Wisco Minta Rekomendasi Lokasi Pabrik Baja

China Berencana Investasi US$5 Miliar

Kamis, 20/03/2014

NERACA

Jakarta – Menteri Perindustrian MS Hidayat menyebut, perusahaan baja asal China Wuhan Iron and Steel Group (Wisco) menyatakan niatannya berinvestasi di Indonesia. Menurut dia, Wisco meminta rekomendasi Kementerian Perindustrian untuk lokasi pendirian pabrik. Kemenperin merekomendasikan Jawa Timur sebagai lokasi Wisco mendirikan pabrik baja karena di sana ada pelabuhan kedalaman laut yang cukup.

Hidayat mengatakan, Wisco merupakan perusahaan baja yang ditunjuk langsung oleh pemerintah setempat untuk berinvestasi di Indonesia, sebagai wujud implementasi perjanjian antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan China pada Oktober lalu. Rencananya, Wisco akan berinvestasi sebesar US$5 miliar secara bertahap. “Mereka bisa memulainya segera, kalau mereka sudah mendapatkan lokasi,” jelas MS Hidayat, Rabu.

Dalam investasi ini, Wisco telah menggandeng Grup Sinar Mas. Rencana pembuatan pabrik Wisco-Sinar Mas itu membutuhkan lahan sekitar 1.500 hektar. Gabungan investasi kedua perusahaan besar tersebut akan memproduksi seluruh jenis besi baja dengan kapasitas lima juta ton. Ke depan, produksi perusahaan ini bakal mensubstitusi baja impor.

Terkait dengan investasi dari China, Menperin, sebelumnya juga mengatakan, Indonesia bakal kembali kedatangan perusahaan pembuat telepon Seluler (Ponsel) besar dari luar negeri. Investor baru yang meminta namanya dirahasiakan ini mengaku tengah menjajaki kemungkinan investasi tersebut.

"Ada investor yang diam-diam memproses (investasinya) tapi tidak mau dipublish. Ini merk besar. Saya tidak mau publish dulu karena mereka minta begitu. Kalau saya publish nanti saya dianggap saya tidak mendukung," ujar Hidayat.

Hidayat menjelaskan, calon investor baru ini telah meminta pemerintah tidak mengumumkan rencana investasinya sebelum kepastian dan proses investasi selesai secara keseluruhan. Untuk saat ini, Hidayat hanya berharap agar produsen Ponsel merek ternama ini bisa merealisasikan investasinya pada tahun ini sehingga bisa segera berproduksi. "Biarkan mereka mulai dulu, lokasi belum bisa disebut, yang jelas mereka sudah ada progres. Dia investor luar tapi gandeng partner disini. Bukan Foxconn, Foxconn lebih besar," katanya.

Hidayat menjelaskan, pemerintah selama ini memang mendorong investasi pada sektor Ponsel guna menekan angka impor yang terus meningkat. Sepanjang tahun lalu, Indonesia tercatat mengimpor Ponsel sebanyak 60 juta unit yang kebanyakan berasal dari China.

"Jadi kalau dia (investor) mau masuk kesini kita minta dia produksi disini, mereka bisa produksi berbagai jenis ponsel supaya bisa jadi substitusi impor, kalau bisa mengurangi impor 5-10 juta unit ponsel saja itu sudah bagus," tandasnya.

Meski mengundang investor asing, pemerintah menjamin upaya pengembangan Ponsel lokal masih akan tetap menjadi perhatian. Saat ini, dua produsen lokal seperti Axioo dan Polytron diketahui sudah mulai berproduksi.

Namun, ambisi memproduksi Ponsel lokal ini diakui masih memerlukan waktu untuk mengembangkan pemasarannya didalam negeri. Selain membutuhkan investasi besar, perusahaan juga harus melakukan branding agar membuat produknya terkenal di masyarakat. "Mereka tetap laku tapi skala ekonominya masih kecil, tetapi kita ingin dia tetap produksi. Jadi kita biarkan mereka kembangkan diri dulu," katanya.

Sebelumnya kemenperin mengharapkan komponen lokal sudah terdapat pada perangkat-perangkat seluler bermerek lokal Indonesia pada 2016. Menurut Kemenperin, hampir semua komponen ponsel itu bisa diproduksi di Indonesia. "Bahkan ada perusahaan yang sudah produksi panel layar sentuh di Tangerang. Produk itu sudah diekspor untuk perangkat modul tapi belum untuk ponsel," kata Direktur Industri Elektronika dan Telematika Kementerian Perindustrian, Triharso.

Triharso mengatakan produsen komponen lokal yang khusus memasok untuk perangkat teknologi informasi, terutama ponsel, belum ada karena ketiadaan permintaan. "Karena tidak ada produsen (yang meminta komponen lokal) di sini (Indonesia), mereka produksi itu (komponen) untuk dijual di luar (negeri)," kata Triharso.