Kapitalisasi Bursa Melesat, Momen Tepat IPO

Rabu, 19/03/2014

NERACA

Jakarta- Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, nilai kapitalisasi pasar saham di bursa telah mencapai Rp4.800 triliun atau sekitar US$425 miliar. Angka tersebut dinilai hampir menyamai kapitalisasi pasar saham tertinggi di Mei 2013 lalu yang mencapai Rp5.000 triliun atau sekitar US$520 miliar. “Kapitalisasi pasar saham saat ini US$425 miliar atau Rp4.800 triliun, kembali seperti Mei 2013 yang menembus Rp5.000 triliun atau US$520 miliar,” kata Direktur Utama BEI Ito Warsito, di Jakarta (18/3).

Pencapaian tersebut, sambung dia, tidak lepas dari pertambahan jumlah perusahaan yang masuk ke pasar modal. Pasalnya, semakin banyak perusahaan yang masuk bursa, semakin bertambah pula kapitalisasi pasar saham di bursa. Sehingga, dengan terus meningkatnya nilai kapitalisasi pasar saham ini menjadi momentum yang tepat bagi perusahaan untuk melantai di bursa. “Saat ini timing bagus untuk go public,” ujarnya.

Dalam kesempatan ini, pihaknya menyambut baik upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang terus melakukan sosialisasi ke perusahaan-perusahaan di Indonesia akan manfaat menjadi perusahaan publik. Dengan demikian, ke depannya diharapkan terus meningkat. "Itu adalah inisiatif dari OJK untuk memperbanyak jumlah emiten di BEI," tambahnya.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Nurhaida menyebutkan, sepanjang 2013 terdapat 31 perusahaan yang mencatatkan sahamnya (listing) di BEI dengan nilai Rp 51,98 triliun terdiri dari IPO Rp 16,7 triliun, Rights Issue Rp 32,97 triliun, dan waran Rp22,6 triliun. “Agar sejajar dengan negara lain dan sejajar dengan sektor perbankan sehingga tidak hanya ditopang perbankan yang kuat tapi juga pasar modalnya. Untuk itu perlu emiten lebih banyak dan investor lebih banyak,” cetusnya.

Sebelumnya disebutkan, Indonesia merupakan salah satu negara dengan emiten yang sedikit jumlahnya di kawasan Asia, yaitu hanya 488 emiten Bahkan, Indonesia kalah dari Thailand yang mencapai 585 emiten, Singapura 585 emiten dan Malaysia 899 emiten.

Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia, Isaka Yoga pernah mengatakan, industri pasar modal Indonesia masih tertinggak jauh dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya, mulai dari jumlah investor dan emiten, minimnya produk investasi dan likuiditas pasar. Alasannya, di negara Asia yang lain, budaya pasar modalnya kuat sehingga perkembangannya cukup besar. “Sedangkan di Indoneisa masyarakat yang tahu pasar saham saja sedikit, sehingga pertumbuhannya terkesan lamban dibandingkan negara lain,” ucapnya.

Tidak hanya itu, budaya orang Indonesia yang lebih gemar menabung di bank dibandingkan harus bermain saham menjadi kendala dangkalnya industri pasar modal di Indonesia. Masyarakat, kata Isaka, lebih memilih menabung dibank karena lebih pasti ketimbang bermain saham yang dinilai tidak ada jaminan. Alhasil, pola pikir masyarakat tertanam bila bermain saham itu tidak nyaman. (lia)