Kontribusi Pasar Modal Masih Tertinggal Jauh

NERACA

Jakarta – Meskipun nilai kapitalisasi pasar saham di bursa telah mencapai Rp4.800 triliun atau sekitar US$425 miliar. Namun peran industri pasar modal terhadap perekonomian dalam negeri masih sangat minim. Hal ini diakui langsung Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhadai.

Dirinya menuturkan, permodalan sektor keuangan di dalam negeri masih didominasi penyaluran dari sektor perbankan. Saat ini tercatat peran pasar modal di Indonesia baru sekitar 20%. Prosentase tersebut sangat timpang, di mana permodalan dari sektor perbankan mencapai 80%,”Kalau di Indonesia peran pasar modal masih relatif rendah, yaitu 20% dibanding perbankan mencapai 80%,”tegasnya di Jakarta, Selasa (18/3).

Kata Nurhaida, bila dibanding dengan negara lainnya, Indonesia masih jauh tertinggal dalam hal pengembangan pasar modal. Di Amerika Serikat (AS), peran pasar modal hampir mencapai 90%. Untuk itu, perlu ada upaya yang lebih giat dalam rangka pengembangan dalam hal peningkatan emiten dan investor di pasar modal.

Menurutnya, hal ini perlu dilakukan agar industri pasar modal dalam negeri sejajar dengan negara lain dan sejajar dengan sektor perbankan, sehingga tidak hanya ditopang perbankan yang kuat tapi juga pasar modalnya,”Untuk itu perlu emiten lebih banyak dan investor lebih banyak,”ungkapnya.

Asal tahu saja, saat ini jumlah emiten atau perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) yakni hanya 488 emiten yang listing. Angka ini masih kalah dengan jumlah emiten di negara tetanga seperti di Malaysia yang sudah 900 lebih, lalu di Singapura sudah diatas 1.000 emiten. Bahkan di negara maju lebih banyak lagi emitennya.

Nurhaida menambahkan, pada tahun 2013 ada 31 emiten yang listing dibursa dengan total dana sebesar Rp51,8 triliun. Itu terdiri dari IPO senilai Rp16,7 triliun, right issue Rp32,97 triliun dan warran senilai Rp2 triliun. Dari sisi emitennya dibanding tahun 2012 ada peningkatan sebesar 25%.

Lanjutnya, jumlah emiten yang terdapat di Indonesia belum memadai untuk market likuiditas, likuid perdagangan rendah dan produk pasar modal masih rendah, sehingga perdagangan rendah,”Ini perlu ditingkatkan agar market lebih berkembang lagi. Dan di tahun 2014, sudah ada 5 perusahaan yang menjadi emiten di BEI serta ada beberapa perusahaan yang menunggu pernyataan efektif dari OJK untuk lakukan penawaran umum," pungkasnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Masih Banyak Sekolah Yang Rusak

      Sekjend Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Heru Purnomo, menyebut ada sejumlah sekolah di berbagai daerah yang mengalami…

China Diprediksi Akan Lewati AS Sebagai Pasar Otomotif Terbesar

China diproyeksikan akan melewati Amerika Serikat (AS) sebagai pasar otomotif terbesar dunia pada 2022, menurut Chief Executive Officer Nissan Motor…

Penuhi Modal, SNP Finance Rencanakan IPO

Perusahaan pembiayaan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance) berencana mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), melalui mekanisme Initial Public…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laju IHSG Sepekan Kemarin Menguat 1,32%

NERACA Jakarta – Laju indeks harga saham gabungan (IHSG) sepekan kemarin mengalami kenaikan 1,32% ke posisi 6.591,58 poin dari 6.505,52…

Literasi Investasi Mahasiswa Harus Ditingkatkan

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kantor perwakilan Surakarta menyatakan, literasi keuangan dan investasi di kalangan mahasiswa harus ditingkatkan karena sektor…

IHSG Konsolidasi Menunggu Laporan Keuangan

Analis pasar modal menilai bahwa pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) cenderung bergerak konsolidasi mengantisipasi…