PNM Fasilitasi Kerja Sama Dagang UMK

Padang, Sumatera Barat

Senin, 24/03/2014

NERACA

Padang – PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM memfasilitasi pertukaran informasi produk dan kerja sama dagang antarpelaku usaha mikro dan kecil (UMK) melalui kegiatan pengembangan kapasitas usaha. Pemimpin PNM Cabang Padang, Dodot Patria Ary menuturkan PNM melalui 17 Unit Layanan Modal Mikro ( ULaMM) telah mengucurkan pembiayaan sebesar Rp312,3 miliar kepada 4.422 pelaku UMK di wilayah Padang, Sumatera Barat. Prestasi tersebut dibukukan sejak ULaMM beroperasi di wilayah Padang pada Maret 2009 hingga Februari 2014.

Merujuk pada kinerja setahun terakhir, penyaluran pembiayaan PNM Cabang Padang mengalami pertumbuhan 26,5%. Tercatat outstanding pembiyaan PNM Cabang Padang per Februari 2014 sebesar Rp84,7 miliar, meningkat dibandingkan posisi Februari 2013 yang sebesar Rp66,9 miliar. Hal itu selaras dengan pertumbuhan jumlah debitur, yang meningkat 17,3%. Jumlah nasabah PNM Cabang Padang per Februari sebanyak 1.550 pelaku UMK, meningkat dibandingkan dengan posisi Februari 2013 yang sebanyak 1.321 nasabah.

“Mayoritas pelaku UMK di Padang berbisnis di sektor perdagangan atau niaga, dan mereka menyerap kredit ULaMM terbesar sejauh ini,” kata Dodot di Padang, Sumatera Barat, Jumat (21/3) pekan lalu.

Menurut Dodot, PNM tidak hanya fokus membantu keuangan UMK, tetapi juga berkepentingan menjaga pertumbuhan bisnis nasabah ULaMM. Hal itu diwujudkan melalui berbagai kegiatan pelatihan dan pembinaan usaha yang rutin dilakukan oleh Divisi Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU) PNM.

“Kegiatan pelatihan dan pembinaan usaha ini sekaligus menjadi wadah pertukaran informasi produk dan kerjasama antar-nasabah ULaMM sehingga berdampak positif terhadap bisnis nasabah maupun Perseroan,” jelas dia.

Pada pelatihan hari ini, PNM Cabang Padang membagi pengetahuan mengenai pembukuan dan pelaporan keuangan kepada 100 nasabah ULaMM yang berdomisili di Padang dan sekitarnya. Materi mengenai manajemen keuangan dipilih mengingat banyak pelaku UMK yang abai akan hal tersebut.

“Salah satu alasan mengapa UMK kurang memperhatikan aspek keuangan adalah minimnya pengetahuan tentang manfaat pencatatan keuangan. Banyak pelaku UMK enggan melakukan pencatatan arus kas secara benar karena beranggapan sulit dan merepotkan,” ujar Dodot.

Anggapan keliru semacam itu, kata Dodot, yang mengakibatkan banyak UMK sulit memperoleh dukungan permodalan dari lembaga keuangan.“Melalui pelatihan ini diharapkan daya saing UMK meningkat dan menjadi lebih bankable,” tambah dia.

Sementara itu, Direktur Bisnis Mikro I PNM, M. Lukman Rizal menuturkan program PKU merupakan bagian terintegrasi dari bisnis PNM sebagai BUMN yang dikhususkan bagi pemberdayaan UMKM. Melalui pelatihan pelaporan keuangan semacam ini diharapkan para nasabah bisa lebih optimal dalam memanfaatkan jasa pembiayaan dari PNM dan sekaligus mampu meningkatkan kapasitas usahanya.

“Kata kuncinya adalah sederhana, simpel, mudah dipelajari dan mudah diaplikasikan,” tegas Lukman.

Lukman pun menambahkan aktivitas pemberdayaan UMK, yang mengombinasikan bisnis pembiayaan dan peningkatan kapasitas usaha, merupakan keunggulan dan keunikan PNM dibanding lembaga keuangan lainnya.

Sepanjang 2013, PNM melaksanakan kegiatan pelatihan dan pendampingan UMKM sebanyak 208 kali di seluruh wilayah operasional PNM di Indonesia, dengan jumlah UMKM penerima manfaat sebanyak 9.662 pengusaha atau meningkat 258% dalam setahun terakhir.

Pada periode yang sama, PNM juga aktif memperluas jaringan dengan menambah 100 unit ULaMM, 22 kluster, 3 kantor cabang pembantu serta meningkatkan status 4 kantor cabang pembantu menjadi kantor cabang. Dengan demikian, saat ini PNM memiliki 705 jaringan layanan, yang terdiri dari 26 cabang, 4 cabang pembantu, 97 klaster dan 577 unit ULaMM, yang menjangkau 2.799 kecamatan di seluruh Indonesia.

Selaras dengan ekspansi bisnis, penyaluran pembiayaan PNM juga turut mengalami pertumbuhan dari tahun ke tahun. Tercatat total dana yang telah disalurkan PNM sejak berdiri pada 1999 hingga Desember 2013 mencapai Rp16,97 triliun, dengan total penerima manfaat mencapai 1,46 juta pelaku UMKM. [mohar]