Ekspektasi Positif Topang Penguatan IHSG

Fundamental Ekonomi dan Politik

Selasa, 18/03/2014

NERACA

Jakarta – Meskipun sudah memasuki tahun politik, laju indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) terus bergerak melesat tajam. Hal ini disebabkan adanya ekspektasi positif pelaku pasar terhadap fundamental ekonomi dan politik di Indonesia, sehingga menjadi penopang indeks BEI terus menguat tahun ini.

Head of Equity Research Mandiri Sekuritas, John Rachmat mengatakan, ekspektasi positif pada fundamental ekonomi dan politik di Indonesia akan menjadi penopang IHSG pada tahun ini,”Dalam teori pergerakan saham, ekspektasi perubahan yang baik atau buruk dalam suatu negara akan mempengaruhi, adanya ekspektasi yang baik oleh pelaku pasar maka industri pasar modal akan positif ke depannya," ujarnya di Jakarta, Senin (17/3).

Dia mengakui, menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) faktor politik cukup kuat mempengaruhi pergerakan pasar namun lebih bersifat semu jika tidak didukung fundamental ekonomi yang kuat,”Pada Mei nanti, faktor fundamental ekonomi akan betul-betul menjadi perhatian utama. Pada bulan itu, akan dirilis data ekonomi Indonesia periode kuartal I, dalam bayangan saya ekonomi Indonesia masih akan tumbuh," ucapnya.

John Rachmat mengemukakan, salah satu asumsi ekonomi Indonesia tumbuh pada kuartal I 2014 itu yakni adanya pertumbuhan konsumsi yang tinggi pada tahun Pemilu."Setiap Pemilu, dana akan mengalir ke sektor konsumsi, tidak pemilu saja mengalir. Jadi, seharusnya tahun ini pertumbuhannya lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya," ujarnya.

Kemudian, lanjut dia, adanya ekspektasi yang positif terhadap pemimpin baru yang akan mengeluarkan kebijakan mendukung pasar keuangan. Diharapkan, ke depanya ada kebijakan yang baik terkait dengan larangan ekspor minerba yang dapat mengganggu kinerja emiten pertambangan.

Terkait IHSG BEI, John Rachmat mengatakan bahwa Mandiri Sekuritas memproyeksikan indeks BEI masih akan mencapai posisi 5.550 poin jika Presiden Indonesia terpilih sesuai dengan ekspektasi pasar. Sebelumnya, Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang pernah mengatakan, kenaikan IHSG yang mencapai 4.878,64 di akhir pekan kemarin merupakan euforia market yang harus dicermati pelaku pasar. Karena pada kenyataannya, data-data regional dan fundamental makroekonomi Indonesia sendiri dalam kondisi yang tidak terlalu bagus. “Sengaja dimunculkan opini publik, seolah-olah market itu optimis dan mendukung.” kata Edwin.

Jika di-review kembali, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan akhir pekan kemarin, Jumat (14/2) menguat sebanyak 152,47 poin, atau sebesar 3,22% ke level 4.878,64 di tengah bursa regional lainnya melemah secara signifikan. Tercatat, Indeks Nikkei mengalami penurunan 488,32 poin atau sebesar 3,30% menjadi 14.327,66, indeks Straits Times turun 0,27% menjadi 3.073,00, dan indeks Hang Seng turun 216,59 poin atau 1% ke 21.539,49.

Penurunan tersebut antara lain dipicu kekhawatiran investor atas terjadinya perlambatan ekonomi di Cina, dan ketegangan politik di Ukraina yang dinilai masih akan berlanjut. Di sisi lain, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya sekitar 5,5%-5,8%, dan terjadi penurunan penyaluran kredit perbankan, serta ekspektasi menurunnya revenue emiten. Oleh karena itu, Edwin menyarankan agar investor bersikap secara rasional dan logis. “Sebagai investor kita harus menikmati secara rasional dan logis, dengan kembali melihat ke kinerja emiten.” ucapnya.

Menurut dia, penguatan IHSG masih dapat bertahan dalam 1-2 hari ke depan. Kesempatan untuk melakukan aksi jual alias cuci barang pun dapat dimanfaatkan investor. “Investor tahu kinerja emiten dan pertumbuhan ekonomi 2014 tidak sebagus yang diperkirakan. Ekonomi hanya bertumbuh paling tinggi 5,8% setara dengan EPS Rp317/saham.” jelasnya. (bani)