Data Pertumbuhan Ekonomi

Rabu, 19/03/2014

Kondisi pertumbuhan investasi yang tidak menentu, mencerminkan harga ekspor yang terus menurun serta ketersediaan dana yang semakin sulit, dan ketidakpastian kebijakan, akan tetap menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2014 pada angka 5,3%, menurut laporan Bank Dunia.

Sementara menurut Bank Indonesia (BI), pertumbuhan ekonomi 2014 diperkirakan menurun dari kisaran 5,8% - 6,2% menjadi 5,5% - 5,9%. Jika diambil titik tengahnya, berarti prediksi pertumbuhan versi BI diturunkan dari 6,0 % menjadi 5,7%. Berarti, prediksi pertumbuhan versi BI untuk tahun 2014 sebesar 5,7% lebih rendah ketimbang realisasi pertumbuhan 2013 sebesar 5,8%. Artinya, BI menyakini pertumbuhan ekonomi 2014 bakal lebih lambat ketimbang tahun 2013, walau angkanya masih di atas prediksi Bank Dunia.

Menurut kalangan pengamat ekonomi, BI tampaknya tidak memperhitungkan dinamika regional yang berpotensi banyak menguntungkam Indonesia. Kemelut politik berkepanjangan di Thailand telah mendorong sejumlah industri pindah ke Indonesia. Toyota sudah memperbanyak jenis mobil yang diproduksi di Indonesia yang sebelumnya diproduksi di Thailand, seperti Vios, Limo, Fortuner, dan Yaris.

Apalagi ditambah dengan peningkatan investasi di industri otomatif lainnya, termasuk industri komponen, membuat impor kendaraan bermotor dan komponennya turun cukup tajam, dari US$9,8 miliar (2012) menjadi US$7,9 miliar pada 2013. Kecenderungan ini diharapkan bakal berlanjut pada tahun ini.

Kita melihat baru kali ini impor kendaraan bermotor dan komponennya turun tatkala penjualan mobil terusnaik. Di masa lalu, kenaikan penjualan mobil selalu membuat impor kendaraan bermotor dan komponennya juga naik secara proporsional. Demikian juga sebaliknya, impor kendaraan bermotor dan komponennya baru turun kalau penjualan mobil juga turun.

“Pertumbuhan global menunjukkan sinyal positif. Namun Indonesia tetap menghadapi berbagai tantangan, termasuk nilai tukar perdagangan yang tidak banyak berubah, suku bunga yang lebih tinggi, dan ketidakpastian kebijakan. Melihat risiko ekonomi yang berkelanjutan dan agenda pembangunan Indonesia yang ambisius, pengurangan ketidakpastian kebijakan dan kelanjutan reformasi patut dijadikan prioritas,” komentar Jim Brumby, ekonom utama perwakilan Bank Dunia di Jakarta, Selasa (18/3).

Dari gambaran perbedaan data pertumbuhan ekonomi Indonesia itu, Bank Dunia melihat prospek yang lebih bagus ke depan, asalkan dengan syarat reformasi terus dilanjutkan dengan penyesuaian kebijakan yang mencakup pengalihan belanja subsidi yang signfikan kepada kebuthan mendesak seperti investasi di infrastruktur, perbaikan iklim investasi dan perbaikan pelayanan masyarakat.

Namun Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menyatakan revisi perkiraan pertumbuhan ekonomi 2014 oleh BI menjadi 5,5% - 5,9%, masih dalam batas yang wajar. Karena itu, Bambang mengatakan proyeksi pertumbuhan ekonomi pemerintah tidak jauh berbeda dengan BI karena berada pada kisaran 5,7% - 6,0%, atau masih sesuai dengan asumsi dalam APBN 2014 sebesar 6,0%.

Namun, penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini dapat terjadi akibat perlemahan kinerja konsumsi dalam negeri serta perlambatan sektor ekspor, meski kinerja investasi diperkirakan meningkat.

Di mata investor, data pertumbuhan ekonomi yang akurat dan valid pada dasarnya merupakan pedoman untuk membuat business plan para pengusaha. Sebab itu, akurasi perhitungan data pertumbuhan ekonomi yang tidak terlalu optimistis dan pesimistis tentu menjadi bagian dalam proses pengambilan keputusan investasi di Indonesia. Semoga!