Bicara Air, Bicara Energi

Oleh: Ella Syafputri

Senin, 24/03/2014

Air dan energi adalah dua tantangan terbesar yang kini di hadapi oleh penduduk Bumi. Dengan bertambahnya populasi, kebutuhan akan air dan energi pun otomatis akan terus meningkat.

Sebuah laporan terbaru dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bertajuk "World Water Development Report" (WWDR) menyebutkan bahwa kebijakan tentang air akan mempengaruhi sektor energi, dan sebaliknya.

Hal ini disebabkan oleh ketergantungan yang sangat tinggi antara sumber daya air dan energi.

Sebagai gambaran konkrit, saat ini sekitar 90 persen produksi listrik di dunia adalah bersumber dari pemanfaatan air. Dan pada tahun 2035, kebutuhan air untuk keperluan pembangkit listrik akan naik 85 persen.

Laporan WWDR juga menyebutkan bahwa dari total air yang disedot oleh industri, 75 persen di antaranya digunakan untuk menghasilkan energi. Tarif yang murah atau subsidi bagi penyediaan air bersih justru akan mengurangi keinginan sektor industri untuk berhemat dalam penggunaan air.

"Air dan energi adalah dua masalah dunia yang paling mengemuka. Itu sebabnya tema Hari Air Dunia tahun ini adalah tentang air dan energi," kata Michel Jarraud, Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan Ketua UN-Water, Jumat.

Peringatan Hari Air Dunia diselenggarakan setiap 22 Maret, sebagai upaya kampanye global untuk mengingatkan kembali pentingnya keberadaan air bersih dan menggalang kerjasama dunia memanfaatkan air sebaik mungkin.

Ketergantungan antara air dan energi semakin meningkat terutama peran air untuk fase produksi, transportasi energi seperti batu bara, minyak, gas, dan uranium.

Saat ini saja, produksi listrik dengan sumber tenaga nuklir dan panas bumi membutuhkan air untuk pendinginan. Air juga unsur utama untuk pembangkit listrik tenaga air.

Air pun sangat dibutuhkan bagi upaya produksi biofuel, karena untuk memproduksi bahan baku utama biofuel dibutuhkan tanaman yang harus diairi.

Air dan Energi Indonesia

Pemanfaatan air untuk produksi energi atau listrik di Indonesia masih memberikan ruang yang luas untuk dimaksimalkan.

Menurut Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, waduk-waduk di Indonesia saat ini masih terpusat fungsinya untuk pengairan persawahan. Padahal, potensi PLTA di Indonesia bisa mencapai 76.670 Megawatt (MW).

"Saat ini, pemerintah tengah mengkaji pemanfaatan lebih dari 200 waduk dan bendung yang menjadi aset Kementerian Pekerjaan Umum untuk dapat dimanfaatkan sebagai PLTA atau PLTM (Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro)," kata Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, di Jakarta, Rabu.

Ia mengemukakan, potensi PLTA Indonesia yang sebesar 76.670 MW dan PLTM sebesar 770 MW merupakan aset yang harus dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Sementara itu Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PU, Mochammad Hasan, mengatakan potensi waduk yang dimiliki Kementerian PU dan termanfaatkan sebagai pembangkit listrik baru sekitar 6-7 persen dari total yang mencapai 261 waduk.

"Sementara potensinya kalau semua termanfaatkan sebagai pembangkit listrik bisa menghasilkan lebih dari 75.000 (ribu) MW. Kalau membangun waduk serta turbinnya itu kan butuh waktu lama. Nah sebaiknya waduk yang ada dimanfaatkan untuk pengembangan potensi listrik," kata Hasan. (ant)