STIE-STIMIK PASIM Mewisuda 232 Sarjana Berjiwa Wirausaha

Kota Sukabumi

Jumat, 21/03/2014

Sukabumi - Dalam teori apa pun, tidak ada perguruan tinggi yang bisa menciptakan lulusannya seketika menjadi enterpreneur setelah lulus. Tapi, harus memiliki pengalaman dan modal dana. Untuk itu, setelah lulus dari teori harus mencari pengalaman lapangan terlebih dulu, baru kemudian berwirausaha setelah memiliki modal yang cukup. Hal tersebut dikatakan Pimpinan STIE-STIMIK PASIM Sukabumi, Fajar Laksana, usai mewisuda 232 sarjana baru di Gedung Anton Sudjarwo, Sekolah Pembentukan Perwira Lembaga Pendidikan Polisi Republik Indonesia (STUKPA Lemdikpol Polri ), Kota Sukabumi, Kamis, (20/3). Acara tersebut dihadiri Walikota Sukabumi HM Muraz.

Fajar mengatakan, modal dana tanpa dibarengi pengalaman usaha bisa bangkrut. Makanya, dibutuhkan pengalaman dan modal membuat seorang wirausaha cepat mandiri. Untuk itu, perguruan tinggi yang dikelolanya bukan hanya sebagai pencetak sarjana yang mengusai ilmu ekonomi. Tapi juga sebagai lembaga yang mengembangkan usaha. Bahkan, dibutuhkan ratusan pelaku usaha baru sebagai plasma usaha yang tengah dikembangkan perguruan tinggi tersebut. “Kami butuh 100 orang pegawai untuk pengembangan usaha minimarket,” katanya.

Fajar mengungkapkan, lulusan STIE-STMIK tidak kesulitan dalam mencari peluang kerja. Hal itu berkat kerjasama perguruan tinggi tersebut dengan sejumlah perusahaan. Setelah lulus, para alumni diberi kesempatan untuk mengisi lowongan pekerjaan. “Ada puluhan perusahaan mitra yang siap menampung lulusan STIE-STMIK PASIM,” jelas dia.

Fajar menjelaskan, perguruan tinggi tersebut memiliki misi mencetak lulusan yang berjiwa entrepreneurship. Sehingga, selama menimba ilmu di bangku kuliah, dibekali dengan teori kewirausahaan.

Namun, yang harus dipahami, kata dia, dibutuhkan pengalaman setelah menguasai ilmu tersebut. Sebab, pengalaman merupakan salah satu modal untuk membangun kewirausahaan. “Setelah bekerja, seseorang yang memiliki ilmu akan lebih mudah beradaptasi untuk mentransformasikan ilmunya ke dunia kerja. Ini perbedaan dengan yang tidak kuliah,” papar Fajar.