Perbankan Indonesia Hadapi Tantangan Besar di 2014

Analisa ICRA

Kamis, 20/03/2014

NERACA

Jakarta - PT ICRA Indonesia menyebutkan bahwa sektor perbankan mengalami sejumlah masalah dan tantangan besar dalam meningkatkan kinerjanya pada 2014. AVP Analyst PT ICRA Indonesia, Kreshna D Armand, menjelaskan prihal masalah yang mengganjal di sektor perbankan nasional, yaitu bencana alam menjadi salah satu tantangan utama sektor perbankan.

Hal itu dikaitkan dengan kemampuan para nasabah untuk membayar kredit terutama terkena bencana alam di beberapa wilayah Indonesia "Adanya bencana alam menjadi tantangan utama sektor perbankan awal 2014 terutama pengolahan kualitas aset," katanya di Jakarta, Rabu (19/3).

Kedua, penyelenggaraan pesta demokrasi pemilihan umum (Pemilu), dan ketiga, kemampuan mengoptimalkan jaringan usaha dan produk yang ada, serta kemampuan memperoleh pendapatan berbasis fee juga menjadi tantangan sektor perbankan. “Pesta demokrasi juga menjadi salah satu tantangan mengingat biasanya di tahun pemilu sektor riil banyak yang wait and see,” imbuhnya

Kendati demikian dia masih optimistis terhadap pinjaman bank pada 2014. ICRA memperkirakan, total pinjaman bank akan tumbuh pada kisaran 17%-19% pada 2014. Target itu melebihi yang ditetapkan Bank Indonesia (BI) sebesar 15%-17%.

Sebelumnya Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Muliaman Darmansyah Hadad, pernah mengungkapkan setidaknya ada empat faktor utama yang akan mewarnai perkembangan dan pertumbuhan industri perbankan yang masih perlu dukungan kebijakan yang tepat tahun 2014 ini.

Faktor pertama yaitu konsumen produk jasa keuangan akan menuntut layanan yang lebih cepat, fleksibel dengan produk yang semakin variatif. "Termasuk interchangebility dari instrumen kredit dengan instrumen pasar uang dan pasar modal," ujar Muliaman.

Faktor kedua, adalah perbankan harus siap meningkatkan penyaluran kredit investasi terutama di sektor manufaktur, energi dan infrastruktur dalam rangka memperbaharui dan merevitalisasi kapasitas perindustrian. "Ini dapat menghasilkan produk-produk dengan nilai tambah tinggi," katanya.

Faktor ketiga Muliaman menyebutkan, perubahan landscape regulasi industri perbankan yang menuntut reformasi yang komprehensif mencakup antara lain struktur permodalan, likuiditas, governance dan sekuritas guna menurunkan probilitas kegagalan institusi. Dan yang keempat integrasi sektor perbankan ASEAN di tahun 2020. "Untuk mengantisipasi hal tersebut, kami akan memperjelas arah kegiatan usaha perbankan dan meningkatkan daya saing agar dapat memanfaatkan pasar Asean," pungkasnya. [agus]