Selisih Kurs Gerus Laba Indofood 23,2%

Senin, 24/03/2014

NERACA

Jakarta- PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) mencatatkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada tahun 2013 turun 23,2%, menjadi Rp2,5 triliun dari tahun sebelumnya sebesar Rp3,27 triliun. Penurunan ini terutama disebabkan kerugian selisih kurs, marjin laba bersih turun dari 6,5% menjadi 4,3%.

Direktur Utama dan CEO INDF Anthoni Salim mengatakan, penurunan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk seiring turunnya laba usaha perseroan pada tahun 2013 yang turun 2,3% dari Rp6,88 triliun menjadi Rp6,72 triliun. Sementara marjin laba bersih usaha turun menjadi 11,6% dari 13,7% karena kenaikan beban operasional terutama beban gaji, upah, dan imbalan kerja karyawan, beban pengangkutan dan penanganan, serta promosi dan periklanan.

Namun, dengan tidak memperhitungkan akun non recurring dan selisih kurs, core profit naik 3% menjadi Rp3,37 triliun dari Rp3,27 triliun. Sementara itu, penjualan neto konsolidasi sebesar Rp57,73 triliun atau naik 15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp50,20 triliun. Perseroan berhasil mencatatkan laba bruto sebesar Rp14,33 triliun atau naik 5,4% dari tahun lalu sebesar Rp13,59 triliun.

Sementara marjin laba bruto turun menjadi 24,8% dari 27,1% terutama disebabkan karena turunnya laba bruto yang dihasilkan oleh hampir seluruh Grup yang disebabkan naiknya beban bahan baku, beban gaji, upah, dan imbalan kerja karyawan serta utilitas, serta turunnya harga jual rata-rata pada Grup Agribisnis.

“Kami senang kinerja kami terus menunjukan pertumbuhan positif sebagaimana tercermin dalam peningkatan core profit, meskipun menghadapi berbagai tantangan. Kami akan tetap waspada dan berhati-hati dalam menentukan langkah yang akan diambil untuk mengejar pertumbuhan dan mempertahankan kinerja ke depan,” katanya Anthoni dalam siaran persnya, akhir pekan kemarin.

Kontribusi penjualan pada tahun 2013, menurut dia, dicapai dari lima kelompok usaha strategis (Grup) perseroan, seperti Grup Produk Konsumen Bermerek (CBP) 42%, Bogasari 26%, Agribisnis 20%, dan distirbusi 8%.

Dia menyebutkan, grup budidaya dan pengolahan sayuran juga memberikan kontribusi sekitar 4% terhadap penjualan neto konsolidasi. Grup CBP sendiri terdiri dari Divisi mie instan, dairy, makanan ringan, penyedap makanan, nutrisi dan makanan khusus serta minuman juga berhasil tumbuh 14%. Pertumbuhan tersebut didorong oleh seluruh divisi utama dalam grup dan kenaikan harga jual rata-rata. Total nilai penjualan grup bogasari juga naik 17,2% disebabkan naiknya harga jual rata-rata dan volume penjualan tepung terigu. Sementara untuk grup agribisnis mencatat penurunan total nilai penjualan sebesar 4,1% terutama karena penurunan penjualan produk minyak goreng. “Grup distribusi mencatatkan kenaikan total penjualan sebesar 15,6%, terutama didukung pertumbuhan penjualan Grup CBP,” katanya. (lia)