Lagi, Saham Bali Tower Disuspensi BEI

Rajin Keluar Masuk UMA

Jumat, 21/03/2014

NERACA

Jakarta – Untuk kesekian kalinya, perdagangan saham dan waran seri I PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI) kembali dihentikan sementara perdagangan sahamnya atau suspense oleh PT Bursa Efek Indonesia. Pada perdagangan sesi pertama kemarin, saham Bali Towerindo disuspensi. Informasi tersebut disampaikan Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (20/3).

Disebutkan, suspend dilakukan lantaran ada peningkatan harga komulatif yang signifikan pada saham BALI sebesar Rp855 atau 142,50% dari harga penutupan Rp600 pada 13 Maret 2014 menjadi Rp1.455 pada 19 Maret 2014,”Suspend saham dan waran seri I PT Bali Towerindo Sentra Tbk di pasar reguler dan pasar tunai, mulai perdagangan sesi I tanggal 20 Maret 2014 sampai dengan pengumuman bursa lebih lanjut," kata Kadiv. Pengawasan Transaksi BEI, Irvan Susandy.

Adanya suspend tersebut, Irvan menghimbau kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi yang disampaikan perseroan. Tercatat pada 13 Maret 2014, BEI telah mensuspend waran seri I (BALI-W) selama satu sesi perdagangan hari tersebut, akibat harga waran perseroan melebihi harga sahamnya di level Rp770. Saham BALI pada hari itu, di posisi Rp600 per saham.

Kelapa Riset MNC Securities, Edwin Sebayang pernah bilang, melesatnya harga saham Bali Towerindo hingga masuk dalam pengawasan BEI dan kemudian disuspensi karena ada informasi yang belum disampaikan kepada public.

Menurutnya, naik turun pergerakan harga saham merupakan hal yang lumrah. Namun, kenaikan secara tajam di tengah minimnya sentimen, bahkan melampaui 25% di atas atau di bawah acuan harga sahamnya tentu patut diwaspadai. “Berarti ada informasi yang belum didisclose ke publik alias masih ada informasi yg disembunyikan. Dan informasi tersebut digunakan oleh beberapa orang untuk mengambil keuntungan secara tajam.” katanya.

Saham PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI) menjadi salah satu saham yang mengalami kenaikan signifikan pada perdagangan kemarin (19/3). Sejak awal pencatatan sahamnya pada 13 Maret lalu, saham emiten jasa transmisi ini terus melambung. Bahkan melampaui ketentuan harga BEI. Di awal IPO-nya, saham Bali mengalami kenaikan hingga 50% dari harga perdananya di level Rp 400 per saham, dan pada perdagangan kemarin saham BALI berada di posisi Rp 1.455 per saham.

Tampaknya sudah menjadi rahasia umum, bahwa kerap terjadi praktik ambil untung yang dilakukan sekelompok orang atau investor yang mengerek pergerakan harga saham bisa mengalami kenaikan dengan cepat dan tajam. Di satu sisi, hal tersebut mungkin menjadi momen yang menarik, namun di sisi lain “insider trading” dalam transaksi perdagangan kerap merugikan investor ritel.

Seharusnya, sambung dia, pihak otoritas pasar modal bisa memeriksa dan melakukan investigasi atas kenaikan saham tersebut yang secara sangat tidak wajar. Jika ditemukan penyimpangan, maka otoritas bursa harus berani melakukan tindakan. Salah satu cara memeriksa penyimpangan tersebut, menurut dia, pihak otoritas bursa harus meminta daftar investor yang bermain di dalam saham tersebut. “Sekali lagi saya katakan, harus secepatnya dilakukan pemeriksaan investigatif atas direksi Bali Tower.” tandasnya.

Berarti, kata dia, ada ketidak jujuran dari emiten yang bersangkutan. Sehingga jika benar terbukti adanya “keurangan” maka perlu ditindak secara tegas. Kepala Divisi Pengawasan Transaksi BEI, Irvan Susandy mengatakan, BEI tengah mencermati perkembangan harga dan aktivitas saham BALI. “Oleh karena itu, para investor diharapkan memperhatikan jawaban perusahaan atas permintaan konfirmasi BEI.” jelasnya. (bani)