Tuntutan Kenaikan UMP 30% Dinilai Ganggu Investasi

NERACA

Jakarta – Buruh menuntut kepada Presiden diperiode baru nanti bakal menaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) sebesar 30%, dimata pengusaha tuntutan itu tidak proposional dan seimbang. Pasalnya penyesuaian upah tersebut bisa berdampak terhadap iklim bisnis dan investasi di Indonesia.

Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) Persero, Ismed Hasan Putro menilai, tuntutan gaji tersebut sangat tidak proporsional atau seimbang melihat kenyataan bisnis dan industri sekrang. "Kalau tuntutannya terlalu besar, banyak perusahaan mati dan bermasalah. Tidak pas memaksakan kehendak supaya kami menaikkan gaji terlalu tinggi melihat kondisi dan situasi sekarang,” katanya di Jakarta, kemarin.

Dampak lain dari penyesuaian gaji terlampau tinggi, sambung Ismed dapat mengurangi porsi investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional. Padahal target pemerintah dan pelaku usaha ke depan bisa meningkatkan investasi dari penanam modal yang sudah lama maupun baru.

"Kita kan ingin porsi investasi bertambah, tapi kalau buruh maunya begitu terus, yang ada bukannya meningkat malah berkurang. Ini kan jadi tidak baik buat pertumbuhan ekonomi Indonesia," paparnya.

Melihat potensinya Ismed memproyeksikan optimistis, Indonesia berpeluang besar untuk menggenjot pertumbuhan ekonomo di atas satu digit. Syaratnya, tambah dia, pemerintah harus mengekor dinamika politik di Jepang dan Eropa.

"Dinamika politik di Jepang dan Eropa tidak mempengaruhi dunia usaha. Makanya harus menjadi referensi kita, sehingga bisa mengerek pendapatan per kapita di 2019 selain pertumbuhan ekonomi," jelasnya. Sebelumnya, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menuntut kepada siapapun calon presiden (capres) terpilih periode 2014-2019 untuk segera menaikkan upah buruh sebesar 30% pada 2015. "Prinsipnya buruh menginginkan kepada para capres, agar dalam jangka pendek menaikkan upah minimum sebesar 30% di 2015," harap Presiden KSPI Said.

Dengan menyesuaikan upah minimum buruh sebesar 30%, kata dia, akan menyamakan posisi Indonesia dengan negara lain, seperti Thailand, Filiphina, dan Malaysia. Pasalnya, Indonesia sudah berada di urutan 15 dunia dengan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) terbesar. Sedangkan pendapatan per kapita negara ini sudah hampir US$ 4.000.

"Dengan posisi sebagai negara terkaya, Indonesia perlu memberi jaminan kesehatan gratis, jaminan pensiun bagi seluruh buruh, serta hapus outsourcing termasuk di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada tahun depan," tegas dia.

Sementara untuk jangka menengah, Said mengatakan, pemimpin Indonesia harus memikirkan masa depan buruh dengan lebih baik. "Memberikan pendidikan gratis sampai perguruan tinggi, rumah murah dan transportasi publik gratis seperti di Thailand," pungkasnya. [agus]

BERITA TERKAIT

Jakarta Dinilai Butuh Kota Penyangga Seperti Meikarta - Kurangi Beban Perkotaan

    NERACA   Jakarta - DKI Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan kegiatan ekonomi Indonesia dinilai sangat membutuhkan daerah-daerah penyangga…

Masuk Musim Hujan, Harga Komoditas Sayuran Merangkak Naik - Kabid Diskopdagrin Kota Sukabumi: Kenaikan Masih Dalam Batas Kewajaran

Masuk Musim Hujan, Harga Komoditas Sayuran Merangkak Naik Kabid Diskopdagrin Kota Sukabumi: Kenaikan Masih Dalam Batas Kewajaran NERACA Sukabumi -…

Orori Jadi Reseller Swasta Pertama Antam - Jembati Investasi Emas Batangan

Perluas kerjasama dalam rangka meningkatkan penjualan, PT Orori Indonesia (ORORI) dipercaya menjadi reseller resmi emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam).…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pertamina EP dan Chemindo Inti Usaha Jalin Kerjasama - Pemanfaatan CO2

        NERACA   Jakarta - PT Pertamina EP dan PT Chemindo Inti Usaha bersepakat menjalin kerja sama…

Pemerintah Siapkan Rekayasa Urai Kepadatan Tol Cikampek

    NERACA   Bekasi - Pemerintah menyiapkan manajemen rekayasa untuk mengurai kepadatan Tol Jakarta-Cikampek. Hal itu seperti dikatakan Direktur…

Bangun 5 Tower, Arandra Residence Sukses Jual 1 Tower

    NERACA   Jakarta – Gama Land sukses menjual tower 1 dari 5 tower Arandra Residence yang direncanakan. Senior…