Kementan Matangkan Standard Khusus Karantina - Bogor, Jawa Barat

NERACA

Bogor - Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Badan Karantina Kementerian Pertanian terus mematangkan kesiapan standar khusus perlindungan pasar pangan dalam negeri dengan penerapan Standar Sanitary and Phitosanitary (SPS) yang lebih ketat.

"Memperketat proses karantina menjadi salah satu upaya paling efektif untuk melindungi pasar domestik dari gempuran bahan pangan dari negara-negara Asean," ujar Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian, Banun Harpini dalam Seminar Implementasi SPS Menghadapi Masyarakat Ekonomis ASEAN 2015 di IPB Convention Center, Bogor, Jawa Barat, Kamis (20/3).

Dia mengatakan, menghadapi MEA Kementerian Pertanian berperan besar dalam melindungi sumberdaya hayati Indonesia mengingat keberadaan sumber daya hayati sangat strategis karena menjadi sumber ketersediaan pangan, energi dan sumber kehidupan.

Untuk menghadapi MEA Badan Karantina Pertanian telah mempersiapkan standard karantina berupa SPS untuk acuan ASEAN yang bisa memitigasi risiko di negara-negara asal.

"Standard di ASEAN itu bervariasi, bagaimana kebijakannya, bagaimana sistem pengamananya, dan pengawasannya. Sehingga ketika kita melakukan perlindungan kepada mitra dan menyiapkan pengawasan sisi perdagangan maka harus disepakati agar pelaksaaan MEA pun dapat berjalan," ujarnya.

Dia mengatakan, menghadapi MEA 2015, SPS saja tidak cukup. Meski standard telah diterapkan daya saing produk pertanian juga menjadi sangat penting mengingat negara ASEAN memiliki kesamaan produk pertanian. [agus]

BERITA TERKAIT

Stabilkan Harga, Kementan Gelar Operasi Pasar Telur

NERACA Jakarta –  Guna meredam harga telur yang meroket, Kementerian Pertanian (Kementan) menggelar operasi pasar telur. Upaya ini dilakukan sebagai…

Perundingan Dagang Indonesia-UE Bahas Isu Khusus

NERACA Jakarta – Perundingan perjanjian kerja sama ekonomi komprehensif atau "comprehensive economic partnership agreement" (CEPA) antara Indonesia dan Uni Eropa…

Kesenjangan Barat-Timur RI Tak Bisa Segera Berakhir

Oleh: Sarwani NKRI Harga Mati !!! yel yel  ini sering kita dengar sebagai reaksi atas munculnya gerakan separatisme atau ancaman…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Gelombang Penolakan Akuisisi Pertagas oleh PGN

      NERACA   Jakarta - Gelombang penolakan terhadap keputusan pemerintah untuk mengakuisisi PT Pertamina Gas (Pertagas) oleh PT…

Teknologi Samsung untuk Penggemar Olahraga

  NERACA Jakarta – Masyarakat mulai mengganderungi olahraga. Berbagai macam jenis olahraga pun dilakoni asalkan mengeluarkan keringat. Hadirnya teknologi turut…

Aver Tawarkan Kemudahan Kolaborasi Di Era Digital

      NERACA   Jakarta - Pertumbuhan pesat dari industri digital di Indonesia telah mendorong munculnya tren Virtual Office,…