Hatta Minta Tekanan Inflasi Tetap Diwaspadai

Agustus Biasanya Tinggi

Rabu, 03/08/2011

NERACA

Jakarta---Meski inflasi Juli 2011 secara nasional masih terbilang rendah. Namun tekanan inflasi tetap harus diwaspadai, apalagi Agustus ini ada Ramadhan dan Idul Fitri. Karena itu diperkirakan laju inflasi bisa terkerek kembali. "Inflasi tetap kita waspadai dan itu biasanya bulan Agustus. Sebab, Agustus dapat mencapai angka yang cukup tinggi," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Rajasa Hatta di Jakarta, Selasa (2/8)

Menurut mantan Mensesneg ini, tekanan inflasi Juli 2011 yang diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) sebesar 0,67% meleset dari perkiraan. "Inflasi yang diumumkan kemarin itu dengan hasil 0,67, diperkiraan saya hanya 0,5%-0,7%," tambahnya.

Namun, Hatta mengakui, inflasi tahunan atau year on year (yoy) belum mencapai 5%n. Artinya, kalau mematok 5,5% optimistis di bawah angka itu. "Barangkali kita optimis di bawah itu," tegasnya.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI), Darmin Nasution juga sempat mengungkapkan angka inflasi Indonesia Juli 2011 berkisar 0,8%-0,9%. Angka inflasi ini cenderung menurun dibandingkan Juli 2010 yang mencapai 1,57%. "Sebetulnya inflasi di negeri ini biasanya akan naik pada bulan Juli, walaupun tahun lalu naiknya tidak terlalu cepat. Tahun lalu, inflasi Indonesia mencapai 1,57%," katanya.

Menurut Darmin, hal-hal ini dikarenakan anak sekolah masuk, musim yang tidak menentu, sehingga harga cabai naik. Selain itu, membuat Surat Tanda Nomor Kendaraan juga biayanya mengalami kenaikan. "Kalau sekarang, soal musim dan STNK sudah tidak ada,” ujarnya.

Lebih jauh kata Mantan Dirjen Pajak, kenaikan inflasi ini dipicu kenaikan harga pangan seperti harga beras. Tentunya, kalau dilihat untuk periode tahun ke tahun (year on year) sedikit di bawah lima atau sekitar 4,8%.

Namun, berbicara mengenai inflasi inti, dia mengatakan bahwa inflasi inti itu memang tidak mudah diprediksi. "Inflasi inti itu kan komoditinya jauh lebih banyak, sehingga saya sulit memprediksi. Tetapi, kenaikan di bulan lalu itu hanya 0,1%," terangnya.

Kemarin, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengumumkan catatan inflasi pada Juli 2011 sebesar 0,67%, sehingga laju inflasi Januari-Juli (year to date) mencapai 1,74%. Sementara itu, laju inflasi year on year turun dari 5,54% hingga Juni menjadi 4,61% pada Juli 2011. "Inflasi yoy 4,61%, jauh di bawah 5%," ujarnya.

Lebih jauh kata Rusman, BPS mencatat, inflasi inti pada Juli 2011 sebesar 0,42 persen atau 4,55 persen secara yoy. "Yang menarik, tingkat inflasi yoy untuk inflasi umum dan inflasi inti, angkanya hampir sama," tambahnya.

Selama Juli, penyumbang terbesar inflasi berasal dari komoditas beras dengan kontribusi 0,22 persen, diikuti daging ayam ras (0,13%), dan telur ayam ras (0,6%). Komoditas lain yang ikut menyumbang tingkat inflasi pada bulan lalu adalah emas perhiasan dengan kontribusi pada inflasi sebesar 0,03%. Relatif tingginya kontribusi komoditas emas pada laju inflasi disebabkan harga emas di pasar dunia saat ini sedang melonjak tinggi.

BPS juga mencatat munculnya inflasi yang berasal dari biaya pendidikan sebesar 0,06%. Masuknya tahun ajaran baru menyebabkan biaya pendidikan menyumbang relatif tinggi pada laju inflasi Juli 2011. "Semoga kementerian pendidikan dapat mengatasi gejolak biaya," jelasnya.

Di samping sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga, BPS juga melaporkan adanya beberapa komoditas bahan pokok yang mencatat penurunan harga. Setidaknya dua komoditas mengalami penurunan harga atau deflasi yaitu bawang putih sebesar 0,08% dan cabe rawit 0,03%. **cahyo