisa liat, yield jauh lebih baik dibandingkan dengan Amerika dan Eropa, interest rate, bunga bank (AS dan Eropa) tidak akan lebih menarik dari negara-negara emerging," tuturnya.

Namun, Hatta yakin dengan terjadinya debt deal ini maka memberikan sinyal positif bagi perekonomian dunia. "Ini semua permulaan yang sangat baik dan akan berikan satu sentimen yang positif ke depan," tandasnya.

Disetujuinya kenaikan pagu utang AS membawa sentimen positif di Pasar Asia. Hal ini membuat mata uang rupiah menguat di level Rp8.481. Rupiah menurut kurs Bank Indonesia (BI) Selasa (2/8/2011) menguat tipis dan berada di level Rp8.460 per USD dibanding dengan periode sebelumnya Rp8.481 per USD.

Sementara itu, berdasarkan pantauan di lapangan, rupiah berada di level Rp8.472 per USD dengan kisaran perdagangan harian berada di Rp8.452-Rp8.467. sementara itu, euro berada di level 1.4180 per USD dan yen berada di level 77.3750 per USD.

Menurut samuel sekuritas, Setelah cukup menegangkan dalam sepekan terakhir, AS akhirnya setuju menaikkan pagu utang senilai USD2,1 triliun dengan imbangan pemotongan anggaran sebesar USD2,4 triliun dalam 10 tahun. Pasar AS merespon negatif karena di saat yang sama diperkirakan penjualan mobil stagnan. **cahyo