Microsoft Kampanye Perangi Software Bajakan dan Pencurian Data

Sabtu, 29/03/2014

Perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik (APAC) diperkirakan akan menghabiskan hampir US$230 miliar pada 2014 untuk mengatasi masalah yang diakibatkan oleh malware yang sengaja dimasukkan ke dalam software bajakan - US$59 miliar untuk mengatasi masalah keamanan dan US$170 miliar untuk mengatasi pembobolan data, demikian menurut studi gabungan yang dilakukan oleh IDC dan National University of Singapore (NUS). Di sisi lain, konsumen di kawasan APAC, akan diperkirakan menghabiskan US$11 miliar pada tahun ini karena ancaman keamanan dan perbaikan komputer yang mahal karena adanya malware pada software bajakan.

Studi dengan judul “The Link Between Pirated Software and Cybersecurity Breaches,” juga mengungkapkan, 65 persen dari konsumen di Asia Pasifik yang disurvey, mengatakan ketakutan terbesar mereka dari software yang terinfeksi adalah kehilangan data, file atau informasi pribadi, diikuti oleh transaksi internet yang illegal (48 persen) dan potensi pencurian identitas (47%). Meskipun demikian, 41% dari responden yang sama tidak menginstal security updates, membiarkan komputer-komputernya terbuka untuk diserang oleh para pelaku kejahatan dunia maya.

Pejabat-pejabat pemerintah menyatakan keprihatinannya tentang potensi dampak ancaman keamanan dunia maya kepada negara mereka. Menurut survey, pemerintah di Asia Pasifik paling mengkhawatirkan tentang akses ilegal ke informasi penting pemerintahan (57%), dampak dari serangan cyber pada infrastruktur yang kritis (56%), dan kehilangan rahasia bisnis perdagangan atau informasi kompetitif (55%). Diperkirakan, pemerintahan di dunia bisa mengalami kerugian lebih dari US$50 miliar untuk biaya yang berkaitan dengan malware pada software bajakan.

“Dampak dari kejahatan dunia maya secara finansial sangat merugikan bagi konsumen, perusahaan, dan pemerintahan” kata Reza Topobroto, legal affairs director Microsoft Indonesia. “Pelaku kejahatan di dunia maya selalu mencari cara baru untuk membobol jaringan komputer untuk mengambil uang Anda, mencuri identitas anda, dan kata kunci (password) untuk keuntungan finansial. Microsoft Cybercrime Center berkomitmen untuk mengakhiri tindakan ini untuk menjaga data pribadi dan keuangan yang aman.”

Studi ini dirilis hari ini sebagai bagian dari kampanye Microsoft “Play It Safe”, sebuah inisiatif global untuk menciptakan kesadaran yang lebih besar terhadap hubungan antara malware dan pembajakan. Kerugian tertinggi di perusahaan akan datang dari Asia Pasifik (US$ 138 miliar) dan akan berada di tangan pelaku kejahatan terorganisir. Di Asia Pasifik, 32% dari software bajakan di perusahaan di instal oleh pegawainya 29 persen dari responden perusahaan di Asia Pasifik melaporkan pembobolan keamanan menyebabkan padamnya jaringan, komputer atau website setiap beberapa bulan, 66% dari pemadaman tersebut melibatkan malware pada komputer pengguna akhir.

Tingkat infeksi paling tinggi ada di negara berkembang, dimana banyak konsumen dan perusahaan-perusahaan mendapat software dan PC dari sumber yang tidak terpercaya, seperti didapat dari toko-toko kecil, pasar jalanan, konsultan-konsultan dan sebagainya. Cina dan Thailand memiliki tingkat tertinggi dari infeksi PC dan infeksi software yang dibundling dengan PC. Hanya 40% dari keseluruhan PC yang digunakan di Asia Pasifik tetapi IDC mengestimasi jika wilayah tersebut akan mencatat 47% dari software bajakan di seluruh dunia pada 2014. Meskipun biaya tenaga kerja lebih rendah untuk menangani software bajakan di Asia Pasifik, tingkat yang lebih tinggi dari kawasan ini atas infeksi dan jumlah yang lebih tinggi pada unit software bajakan bertanggung jawab untuk biaya pemulihan yang ekstensif.