Pengusaha Minta Angsuran Tarif Listrik Diperpanjang - TDL Dua Golongan Industri Naik

NERACA

Jakarta - Pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) belum lama ini telah menyetujui kenaikan tarif dasar listrik (TDL) industri. Tarif listrik yang akan naik adalah golongan pelanggan I3 dinaikkan 38,9%, sementara I4 dinaikkan hingga 69,7%. Kenaikan tarif akan diimplementasikan mulai Mei hingga Desember mendatang.

Menteri Perindustrian, MS Hidayat menyebut rencana kenaikan ini mayoritas disetujui oleh industri. Namun demikian industri meminta masa angsuran diperpanjang. "Ratusan industri meminta diperpanjang masa angsurannya supaya beban bulanan bisa ditanggung cash flow mereka. Kalau dipadatkan Mei sampai Desember itu 36-48 % tekanannya. Akibatnya iklim kompetitif terganggu," ucap Hidayat di Jakarta, Kamis (20/3).

Tidak itu saja, pengusaha meminta implementasinya diundur. Dari pengakuan kepada Hidayat, jika kenaikan tarif listrik tetap dilakukan sesuai waktu yang ditentukan, maka ratusan industri bersiap memecat karyawan mereka sebagai bentuk efisiensi biaya. "Mereka bilang kondisi ini bisa mengecilkan karyawannya, ini agar mereka bisa bertahan. Ini ada sekian ratus perusahaan besar," tegasnya.

Agar pemecatan karyawan tidak terjadi, Hidayat berjanji melobi ulang rencana kenaikan tarif listrik untuk industri. Hidayat berharap, kenaikan tarif listrik industri bisa diundur pelaksanaannya. "Menurut Menkeu memang dilematis di saat menjaga agar supaya defisit anggaran jangan lebih 3 persen. Tapi sekarang masih dihitung. Kalau diizinkan nanti di APBN-P dan di banggar kita lobi dulu. Yang penting mereka mengetahui dunia industri ada ancaman performance mereka. Pokoknya angsuran ditunda dulu," tuturnya.

Pengusaha Keberatan

Sementara itu, dari kalangan pelaku industri meminta pemerintah meminta pemerintah menunda rencana kenaikan tarif listrik golongan industri pada Mei 2014, untuk diberlakukan secara bertahap mulai 2015 agar tidak membebani pendapatan tahun ini.

Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (Indonesia Iron and Steel Industry Association/IISIA), Hidayat Triseputrom mengatakan kami memaklumi tarif listrik harus naik tetapi jangan sekaligus, tetapi bertahap dua sampai tiga tahun. Hal itu untuk memberi kesempatan bagi industri melakukan penyesuaian," kata dia.

Menurut Hidayat, rencana kenaikan tarif pada Mei 2014, dinilai tidak tepat mengingat industri besi dan baja nasional saat ini masih mengalami tekanan berat akibat faktor esternal. Serbuan baja impor murah dengan harga dumping serta kurs mata uang yang tidak stabil telah menekan margin pendapatan industri hilir besi-baja.

"Kondisinya sangat sulit. Sebab, selain faktor eksternal, anggota kami telah terbebani dengan perubahan upah karyawan sejak awal 2014. Kalau ditambah dengan kenaikan tarif listrik, membuat industri baja susah bersaing," ujar Hidayat.

Dia memperkirakan kenaikan tarif listrik ini akan berdampak pada peningkatan biaya baja hulu sekitar 60 dolar AS per ton. Kenaikan tersebut jauh melampaui margin penjualan rata-rata per ton di industri baja saat ini.

Sementara itu Sekjen Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, juga sependapat agar kenaikan tarif listrik diberlakukan secara bertahap. Fajar mengatakan, bagi industri plastik, biaya listrik mengontribusi 15 persen dari total biaya produksi, menempati posisi nomor dua setelah bahan baku, sehingga kebijakan kenaikan tarif listrik tersebut sangat berpengaruh.

"Kenaikan tarif listrik jelas sangat memberatkan bagi industri apalagi tahun 2014 merupakan tahun politik, ditambah industri masih terpengaruh kenaikan UMK yang terjadi pada awal tahun 2014," katanya.

Fajar mengatakan, Inaplas telah menyurati Kementerian Perindustrian agar kenaikan tarif listrik tidak diberlakukan sekaligus 13 persen, namun diberlakukan bertahap. "Paling tidak setahun diberlakukan dua kali dan dimulai tahun depan. Hal itu dapat memperkecil kerugian, karena penjualan produk saat ini merupakan kontrak enam bulan lalu. Sehingga belum memperhitungkan kenaikan tarif listrik sebesar itu," jelas Fajar.

Sebelumnya, Pemerintah telah menetapkan besaran kenaikan tarif listrik konsumen industri skala besar antara 8,6--13,3 % yang berlaku setiap dua bulan sekali mulai 1 Mei 2014. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan rencana penaikan TDL itu memberatkan. "Kalau naik sampai 64%, kami minta diperpanjang sekitar 2-3 tahun, jangan setahun. Kalau tidak, habis industri dalam negeri kita," kata Sofjan.

BERITA TERKAIT

DPRD Minta Pemkab Bogor Lakukan Penataan Wisata

DPRD Minta Pemkab Bogor Lakukan Penataan Wisata NERACA Cibinong, Bogor - DPRD Kabupaten Bogor, Jawa Barat meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab)…

Bursa Minta Tidak Libur Saat Pilkada

Memasuki tahun politik, dimana bakal dilakukannya pemilihan kepala daerah (Pilkada) secara serentak pada tanggal 27 Juni yang akan datang, pihak…

Horas Halak Hita Minta Transportasi Danau Toba Diperbaiki

Tragedi kecelakaan tenggelamnya kapal Sinar Bangun di Danau Toba menuai keprihatinan masyarakat, termasuk Horas Halak Hita (H3) sebagai salah satu…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Ini Jurus Wujudkan Indonesia Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berupaya mewujudkan visi Indonesia untuk menjadi kiblat fesyen muslim dunia pada tahun 2020. Peluang…

Laporan Keuangan - Satu Dekade, Kemenperin Raih Opini WTP Berturut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk laporan keuangan…

Dukung Industri 4.0 - Kemenperin Usul Tambah Anggaran Rp 2,57 Triliun

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mengusulkan tambahan anggaran pada tahun 2019 kepada DPR RI sebesar Rp2,57 triliun. Anggaran tersebut…