Kemenkop Terus Genjot Inkubator Bisnis

Rabu, 19/03/2014

Jakarta - Pertumbuhan inkubator bisnis di Indonesia mengalami keterlambatan jika dibandingkan dengan negara lain namun pemerintah sedang berupaya mengejar ketertinggalan itu, kata Deputi Bidang Pengembangan dan Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM Braman Setyo.

"Kita memang terlambat tapi dengan adanya Peraturan Presiden Nomor 27 tahun 2013 maupun Norma Standar Prosedur dan Kriteria (NSPK) Menteri Koperasi dan UKM, diharapkan dapat lebih menciptakan dan mengembangkan serta menumbuhkan wirausaha baru dan penguatan kapasitas wirausaha pemula (start up) yang berdaya saing tinggi," kata Braman Setyo di Jakarta, Senin.

Pihaknya sendiri telah menggandeng 20 Inkubator Bisnis untuk bekerja sama dalam penyelenggaraan inkubator wirausaha yang kini harus menyesuaikan dengan ketentuan Peraturan Presiden selambat-lambatnya dalam waktu dua tahun, khususnya standar penyelenggaraan inkubator wirausaha.

Ia mengakui, sampai saat ini, program inkubator sebagian besar masih dilakukan oleh perguruan tinggi saja. "Tapi dengan adanya Perpres dan NSPK, Inkubator dapat diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha atau masyarakat," katanya.

Inkubator bisnis merupakan lembaga yang memberikan program yang didesain untuk membina dan mempercepat keberhasilan pengembangan bisnis melalui rangkaian program permodalan yang diikuti oleh dukungan kemitraan/pembinaan elemen bisnis lainnya dengan tujuan menjadikan usaha tersebut menjadi perusahaan yang profitable.

Selain itu juga agar usaha memiliki pengelolaan organisasi dan keuangan yang benar, serta menjadi perusahaan yang sustainable, hingga akhirnya memiliki dampak positif bagi masyarakat. "Kesuksesan penyelenggaraan inkubator wirausaha dapat diukur dengan sejauh mana keberhasilan maupun kegagalan UKM tenant selama diinkubasi oleh inkubator baik in wall maupun out wall," katanya.

Selama ini sukses tidaknya inkubator bisnis dinilai dari berapa banyak jumlah UKM tenant yang lulus inkubasi, adanya peningkatan pendapatan tenant, jumlah tenaga kerja, omzet, aset, produktivitas maupun pangsa pasar.

Braman berpendapat, keberhasilan proses inkubasi, sangat tergantung dari pembimbing dalam melakukan inkubasi terhadap UKM tenant. "Pendampingan perlu metode, mulai dari awal, yaitu dengan mendiagnosis ide bisnis, sampai dengan kemampuan UKM tenant mengakses legalitas produknya maupun pembiayaannya," katanya.