Ketahanan Keluarga Jangan Goyah

Jumat, 21/03/2014

Oleh: Kencana Sari., SKM., MPH

Peneiliti Badan Litbangkes, Kementerian Kesehatan

Kehidupan yang semakin modern mendorong masyarakat menjadi kian individualis. Tidak hanya hubungan antar masyarakat didalam suatu komintas tetapi bahkan hubungan antar-anggota keluarga pun makin berjarak. Suami istri pekerja seringkali sulit memberikan waktu yang cukup kepada anak. Hal ini menjadikan keluarga sebagai organisasi terkecil menjadi rentan akan berbagai masalah. Ketahanan keluarga pun semakin goyah.

Dukungan dan ketahanan keluarga merupakan hal mendasar yang bisa melindungi setiap anggota keluarga dari hal yang negatif dan perilaku berisiko. Ketahanan keluarga adalah proses yang dinamis di dalam keluarga untuk melakukan adaptasi positif terhadap bahaya dari luar maupun dari dalam keluarga sendiri.

Mc Cubbin menjelaskan komponen dalam ketahanan keluarga dari keutuhan dan kerjasama dalam keluarga, ikatan emosi antar anggota, saling menghormati, fleksibel dalam melaksanakan peran keluarga, kemampuan pengasuhan tumbuh kembang anak, komunikasi yang efektif, mendengarkan dengan sensitif, pemenuhan kebutuhan spiritual, memelihara lingkungan luar, meminta bantuan apabila dibutuhkan, kemampuan berkembang melalui pengalaman, mencintai dan mengerti, komitmen, berpartisipasi akti dalam masyarakat.

Syarat yang panjang dan mungkin sulit diwujudkan oleh banyak keluarga dewasa ini. Namun sesukar apapaun jika tidak diusahakan memenuhinya akan berdampak buruk. Tidak hanya bagi anggota keluarga itu sendiri tetapi juga masyarakat secara luas.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa rendahnya ketahanan keluarga dapat berakibat pada tingginya perilaku berisiko sebut misalnya perilaku seks bebas, kekerasan, narkoba, tawuran, dll. Maraknya perilaku menyimpang merupakan bukti ketahanan keluarga yang rendah.

Mereka yang memiliki masalah kesehatan cenderung mencari “teman” untuk berbagi. Hal ini dibuktikan dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Hyun Jun Oh yang dilansir oleh Jurnal Computer in Human Behavior tahun 2013 lalu yang menemukan bahwa mereka yang mempunyai masalah kesehatan cenderung mencari dukungan sosial terutama dukungan emosional terkait dengan kesehatannya. Tak heran jika rasa kesepian seseorang lebih mematikan dibandingkan obesitas.

Penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial dari lingkungan sekitar berhubungan dengan peningkatan akses dan pemanfaatan sumber daya kesehatan dan pekerjaan. Memperkuat ketahanan keluarga melalui komunikasi tidak hanya penting bagi kesehatan mental tetapi juga pencegahan kriminalitas.

Mungkin tidak hanya ketahanan keluarga yang perlu dibangun tetapi juga ketahanan komunitas dalam suatu lingkungan. Membuat keluarga satu sama lain lebih berinteraksi dan menjadi kontrol sosial, fisik dan psikis dalam menghadapi masalah dalam lingkungan tempat tinggalnya.

Ada baiknya barangkali menghidupkan kembali berbagai kegiatan kebersamaan. Dahulu ada karang taruna yang merupakan wadah pembinaan dan pengembangan kreatifitas generasi muda yang berkelanjutan untuk menjalin persaudaraan dan kebersamaan. Keberadaan organisasi seperti ini dapat mengikis rasa individualitas yang kini telah mendarah daging dalam kehidupan modern.

Meluangkan paling tidak sehari dalam satu minggu untuk bercengkrama melalui berbagai cara serta mengedepankan kualitas guna menepis kurangnya kuantitas waktu berkomunikasi, siapa bilang tidak ada dampak positifnya? Nyatanya semakin erat hubungan dalam keluarga dan masyarakat akan semakin kuat juga menampik masalah sosial dan kesehatan yang mungkin timbul. Networking tidak hanya penting bagi keberhasilan marketing tetapi juga bagi baiknya status kesehatan.