Kontribusi Pasar Modal Masih Tertinggal Jauh

Rabu, 19/03/2014

NERACA

Jakarta – Meskipun nilai kapitalisasi pasar saham di bursa telah mencapai Rp4.800 triliun atau sekitar US$425 miliar. Namun peran industri pasar modal terhadap perekonomian dalam negeri masih sangat minim. Hal ini diakui langsung Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhadai.

Dirinya menuturkan, permodalan sektor keuangan di dalam negeri masih didominasi penyaluran dari sektor perbankan. Saat ini tercatat peran pasar modal di Indonesia baru sekitar 20%. Prosentase tersebut sangat timpang, di mana permodalan dari sektor perbankan mencapai 80%,”Kalau di Indonesia peran pasar modal masih relatif rendah, yaitu 20% dibanding perbankan mencapai 80%,”tegasnya di Jakarta, Selasa (18/3).

Kata Nurhaida, bila dibanding dengan negara lainnya, Indonesia masih jauh tertinggal dalam hal pengembangan pasar modal. Di Amerika Serikat (AS), peran pasar modal hampir mencapai 90%. Untuk itu, perlu ada upaya yang lebih giat dalam rangka pengembangan dalam hal peningkatan emiten dan investor di pasar modal.

Menurutnya, hal ini perlu dilakukan agar industri pasar modal dalam negeri sejajar dengan negara lain dan sejajar dengan sektor perbankan, sehingga tidak hanya ditopang perbankan yang kuat tapi juga pasar modalnya,”Untuk itu perlu emiten lebih banyak dan investor lebih banyak,”ungkapnya.

Asal tahu saja, saat ini jumlah emiten atau perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) yakni hanya 488 emiten yang listing. Angka ini masih kalah dengan jumlah emiten di negara tetanga seperti di Malaysia yang sudah 900 lebih, lalu di Singapura sudah diatas 1.000 emiten. Bahkan di negara maju lebih banyak lagi emitennya.

Nurhaida menambahkan, pada tahun 2013 ada 31 emiten yang listing dibursa dengan total dana sebesar Rp51,8 triliun. Itu terdiri dari IPO senilai Rp16,7 triliun, right issue Rp32,97 triliun dan warran senilai Rp2 triliun. Dari sisi emitennya dibanding tahun 2012 ada peningkatan sebesar 25%.

Lanjutnya, jumlah emiten yang terdapat di Indonesia belum memadai untuk market likuiditas, likuid perdagangan rendah dan produk pasar modal masih rendah, sehingga perdagangan rendah,”Ini perlu ditingkatkan agar market lebih berkembang lagi. Dan di tahun 2014, sudah ada 5 perusahaan yang menjadi emiten di BEI serta ada beberapa perusahaan yang menunggu pernyataan efektif dari OJK untuk lakukan penawaran umum," pungkasnya. (bani)