Pemilu dengan Modal Kejujuran

Oleh: Irfan Alma, Pemerhati Keamanan dan Ketertiban Hukum

Rabu, 19/03/2014

Pelaksanaan pemilihan calon legislatif (Caleg) pada pemilu legislatif 2014 untuk duduk di kursi parlemen tinggal menunggu hitungan hari saja. Terhitung seluruh sendi kehidupan di tanah air telah pula mempersiapkan datangnya pelaksanaan pemilihan paling akbar tersebut. Pesta demokrasi sebagai ajang pesta kenegaraan terbesar lima tahunan sekali yang akan dilaksanakan secara serentak di seluruh penjuru negeri. Apalagi seluruh aktifitas bakal diliburkan selama satu hari atau selama pelaksanaan dengan kata lain dilaksanakan libur nasional. Terlebih bagi para calon yang akan bertarung, sudah tentu akan mempersiapkan dirinya sebaik mungkin dari mulai mempersiapkan diri untuk melaksanakan pemungutan suara sampai dengan mempersiapkan tim sukses yang bertugas sebagai saksi internal untuk memantau pelaksanaan pemungutan suara serta sebagai pelaksana proses hitung cepat 'Quick Count' ala caleg tersebut.

Selain itu proses pemilihan calon anggota legislatif yang akan memilih wakil rakyat dalam kursi dewan tersebut diikuti oleh banyak calon anggota dewan, baik yang masih duduk di bangku dewan maupun bagi pendatang baru yang ingin mencoba peruntungan. Jumlahnya juga bukan sedikit. Entah dimana kharismanya. Mungkin terlanjur bagi sebagian pihak menilai menjatuhkan pilihan untuk menjadi seorang wakil rakyat adalah kehidupan yang cukup menjanjikan. Berpenghasilan di atas rata-rata dan tentu saja memiliki hak dan kewenangan serta 'taraf hidup' yang dianggap lebih istimewa dan terhormat dibanding rakyat yang diwakilinya.

Berdasarkan data yang dilansir dari situs Komisi Pemilihan Umum (KPU) bahwa ada tiga tingkatan pemilu legislatif yaitu pemilihan DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten Kota dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Secara rinci, jumlah daerah pemilih di tingkat pusat DPR RI ada sebanyak 77 dapil dengan jatah sesuai Undang Undang sebanyak 560 kursi. Sedangkan DPD terdiri dari 33 dapil pada tiap provinsi dengan jumlah kursi yang diperebutkan 132 kursi. Sedang dalam DPRD provinsi ada 259 dapil dengan 2.112 kursi. Lalu yang terbanyak adalah DPRD Kabupaten Kota dengan 2.102 dapil dan sebanyak 16.895 kursi. Kalkulasinya secara nasional adalah 19.699 unit kursi untuk 2.471 daerah pemilihan. "Jumlah calon (secara nasional) lebih kurang 200 ribu orang," kata ketua KPU Husni Kamil Manik pada suatu kesempatan.

Bertarung Dengan Adil

Pertarungan yang hakiki adalah pertarungan dengan memakai cara yang baik dan benar. Yaitu dengan memakai mekanisme yang sesuai dengan koridor yang disepakati bersama. Tidak ada kemenangan yang diperoleh dengan memakai cara yang tidak terpuji. Sebab apapun hasilnya pertarungan yang disiapkan dengan memakai jalan curang adalah sebuah hasil yang gagal dan tidak terhormat. Secara filosofi, kemenangan seorang penipu sama tidak terpandangnya dengan kekalahan jiwanya. Benar, jiwa seorang penipu sungguh tidak pernah pantas untuk menjadi seorang pemimpin. Bagaimana seorang penipu akan bisa untuk memperjuangkan suara rakyat yang memilihnya?

Diantara beberapa hal yang harus dipatuhi oleh seorang/pihak yang akan bertarung dalam musim pemilu legislatif tahun ini adalah untuk tidak bermain kotor dengan memakai cara politik uang yang biasa dikenal dengan istilah serangan fajar. Yaitu mendatangi para pemilih dipagi hari dan membagi-bagikan uang atau materi lainnya menjelang dimulainya pemilihan. Hal tersebut diatur dalam pasal 13 ayat (4) Undang Undang nomor 8 tahun 2012 tentang pemilihan umum yang intinya mengatakan seorang pendukung tidak dibolehkan memberikan dukungan kepada lebih dari satu orang calon serta melakukan perbuatan curang untuk menyesatkan seseorang, dengan memaksa, menjanjikan atau dengan memberikan uang atau materi lainnya untuk memperoleh dukungan dalam pemilu.

Melaporkan segala perbuatan yang melanggar atau yang tidak sesuai dengan yang semestinya kepada pihak pengawas pemilu/bawaslu/panwaslu untuk mengantisipasi kemungkinan yang tidak diinginkan. Sebab dalam beberapa kasus hampir dapat dipastikan akan terjadi sengketa usai proses pemilu dilaksanakan.

Apapun hasilnya dan siapapun yang tampil sebagai pemenang, rasanya rakyat hanya meminta agar segalanya berjalan dengan baik dan semestinya. Rakyat sudah sangat bosan dengan pembangunan yang terbengkalai serta dianggap gagal di sana-sini. Infrastruktur serta sarana dan prasarana pembangunan yang tidak pernah terselesaikan dengan baik menjadi kenyataan pahit produk pembangunan bangsa. Alih-alih mencerdaskan kehidupan dan mengangkat harkat derajat bangsa, justru orang-orang munafik yang semakin banyak hadir diantara kulminasi tripartit dan korporasi dan berubah menjadi siluman yang tanpa ampun menghisap sari pati bangsa hingga hutang negara ini membengkak di luar sewajarnya.

Sederhana saja, rakyat menginginkan republik ini berjalan dengan semestinya. Harga-harga sembako yang murah, listrik tidak pernah padam, pendidikan yang murah dan terjamin, akses kesehatan yang terjangkau dan yang terutama keamanan terlaksana dengan menjadikan sandaran hukum yang jelas dan hakiki bagi siapa saja.

Dengan terhormat

Dari sekitar 200 ribuan calon anggota legislatif yang akan bertarung untuk memperebutkan 19.000 lebih kursi di seluruh Indonesia sudah dapat dipastikan akan lebih banyak yang kalah daripada yang menang. Sudah tentu pula kekalahan tersebut akan berbanding lurus dengan segala resiko yang akan ditanggungnya sendiri. Seperti kita ketahui bahwa modal untuk menjadi seorang calon legislatif untuk ikut serta dalam pemilu 2014 bukan sedikit. Tarohlah calon tersebut tidak memakai lobi partai sana-sini, atau tidak menggunakan alat peraga kampanye yang mahal, tapi setidaknya 20 bulan sebelum hari pemilihan seperti yang tertera dalam undang-undang pemilu nomor 8 tahun 2012 tersebut adalah bukan waktu yang singkat. Sejak masa persiapan hingga masa tenang kampanye.

Peserta pemilu legislatif tersebut berasal dari beragam golongan. Ada pengusaha, petinggi dan pengurus partai, artis terkenal, pejabat publik, pensiunan jenderal, bahkan pedagang sate dan tukang parkir juga ada. Semuanya demikian ambisius untuk mampu terpilih. Bisa dibayangkan ukuran kekalahan tersebut akan diartikan lewat berbagai cara sesuai dengan resikonya masing-masing. Maksudnya adalah jika pada waktu persiapan caleg tersebut telah mengambil resiko dengan meminjam dana dari sana sini, bahkan sampai mengagunkan surat berharga dan harta lainnya hanya untuk menarik simpati para pemilih namun ternyata suara yang didapatkannya tidak sampai untuk mengantarkannya ke gedung dewan. Sudah tentu dirinya hanya akan menanggung hutang. Jangan sampai hutang dan beban tersebut tidak dipertanggung jawabkannya. Sehingga wajar saja Ketua KPU sempat berujar dalam sebuah rapat bahwa ada kemungkinan menyiagakan rumah sakit fisik dan psikis untuk menghadapi masa pasca pemilu disamping kesiagaan pihak aparat keamanan untuk mengatasi dampak pelanggaran pidana yang mungkin terjadi.

Lebih baik menggunakan hak pilih daripada golput. Pilihlah calon yang sesuai dengan suara hati sanubari masing-masing. Bukan atas pengaruh baik bujuk rayu maupun ancaman pihak lain. Satu suara yang kita berikan akan berpengaruh bagi kelangsungan pembangunan bangsa. Paling tidak, kita telah berpartisipasi untuk mencari jalan yang lebih baik. Hindari politik uang. Apalah artinya uang dengan nominal sekian namun harga diri digadaikan. Meski dalam berbagai kasus kebanyakan hanya mau uangnya tapi tidak memilihnya, sama saja tetap termakan dosa.

Kemenangan juga bukan kegembiraan euphoria yang berlebihan. Hargai kandidat yang belum beruntung. Kemenangan untuk terpilih menjadi salah satu anggota legislatif hanya salah satu langkah dasar buktikan kemampuan untuk bekerja dengan sungguh-sugguh berdasarkan visi, misi dan tujuan seperti yang dikampanyekan sebelumnya.

Ingat duduk menjadi salah satu anggota dewan yang dipandang terhormat tersebut bukan untuk memperkaya diri walaupun tak ada yang menyangkal untuk menjadi salah satu anggota dewan tersebut memakai modal yang tidak sedikit. Serta bagaimanapun kekalahan tersebut bukan untuk dijadikan sebuah kehancuran. Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda. Bertanggung jawab atas kalah dan menang adalah jiwa paling ksatria. Tak perlu terlalu menutup diri dari masyarakat meski mungkin pernah mengkampanyekan sebuah kebaikan. Berbaik sangkalah terhadap setiap kemenangan dengan memberikan selamat.

Semoga dalam pelaksanaan pemilu legislatif tahun 2014 ini akan berlangsung dengan aman, nyaman, tertib dengan memaknai azas yang langsung, umum, bebas, rahasia serta jujur dan adil. Mari menjadikan pesta demokrasi sebagai sebuah proses pemilihan paling jujur dan tidak terpengaruh oleh segala sikap tidak terpuji yang dapat memecah keharmonisan sebagai kehidupan bernegara. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melindungi para pemimpin bangsa yang terpilih dengan jujur untuk bekerja dan menyampaikan amanah bagi kemajuan perkembangan bangsa. (analisadaily.com)