Emisi Obligasi di Bursa Capai Rp 4,3 Triliun

Kuartal Pertama

Selasa, 18/03/2014

NERACA

Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia mencatat total emisi obligasi maupun sukuk yang diterbitkan sepanjang tahun ini sebanyak lima emisi dari lima emiten senilai Rp4,3 triliun. Dijelaskan, total nilai penerbitan obligasi tersebut bertambah dengan dicatatkannya Obligasi Berkelanjutan I Federal International Finance dengan tingkat bunga tetap tahap III tahun 2014 yang diterbitkan oleh PT Federal International Finance (FIFA) senilai Rp1,55 triliun.

Informasi tersebut disampaikan BEI dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin. Disebutkan, Obligasi tersebut terdiri atas dua seri, yakni seri A senilai Rp805 miliar dengan jangka waktu 370 hari, seri B senilai Rp745 miliar dengan tenor 36 bulan.

Sebelumnya PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) telah menerbitkan Obligasi Berkelanjutan II BFI Finance Indonesia Tahap I Tahun 2014 sebesar Rp500 miliar terdiri atas tiga seri, yakni seri A dengan nominal Rp225 miliar bertenor 370 hari, seri B senilai Rp55 miliar dengan tenor dua tahun dan seri C senilai Rp220 miliar dengan jangka waktu tiga tahun.

Dengan pencatatan ini, maka total emisi obligasi maupun sukuk yang tercatat di BEI sebanyak 249 emisi dari 105 emiten, dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp276,21 triliun dan US$ 100 juta. Surat Berharga Negara (SBN) tercatat mencapai 96 seri sebesar Rp1.063,92 triliun dan lima Efek Beragun Asset (EBA) senilai Rp2,28 triliun.

Direktur Utama PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) atau IBPA, Ignatius Girihendro pernah bilang, minat beli investor asing terhadap obligasi Indonesia masih tinggi seiring dengan imbal hasil atau yield yang menarik, “Dari sisi ketersediaan produk, pemerintah merencanakan untuk menerbitkan surat utang pada tahun 2014 mencapai Rp357 triliun,”ujarnya.

Selain itu, lanjut Ignatius Girihendro, untuk obligasi korporasi pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan pada tahun ini sebanyak 57 obligasi korporasi diterbitkan pada 2014. Jumlah penerbitan obligasi korporasi tersebut meningkat dibandingkan target penerbitan obligasi pada 2013 yang sebanyak 50 emisi obligasi korporasi.

Kendati demikian, menurut dia, pada pertengahan tahun ini emiten akan memilih "wait and see" untuk menerbitkan obligasi. Penerbitan obligasi diperkirakan akan semarak di kuartal tiga dan empat tahun ini. Maka untuk mendukung likuiditas pasar obligasi agar tetap menarik asing, kata Ignatius, pihaknya bersama dengan regulator pasar modal segera menuntaskan pembentukan mekanisme perdagangan obligasi layaknya perdagangan saham lengkap dengan indeksnya agar investor mendapatkan harga acuan yang lebih jelas.

Menurut dia, jual beli surat utang saat ini masih banyak terjadi di luar bursa atau "over the counter" (OTC) sehingga belum tercipta prinsip perdagangan yang wajar, transparan, dan teratur. Dia menjelaskan, sifat perdagangan OTC adalah berdasarkan kesepakatan para pihak yang berkepentingan baik dari sisi harga maupun momen transaksinya. (bani)