Pertumbuhan Saham

Rabu, 03/08/2011

Oleh: Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Keyakinan indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) bakal tembus level 5000 pada akhir tahun 2011, bukan sesuatu yang mustahil. Pasalnya, lambat tapi pasti pergerakan indeks pasar modal makin menunjukkan keperkasaannya. Pada pertengahan tahun ini, indeks nyaris tembus level 4.200 dari sebelumnya mencoba konsisten di level 4.000.

Apa yang disampaikan analis pasar modal mengenai fundamental ekonomi yang membaik, stabilitas politik hingga tingkat inflasi yang stabil menjadi kunci utama indeks pasar modal terus tembus rekor baru. Kendatipun demikian, sentimen global soal isu negatif kebangkrutan ekonomi Amerika yang dilanda utang bejibun patut diperhatikan. Karena pergerakan indeks dalam negeri tidak bisa lepas dari faktor eksternal.

Pengamat pasar modal PT First Asia Capilta Ifan Kurniawan pernah berujar, kenaikan indeks BEI dalam beberapa hari kedepan dipengaruhi akibat sinyal kuat dari Kongres Amerika yang akan mendukung pemerintah untuk menaikkan pagu utangnya agar tidak terjadi gagal bayar. Kongres menyetujui hal itu dengan catatan pemerintah harus dapat melakukan program kerjanya dengan lebih baik.

Artinya, selama belum adanya titik temu penyelesaian masalah soal krisis ekonomi di Amerika, potensi indeks pasar modal menembus rekor baru terus terbuka lebar,tentunya apabila aksi beli pelaku pasar terus berlanjut. Namun terlepas dari isu tersebut, kondisi ini memberikan kenyakinan para investor asing untuk parkirkan dananya di Indonesia yang dinilai mampu memberikan keuntungan dua kali lipat atau lebih ditengah tidak adanya kepastian berinvestasi di negara maju, khususnya Amerika dan negara Uni Eropa.

Kabar soal derasnya dana asing yang mengalir ke Indonesia khususnya di pasar modal, memberikan senyuman bagi pelaku pasar modal untuk memanen hasil atau mungkin terus mengkoleksi saham-saham unggulan yang tengah menjadi incaran.

Kemudian sentimen lain, pemicu indeks terus bergerak positif adalah soal laporan kinerja emiten semester I/2011 yang dinilai membukukan kinerja cukup positif. Karena itu, indeks saham berkapitalisasi besar menjadi rebutan para pelaku pasar. Selanjutnya, secara teknikal, indeks masih cenderung bullish dan sektor yang berpeluang mendorong indeks adalah pertambangan, infrastruktur, dan pertanian.

Dibalik penguatan indeks dalam beberapa pekan terakhir, ternyata menjadi khawatiran bagi pemerintah karena pertumbuhan indeks tidak akan berkelanjutan di masa yang akan datang. Alasannya, pertumbuhan saham dalam negeri dinilai tidak wajar dan hanya menjadi tempat parkir sementara dana-dana asing (capital inflow) masuk ke Indonesia.

Sejatinya, pernyataan pemerintah bisa menjadi catatan pelaku pasar untuk tidak takut dalam berinvestasi pasar modal, karena investasi pasar modal tidak lepas dari pengaruh bursa global. Akan tetapi bagaimana menjaga pertumbuhan saham itu terus berlanjut, tentunya menjadi tugas pemerintah dengan menciptakan iklim investasi dan ekonomi yang stabil dan kondusif. Hasilnya, tentu memanen keuntungan saham tidak sekedar bergantung dari capital inflow, namun berdasarkan kinerja riil perseroan dan fundamental ekonomi yang terus membaik.