Kurangi Rugi, Pelaku Pasar Perlu Batasi Spekulasi

Mewaspadai Downreversal Indeks

Senin, 24/03/2014

NERACA

Jakarta- Dampak pernyataan Janet Yellen yang akan kembali memotong paket stimulus US$ 10 miliar dan rencana kenaikan Fed Rate menjadi faktor turunnya bursa regional selama sepekan kemarin. Bursa Indonesia tercatat menjadi bursa yang mengalami penurunan paling tajam di Asia, yaitu sebanyak -178,43 poin, atau sebesar 3,66%.

Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat sempat bertahan di kisaran support 4600-4750, dan sempat juga ke kisaran target resisten 4895-4925 sehingga memperlihatkan masih banyaknya potensi profit taking. Pola IHSG sendiri membentuk menyerupai evening star dengan candle yang lebih panjang di bawah upper bollinger bands. MACD mulai downtrend dengan histogram positif yang turun. RSI, William's %R, dan Stochastic mulai downtrend.

“Bila di pekan ini tidak diimbangi adanya sentimen positif maka dapat membuat downreversal lanjutan IHSG. Untuk itu, batasi speculative trading untuk mengurangi potensi loss pada kondisi yang masih lebih besar downreversalnya.” katanya di Jakarta, kemarin.

Diketahui, laju IHSG di awal pekan kemarin langsung diwarnai aksi profit taking setelah di akhir pekan sebelumnya mengalami kenaikan signifikan ke atas level 4800an hanya karena pemberitaan majunya Jokowi sebagai calon Presiden RI. Maraknya aksi jual pun membuat IHSG terhempas sehingga membuat mayoritas sektor mengalami pelemahan, dan tampaknya pelaku pasar mulai kembali ke realitas setelah Jokowi effect mulai mereda. “Terlihat bagaimana laju IHSG yang awalnya cenderung sideways, lalu berlari kencang di akhir pekan sebelumnya dan akhirnya terkena tekanan jual.” jelasnya.

Selanjutnya, pernyataan Gubernur The Fed, J. Yellen dalam pertemuan The Fed yang sebelumnya diharapkan dapat memberikan pengurangan stimulus yang lebih halus dan dapat diterima pasar juga tidak terjadi sehingga pasar langsung merespon negatif. Kenaikan Fed Rate direncanakan jauh lebih tinggi dari perkiraan awal, yaitu sebesar 75 basis points menjadi 1% di sepanjang tahun 2015, dan akan kembali menaikkan Fed Rate 125 basis points menjadi 2,25% di sepanjang tahun 2016.

Pasar saham Amerika Serikat dan Eropa pun bergerak negatif dan berimbas pada laju bursa saham Asia, seperti indeks Nikkei yang turun sebesar -0.72% dan HSI yang minus 0,48%, termasuk IHSG. “Meski sempat terjadi kenaikan, namun tidak banyak menolong IHSG untuk bertahan di zona positifnya.” ujarnya.

Sepanjang pekan kemarin, nett buy yang dilakukan investor asing sebesar Rp3,20 triliun turun dari pekan sebelumnya yang mengalami kenaikan Rp8,18 triliun. Dengan begitu, jika dihitung sejak awal tahun (YTD) maka sampai dengan pekan kemarin posisi asing tercatat nett buy Rp21,02 triliun yang melanjutkan nett buy pekan sebelumnya senilai Rp17,811 triliun.

Selama sepekan kemarin IHSG mengalami pelemahan -178,43 poin (-3,66%) atau lebih rendah dari pekan sebelumnya yang naik 192,75 poin (4,11%). Pelemahan dipimpin indeks IDX30 (-5,30%) diikuti indeks LQ45 (-5,01%), indeks MBX (-4,15%), dan indeks utama lainnya. Sementara indeks sektoral mayoritas bergerak melemah, kecuali indeks perkebunan yang naik 1,17% dan indeks pertambangan sebesar 0,44%. Indeks keuangan tercatat mengalami koreksi terdalam sebesar -6,42% diikuti indeks aneka industri yang turun 5,53%, dan konsumer sebesar -5,50%.

Reza memperkirakan, di pekan ini, IHSG akan berada pada rentang Support 4650-4674 dan Resisten 4884-4915. Adapun beberapa saham yang dapat diperhatikan, antara lain SIMP, HRUM, CPIN, ITMG, AISA, ELSA, MNCN, AKRA, SSIA, MPPA, dan PGAS. (lia)