Nasi Minyak

Kuliner Sarat Nilai Budaya Kota Palembang

Sabtu, 29/03/2014

Berwisata ke kota Palembang memang belum lengkap bila belum mencicipi berbagai jajanan kuliner yang ada di kota yang terkenal dengan Jembatan Amperanya yang megah ini. Palembang sendiri memiliki beragam kuliner khas yang sangat sayang sekali untuk dilewatkan, beragam kuliner tersebut pun ditawarkan dengan citarasa khas minang yang sangat melekat dengan kota Palembang.

Mungkin sebagian dari kita sudah tahu kalau Palembang terkenal dangan kuliner pempeknya, namun sebenarnya tidak hanya itu saja, masih banyak sekali kuliner lezat khas kota Palembang ini. Palembang memang menyuguhkan beragam jajanan kuliner yang sangat sayang sekali untuk dilewatkan saat kita mengunjungi kota ini.

Selain empek-empek, kuliner wajib yang harus dicoba kalau berkunjung ke kota Palembang adalah model, tekwan, mie celor, celimpungan, laksa, burgo, kue delapan jam, pindang patin, berengkes tempoyak, es kacang merah dan masih banyak lagi kuliner khas Palembang yang wajib dicoba. Namun ada beberapa kuliner yang tidak banyak orang mengetahuinya, salah satunya adalah kuliner ini, ya dia adalah Nasi Minyak.

Nasi minyak merupakan kuliner Palembang yang masih berbau budaya dan tradisi kota palembang. Sepintas nasi minyak hampir sama dengan nasi kuning karena memang warnanya yang kuning pekat. Namun bila dirasakan, nasi minyak dengan Nasi Kuning sungguh jauh berbeda, ada rasa khas dari nasi minyak yang berbeda bila dibandingkan dengan nasi kuning.

Rasa tersebut berasal dari minyak samin karena ketika memasak nasi minyak di campur dengan minyak samin sebagai penguat rasa. Tidak hanya itu, untuk menambahkan kelezatannya, biasanya nasi minyak ditaburi oleh kismis. Sepintas orang-orang akan mengaitkannya dengan nama nasi kebuli, namun sebenarnya memang tetap jauh berbeda, selain dimasak dengan minyak samin dan campuran susu, nasi minyak juga ditambahkan aneka rempah-rempah yang wanginya sangat mengundang kita untuk makan.

Campuran budaya Timur Tengah memang sangat kental di kota Palembang ini. Perpaduan budaya lokal dengan kebudayaan Cina dan kebudayaan Arab yang dibawa oleh pedagang dari Cina dan Arab ketika zaman kerajaan Sriwijaya, terlihat jelas dari peninggalan budaya yang ada. Akulturasi budaya tersebut juga dapat dilihat dari makanan khas Palembang, yang kalau diperhatikan hampir memiliki kesamaan dengan makanan dari Cina ataupun Arab.

Berbeda dengan nasi kebuli yang dagingnya dicampur langsung, lauk untuk nasi minyak disajikan secara terpisah. Jadi untuk menikmati nasi minyak bisa disantap dengan daging malbi atau rendang, ayam goring atau bakar, pergedel, tahu, tempe maupun sambal. Memasak nasi minyak biasanya menggunakan kuali besar dan diaduk dengan pengaduk yang terbuat dari kayu yang panjang. Karena memasaknya dengan bumbu yang khas oleh karena itu tidak semua orang bisa memasak nasi minyak dengan rasa yang pas.

Untuk mendapatkan kuliner nasi minyak ini memang tidak semudah mencari kuliner Pempek yang bisa dengan mudah ditemui diseluruh penjuru kota Palembang bahkan diberbagai kota Indonesia. Di Palembang sendiri, hanya beberapa rumah makan saja yang bisamembuat dan menyediakan nasi minyak. Jadi memang agak sedikit sulit untuk mendapatkan nasi minyak. Kalaupun tersedia, tidak dalam jumlah yang banyak, umumnya hanya dibuat dalam porsi yang sedikit.

Umumnya nasi minyak disajikan di acara-acara adat atau kebudayaan masyarakat Palembang, seperti saat pernikahan, ulang tahun ataupun sunatan, menu nasi minyak pasti terhidang dan selalu menjadi pilihan utama para tamu yang datang. Jadi jangan pernah lewatkan untuk mencicipi kuliner khas kota palembang yang sarat akan nilai budaya ini.