Industri Pariwisata Indonesia Kalah dari Malaysia dan Thailand

Rabu, 19/03/2014

NERACA

Jakarta - Sektor pariwisata termasuk salah satu lini usaha yang bakal diliberalisasi dalam pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Menyadari kondisi itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengklaim sudah menyiapkan standarisasi pelaku industri pariwisata agar dapat bersaing dengan tenaga kerja serupa di kawasan.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu mengatakan, hingga akhir 2013, jumlah tenaga kerja turisme yang sudah disertifikasi mendekati 60.000 orang. Itu di luar kalangan swasta yang juga menggelar sertifikasi untuk para pegawainya secara swadaya.

"Sejak 2006 sudah ada proses yang kita lakukan, sekitar 32 profesi sudah ada standarnya. Ini baru kita, ada juga yang dilakukan industri, untuk menyiapkan diri pada saat Masyarakat Ekonomi ASEAN," kata Mari di Jakarta, Selasa (18/3).

Standarisasi profesi terkait pariwisata misalnya pemandu perjalanan, koki, kelasi kapal pesiar, hingga agen perjalanan. Mari mengingatkan persiapan itu penting lantaran dari peringkat daya saing pariwisata, Indonesia berada di posisi 4 di Asia Tenggara. Masih kalah dari Singapura, Thailand, dan Malaysia.

Dia optimis, peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor pariwisata dapat mendukung industri ini menghadapi liberalisasi pasar. Tanpa kesiapan di sisi tenaga kerja, pemerintah khawatir turis akan lebih memilih pesiar ke negara jiran. "Yang penting itu standar, karena pariwisata sudah masuk perjanjian business priority list di ASEAN," ungkapnya.

Sepanjang periode 2005-2012 pariwisata ASEAN tumbuh 8,3 % per tahun. Jauh di atas pertumbuhan global yang hanya 3,6%. Khusus tahun lalu, jumlah turis ke ASEAN mencapai 92,7 juta orang, meningkat 12 %. Data ini, menurut Mari, menunjukkan peluang pertumbuhan industri di Tanah Air.

Sedangkan sesuai data Kemenparekraf, kini pariwisata berada di peringkat 4 penghasil devisa mencapai US$ 10 miliar. Kontribusi pariwisata terhadap PDB 3,8 %, dan menyerap 10,1 juta orang tenaga kerja, atau 8,9 % dari total angkatan kerja di seluruh Indonesia. “Disisi lain Kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan kunci sukses Indonesia dalam menghadapi "ASEAN Economic Community" (AEC) 2015. Pertanyaannya bagaimana kita menyiapkan diri dalam menghadapi AEC 2015, kunci suksesnya ada pada kualitas SDM," kata Mari.

Ia mengatakan, dalam menghadapi AEC 2015 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sudah mempersiapan berbagai program. Misalnya sejak 2007 hinga 2013, Kemenparekraf telah melakukan sertifikasi sebanyak 58.627 tenaga kerja pariwisatadi bidang hotel dan restoran, spa, biro perjalanan, jasa boga, MICE maupun pemandu wisata. "Ini mengacu dari implementasi 'Mutual Recognition Agreement (MRA) on Tourism Professionals' yang menyepakati 32 standar profesi bidang pariwisata," paparnya.

Pihaknya juga telah melakukan berbagai program peningkatan kapasitas (capacity building) untuk para pelaku kreatif maupun memfasilitasi peningkatan kemampuan usaha dalam inkubator bisnis sebagai upaya memunculkan para entrepreneurkreatif yang siap terjun ke pasar global.

Menurut Mari, banyak wirausaha muda kreatif Indonesia setelah mengikuti program inkubator bisnis kini mampu bersaing di pasar global termasuk pasar ASEAN. "Mereka di antaranya wirausaha muda di bidang fashion atau desainer, konten digital termasuk game online dan animasi, serta software," tuturnya.

Beberapa wirausaha yang telah sukses itu di antaranya Tex Saverio, Toton Januar, Vinora Ng, Novita Yunus (desainer tas), Liana Gunawan (desainer sepatu), Nanida Jenahara Nasution (desainer baju muslim), Dread Out (game online), Binekon (animasi ditigal), dan Kuasa (software).

"Andalan dari ekonomi kreatif adalah para pelaku-pelaku kreatif itu sendiri. Pemerintah memfasilitasi dan mendorong para enterpreuner kreatif menjadi wirausaha muda kreatif yang mampu berkompetisi di pasar global," ujar Mari.

Sementara itu, Praktisi pariwisata menilai Indonesia siap bersaing dalam ajang ASEAN Economic Community (AEC) yang akan dibuka pada 2015 mendatang. Pasalnya, Pemerintah telah melakukan berbagai upaya konkret untuk menunjang bisnis sektor tersebut seperti pembangunan 12 bandara baru. Meski begitu pemerintah masih harus melakukan improvisasi agar keberhasilannya maksimal.

“Potensi wisatawan asing ke Indonesia tahun 2014 ini saja bisa mencapai 9,2 juta orang. Saya kurang tahu persisnya tahun 2013 seperti apa. Tapi yang pasti target 2014 menunjukan pertumbuhan. Dan tahun depan dipastikan dapat lebih tinggi dari itu,” kata Chief Operating Officer PT Dwidaya World Wide, Effendy Dharmawan.

Hal ini membuat Effendy menilai dari sektor pariwisata Indonesia sudah sangat siap bersaing pada ajang AEC. “Sebagai tuan rumah tentu pemerintah harus punya persiapan yang baik. Hal itu terlihat dengan dibangunnya 12 bandara baru di Indonesia.” Bahkan dengan populasi sebesar 240 juta jiwa Effendy menilai hal tersebut menjadi modal tersendiri.

Terlebih masyarakat Indonesia terkenal dengan ramah-tamahnya. Sedangkan potensi tersebut menjadi salah satu modal yang sangat penting di industri pariwisata. “Tapi memang harus ada pengembangan intelektualitas di tengah masyarakat kita. Agar keramah-tamahan yang kita bangga-banggakan itu betul adanya. Karena modal penting dari pelayanan dalam industri pariwisata yaitu keramahan,” ungkap Effendy.