Minim, Gapmmi Keluhkan Pasokan Bahan Baku Lokal - Industri Mamin Tingkat Hulu Tidak Produktif

NERACA

Jakarta – Para pebisnis yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) mengeluh minimnya bahan baku untuk industri makanan dan minuman (mamin) yang berasal dari pasokan dalam negeri. Ketidaksinkronan hulu-hilir industri mamin ini, menurut Gapmmi, yang membuat pengusaha terpaksa impor bahan baku dari luar negeri.

“Jadi tolong, sampaikan, untuk keberlangsungan industri, dengan struktur pertanian kita sekarang, kita tidak terhindarkan untuk impor bahan baku sampai 80% per produknya. Kalau kita misalnya bicara konsentrat jeruk, kalau memang ada (produksi dalam negeri), ayo! Tapi jangan kita tahun depan akan swasembada, tapi gak dikerjain,” ujar Sekjen Gapmmi Franky Sibarani kepada Neraca, pekan lalu.

Menurut Franky, industri lokal punya semangat yang kuat untuk menyerap bahan baku lokal. Namun, minimnya pasokan lokal membuat mereka terpaksa melakukan impor. “Kita itu nasionalisme tinggi. Tapi kalau barangnya gak ada, mau gimana. Contoh. Kita sekarang ini ada hilirisasi coklat. Tahu nggak bahwa tahun depan kita harus sudah impor biji coklat? Mana nasionalisme? Mau kalau industri kita mati karena gak boleh impor (bahan baku)? Mau industri kakao processing yang menghasilkan butter atau bubuk coklat itu mati karena coklatnya gak ada? Gak bisa,” tegas Franky.

Itu sebabnya, kata Franky, impor sulit dihindari. “Impor itu tidak dapat dihindari kalau kita tidak menyiapkan bahan bakunya dulu. Jadi jangan salahkan industri. Karena industri kita memang perlu, yang paling gampang coklat itu tadi. Sekarang, gak ada coklatnya. Makanya 2015 harus impor. Kementerian Pertanian berjanji akan menyediakan 2 juta ton. Sekarang itu sekitar 450-550 ribu ton,” sebutnya.

Lebih lanjut Franky menjelaskan, kendati Indonesia adalah salah satu produsen terbesar coklat, namun ada pekerjaan di hulu yang tidak diselesaikan sehingga pasokan bahan baku minim. “Jadi jangan kita yang di hilir, yang sebetulnya memberikan pekerjaan, kesempatan kerja, menghasilkan devisa kalau kita ekspor, kita yang menghasilkan pajak, tapi kita yang dipaido kata orang Jawa. (Dipaido: disalahkan). Sedangkan yang di hulu tidak dikejar-kejar,” tandasnya.

Selain coklat, kondisi serupa terjadi pada industri hilir daging. “Kenapa kita yang disalahkan kalau kita impor. Nah gimana. Kalau kita gak produksi gimana. Sapi yang di hulunya tidak diurus. Hanya bicara soal data. Ada sapi di sini di sana, tapi sapinya gak ada. Gitu. Jagung juga sama. Pakan ternak kita mahal. Karena kita juga impor. Dalam negeri harganya lebih mahal kalau beli jagung,” ujarnya.

Proyeksi Pertumbuhan

Meski mengakui banyak masalah dalam industri mamin, Franky menjelaskan, pertumbuhan industri tersebut masih akan bagus. “Pertumbuhan industri minuman dalam industri makanan dan minuman pertumbuhannya relatif lebih tinggi. Minuman itu kira-kira pertumbuhannya 9-11% di 2013. Kenapa? Karena memang, ruangnya masih cukup banyak varian-varian yang bisa dikembangkan,” jelasnya.

Dijelaskan Franky, pertumbuhan 11% itu untuk AMDK (Air Minum Dalam Kemasan). “Kalau 9% itu untuk minuman ringan. Jadi masih cukup besar. Kalau untuk sekarang, minuman yang berbasis teh, kopi, coklat, itu masih cukup berkembang. Jadi ke depan, makanan minuman akan terus tumbuh. Tahun ini kita targetkan sekitar 6-7% di 2014,” urainya.

Dia juga mengatakan, inovasi usaha minuman sangat beragam. Namun umumnya inovasi dilakukan pada produk. Misalnya, saat ini, banyak korporasi besar, khususnya MNC (perusahaan multinasional) yang fokus mengembangkan produk dengan berbagai basis bahan baku. Beberapa korporasi besar saling joint investasi, untuk mengembangkan produk tertentu. Inovasi juga terjadi pada kemasan produk yang lebih praktis.

Lima tahun ke depan, sambung Franky, pihaknya pasar mamin bakal semakin besar. “Bukan hanya sekedar market dalam negeri, tapi juga ke ASEAN. Nah, tinggal catatannya adalah sejauh mana pemerintah bisa melindungi UMKM kita. Melindungi dan mengawal pertumbuhan UMKM kita. Kalau industri menengah ke atas pelakunya sekitar 1 juta. 99,5% itu industri rumah tangga kecil. Yang 0,5% itu menengah besar,” papar Franky.

Nah, lanjut Franky, industri mamin skala menengah besar lebih siap masuk Masyarakat Ekonomi ASEAN di 2015. “Sisanya belum tentu siap. Contohnya. Thailand itu terkenal dengan pangan berbasiskan seafood. Kita (Indonesia) juga senang seafood. Jadi, UKM mereka (Thailand) akan masuk ke Indonesia. Dengan teknologi yang sederhana, dengan mereka bisa impor bahan baku dari mereka, atau mengisinya juga dari dalam negeri. Itu 2015. Ya 2016 lah. Sekarang mereka sudah survey-survey,” terangnya.

Related posts