Menuai Untung Dari Saham Sektor Perkebunan

NERACA

Jakarta - Terjadinya permintaan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) seiring proyeksi perekonomian global yang membaik tentunya akan menjadi sentimen positif bagi perkembangan kinerja emiten CPO. Pasalnya, jika perekonomian pulih, pendapatan juga akan mengalami peningkatan dan konsumsi pangan juga akan meningkat.

Oleh karena itu, kalangan analis menilai, saham-saham yang termasuk dalam sektor tersebut pun akan ikut terkerek naik. “CPO merupakan bahan baku minyak goreng, sehingga otomatis permintaan CPO meningkat dan akhirnya bisa memulihkan harga CPO,” kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta, kemarin.

Atas dasar fundamental tersebut, menurut Reza, saham-saham seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), dan PT BW Plantation Tbk (BWPT) yang notabene bergerak di sektor perkebunan masih memiliki peluang kenaikan. Kisaran nilai yang menjadi target dia, yaitu PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dengan target harga 28.500 rupiah per saham, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dengan target harga 2.450 rupiah per saham, dan PT BW Plantation Tbk (BWPT) dengan target harga 1.450- 1.480 rupiah per saham.

Deputy Head of Equity Research Mandiri Sekuritas Tjandra Lienandjaja menyebutkan, sektor CPO dapat menjadi salah satu sektor yang perlu diperhatikan pada tahun politik. Hal ini dikarenakan telah terjadi penurunan produksi sementara permintaannya meningkat yang mendorong harga naik. Sehingga, dalam beberapa bulan ke depan dipastikan ada kenaikan namun tidak terlalu tinggi.“Tetapi harus diketahui, harga CPO tidak akan terjun lagi karena sudah turun jauh, jadi tidak mungkin lebih rendah lagi,” katanya.

Selain itu, di tahun ini pemerintah mengeluarkan mandat komposisi 10% minyak nabati dalam bahan bakar solar. Artinya, permintaan CPO domestik akan semakin besar. Stock CPO di Malaysia pun saat ini disebut sebut juga mulai menipis yang berarti akan menurunkan suplai di pasar. Sementara di sisi lain, permintaan CPO terus berjalan sehingga membuat harga CPO global merangkak naik.

Sehingga kondisi tersebut dapat dimanfaatkan emiten CPO untuk memperbaiki kinerja keuangannya. Diketahui, pada Januari lalu stok CPO di Malaysia tercatat sebesar 1,07 juta ton. Selain mengalami penurunan 31% year on year, angka ini juga merupakan level terendah dalam tiga bulan sebelumnya. “Kami berikan rekomendasi overweight untuk sektor perkebunan," kata Analis BNI Securities, Yasmin Soulisa. (lia)

BERITA TERKAIT

DPRD Jabar Apresiasi Capaian Pendapatan Sektor Pajak

DPRD Jabar Apresiasi Capaian Pendapatan Sektor Pajak  NERACA Bandung - DPRD Provinsi Jawa Barat (Jabar) mengapresiasi capaian pendapatan dari sektor…

Menteri LHK: Saham Freeport Dikuasai Indonesia, Lingkungan Makin Terjaga

Menteri LHK: Saham Freeport Dikuasai Indonesia, Lingkungan Makin Terjaga NERACA Jakarta - Pemerintah melalui PT Inalum (Persero) resmi memiliki 51…

Transaksi Saham Sepekan Tumbuh 12,53%

NERACA Jakarta – Sepekan kemarin, laju indeks harga saham gabungan (IHSG) mengalami peningkatan sebesar 4,38% menjadi 5.944,07 poin dari 5.694,91…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Jaga Stabilitas Harga, ROTI Buyback Saham

NERACA Jakarta – Menjaga stabilitas harga saham di pasar, PT Nippon Indosari Corporindo Tbk (ROTI) berencana melalukan pembelian kembali (buyback)…

Bangun Rumah Sakit Baru - Medikaloka Hermina Kuras Kocek Rp 312,5 Miliar

NERACA Jakarta – Pacu pertumbuhan bisnis dengan penetrasi pasar lebih luas lagi, PT Medikaloka Hermina Tbk berambisi terus menambah rumah…

PBRX Sisakan Rights Issue Rp 348,8 Miliar

NERACA Jakarta - PT Pan Brothers Tbk (PBRX) masih mengantongi dana senilai Rp384,8 miliar dari hasil penawaran umum terbatas (PUT)…