Kualitas Guru di Jakarta Dipertanyakan

Evaluasi Besar-besaran

Sabtu, 29/03/2014
NERACA Berbagai usaha untuk meningkatkan kualitas guru dan pendidikan guru telah dilaksanakan dengan berbagai bentuk pembaharuan pendidikan. Namun, secara umumkualitas gurudan kompetensi guru di Indonesia, khususnya di Jakarta masih belum sesuai dengan yang diharapkan. Pasalnya, masih banyak guru yang hanya sekadar menyampaikan mata pelajaran tanpa memperhatikan masalah lain, seperti karakter moral siswa. Buktinya kenakalan remaja kerap kali terjadi di Jakarta Menyikapi hal tersebut, Pemprov DKI Jakarta berencana mengevaluasi secara besar-besaran kualitas guru di seluruh tingkatan sekolah. Hal tersebut untuk mengetahui prosentase guru yang mempunyai hati menjadi tenaga pendidik dan mampu mendidik para siswa tidak hanya dari sisi pengetahuan tetapi juga dapat melakukan pendekatan dengan hati. "Tujuannya adalah mengetahui berapa banyak guru yang benar-benar punya niat mengajar," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama di Jakarta, belum lama ini. Menurut pria yang akrab disapa Ahok itu, besarnya niat mengajar guru bukan hanya dilihat kemampuannya mendidik siswa dari segi ilmu pengetahuan, tetapi juga moral.Melalui langkah itu, kenakalan remaja atau kenakalan di sekolah dapat diminimalisasi. Karena peserta didik dekat dengan para gurunya. Selanjutnya, sambung dia, bila dalam evaluasi tersebut ditemukan guru yang tidak punya hati menjadi tenaga pendidik, maka guru tersebut akan dipindahkan ke dinas lain yang lebih membutuhkan tenaga dan kemampuan mereka. Selain guru, evaluasi tersebut juga dilakukan terhadap kepala sekolah, yang terlebih dahulu telah dilaksanakan seleksi dan promosi melalui lelang jabatan kepala sekolah tingkat SMAN dan SMKN. "Intinya, kita mau evaluasi semuanya. Selain mengurangi kenakalan remaja, evaluasi ini juga bertujuan menghilangkan praktek-praktek pungutan liar yang seringkali ada di sekolah," ungkap Ahok.
Seperti diketahui jumlah guru di seluruh sekolah milik Pemprov DKI Jakarta mencapai 40 ribu orang. Kesejahteraan terhadap profesi terhormat di Jakarta tersebut tertinggi di Indonesia. Selain gaji, guru dengan golongan terendah bisa mendapatkan tunjangan kerja daerah (TKD) mencapai Rp4 juta/bulan.