Indonesian Idol

Oleh: Prof Dr Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Jakarta

Jumat, 21/03/2014

Indonesian Idol merupakan tayangan televisi yang saya senangi. Kadang saya sengaja membuka You- Tube kalau ketinggalan tidak sempat menonton televisi.

Bagi saya ini sebuah program yang memiliki banyak makna dan dimensi yang mengandung pendidikan bagi pemirsa (public education). Antara lain menyajikan drama hidup anak bangsa berjuang mengubah nasib dengan menggali dan menunjukkan bakatnya menyanyi dan tampil di panggung terbuka sehingga dalam waktu relatif singkat beberapa di antara mereka lalu masuk jajaran selebritas nasional sebagai penyanyi.

Proses seleksi dan persaingannya pun transparan, lebih transparan ketimbang kontestasi calon legislatif yang ingin duduk di kursi wakil rakyat. Dalam program ini berbaur antara edukasi publik, drama pergulatan hidup, dan hiburan bagi para pemirsa. Menurut Ahmad Dhani, seorang jurinya, Indonesian Idol mampu menyatukan antara ratingdan kualitas. Ini perlu digarisbawahi, kata Dhani, karena ada beberapa acara musik di televisi yang rating-nya tinggi, namun kualitas rendah.

Atau sebaliknya, ada acara televisi berkualitas tinggi, namun rating rendah. Kontestasi Indonesian Idol diikuti oleh sekitar 250.000 orang, diseleksi di tujuh kota, berlangsung selama enam bulan untuk memilih 13 besar yang akhirnya mengerucut menjadi tiga besar. Lagi-lagi, proses seleksi dan kontestasinya berlangsung secara terbuka sehinggapara pemirsajugabisamelihat sendiri siapa yang gugur dan siapa yang lolos untuk maju terus.

Pemirsa juga dilibatkan untuk ikut serta memberikan penilaian. Sampai-sampai katanya ada beberapa pimpinan daerah yang membagi pulsa telepon kepada warganya agar memberikan dukungan suara sebanyak-banyaknya pada putra daerah yang tengah ikut berkompetisi. Dalam program ini publik juga mendapat pembelajaran dari para juri ketika menilai kualitas peserta, baik dari sisi bakat, penampilan, pilihan lagu, maupun ekspresi serta artikulasinya.

Yang cukup mengejutkan, menurut Ahmad Dhani, ternyata generasi penyanyi baru memiliki kualitas prononsiasi bahasa Inggris yang bagus-bagus, sehingga ketika membawakan lagu Barat cukup percaya diri, enak didengar, dan menyamai penyanyi internasional. Penampilan mereka tidak jauh berbeda dari panggung American Idol. Para pemirsa juga bisa melihat kepakaran para juri yang terdiri atas Ahmad Dhani, Tantri, Titi DJ, dan Anang.

Mereka tidak sekadar andal dan dikenal sebagai penyanyi, tapi juga kritikus musik dengan bekal pengetahuan yang dalam tentang dunia musik dan bahkan guru yang baik bagi para juniornya. Candaan dan celoteh mereka cukup menghibur dengan selingan yang cerdas, konyol, dan kocak. Di situ ada ruang demokrasi, muncul perbedaan pendapat yang kadang tajam, namun tetap dalam suasana keakraban yang memberi pelajaran bagi yang awam dalam dunia musik.

Jadi, yang publik amati dan nilai sesungguhnya tidak saja para kontestan, tapi juga kualitas dan penampilan para jurinya, bahkan perilaku para suporternya. Kualitas juri maupun peserta program Indonesian Idol terlihat semakin meningkat. Pemirsa juga melihat sikap juri yang suportif-edukatif, termasuk perkembangan peserta sejak tahapan awal audisi sampai tahap berikutnya, di sana terlihat banyak perkembangan dan perubahan dalam berbusana, berinteraksi dengan penonton, dan tak kalah pentingnya membangun sikap percaya diri serta kesiapan mental untuk tereliminasi.

Ini suatu pelajaran hidup yang pasti amat mengesankan dan berpengaruh dalam hidup seseorang ketika menang atau gagal dalam sebuah pertandingan yang disaksikan publik secara terbuka. Kedewasaan sikap, terutama siap menang dan siap kalah, sangat penting bagi siapa pun yang mau bertarung dalam kancah nasional.

Siapa pun nanti yang masuk tiga besar akan jadi figur publik dan rolemodel bagi calon-calon peserta Indonesian Idol tahun berikutnya. Jika sekadar hebat bernyanyi, namun karakternya tidak terjaga, publik pasti akan kecewa dan menghukumnya serta akan mengurangi wibawa program Indonesian Idol. Saya merindukan para artis-selebritas Indonesia semakin berkembang dengan disertai intelektualitas dan integritas sehingga berita mereka tidak selalu sarat gosip yang tidak sedap.

Modal tampan, cantik, pintar menyanyi, populer, ketika ditopang dengan intelektualitas dan integritas sangat terbuka peluangnya untuk meningkatkan kualitas demokrasi. Siapa tahu ke depan banyak politisi dari kalangan artis yang benar-benar berkualitas, bukan sekadar mengandalkan popularitas dan ketampanan atau kecantikan.

Mengutip Ahmad Dhani, saya merasa senang dan bangga setiap tahunnya bisa ikut membidani lahirnya penyanyi- penyanyi bagus dan berbakat. Kebanggaan ini menjadi semakin bermakna ketika para penyanyi itu juga terus mengembangkan intelektualitasnya dan menjaga integritasnya. (uinjkt.ac.id)