Industri Logistik Sulit Bersaing di Pasar Bebas ASEAN 2015 - Dampak Infrastruktur Buruk

NERACA

Jakarta - Pengusaha logistik yang tergabung dalam Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) mengaku Indonesia akan sulit untuk menghadapi era liberalisasi ekonomi ASEAN pada 2015.Itu karena berbagai kekurangan yang masih membeli sektor logistik seperti infrastruktur, ekonomi biaya tinggi dan lainnya.

Ketua Umum ALFI Iskandar Zulkarnain mengatakan bahwa tantangan sektor logistik di Indonesia semakin berat. Faktor daya saing logistik yang masih terpuruk hingga biaya logistik yang relatif tinggi akan membuat Indonesia tidak mudah untuk memasuki era liberalisasi ekonomi ASEAN pada 2015.

"Banyak persoalan yang sedang dihadapi industri logistik seperti infrastruktur penunjang logistik yang buruk sehingga biaya logsitik di dalam negeri masih cenderung mahal," ujar dia di Jakarta, Senin (17/3).

Kondisi ini, lanjut dia, diperparah dengan tren kenaikan tarif-tarif kepelabuhan maupun kebandarudaraan di Indonesia.

Hal ini pula yang membuat pengusaha menggelar Musyawarah Nasional (Munas) ke-5 yang berlangsung selama dua hari yaitu mulai 17-18 Maret 2014. Munas ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam menentukan arah usaha dan bisnis logistik Indonesia dalam menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.

Ketua Panitia Pelaksana Munas ALFI Akbar Djohan menjelaskan bahwa Munas ini diharapkan mampu menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi industri logistik sehingga Indonesia semakin siap menghadapi MEA 2015. "Kami ingin sektor logistik semakin berdaya saing setelah sempat terputuk hingga rangkin 75 dunia beberapa tahun lalu," jelasnya.

Menurut Akbar, daya saing logistik Indonesia saat ini telah membaik dengan indikasi kenaikan rangking menjadi 47 dunia."Namun ini masih jauh kalah bersaing dengan negara ASEAN yang akan menjadi pesaing utama pada 2015," katanya.

Sementara itu, meski terus menunjukan tren pertumbuhan ekonomi yang positif, Indonesia masih menghadapi persoalan yang cukup serius. Kalangan usaha mengakui pergerakan ekonomi Nusantara hingga saat ini masih terkendala dengan harga logistik yang terbilang cukup tinggi.

Logistik Mahal

Pengamat Transportasi dan Logistik, Yamin Jingca menilai, mahalnya harga logistik di tanah air setidaknya disebabkan tiga faktor utama. Persoalan pertama adalah sistem di Indonesia yang dinilai kurang bagus. Selama ini jumlah pasokan barang yang ada umumnya tidak merata.

"Setiap kapal yang mengangkut barang mauatan ke suatu daerah, kembalinya kapal itu pasti muatannya kosong, kalaupun ada pasti tidak penuh. Kalau sifatnya dua arah itu kan akan lebih efisien dan menghemat cost," ungkap Yamin.

Faktor kedua adalah kondisi kapal. Yamin menilai bahwa kapal-kapal yang digunakan untuk mengangkut barang logistik selama ini telah banyak yang berumur tua. Kondisi tersebut membuat aktifitas pemeliharaan dan perawatannya memerlukan biaya besar yang berimbas pada arus pendistribusian logistik.

Sementar a faktor terakhir berasal dari pelabuhan. Selama ini, ujar Yakim, tingginya harga logistik di pelabuhan disebabkan adanya pendangkalan akse laut menuju dermaga dan akses darat dari pelabuhan yang kurang dikembangkan. "Akibatnya banyak kontainer yang menumpuk. Seharusnya, kalau mau bangun pelabuhan itu, bangun jalannya dulu jangan malah bangun pelabuhannya dulu,"imbuhnya.

Menurut Yamin, akibat adanya berbagai permasalahan tersebut, terjadinya kesenjangan harga yang sangat tinggi di berbagai daerah terutama di Indoensia bagian timur.

Disisi lain, Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, ada enam faktor di Indonesia yang membuat mahalnya biaya logistik.

Biaya logistik yang tinggi itu mengakibatkan mahalnya harga barang setelah diangkut. Hatta menyebutkan, keenam faktor yang membuat mahalnya biaya logistik tersebut yakni, pertama pusat distribusi, dimana saat ini pusat distribusi di Indonesia masih sangat kurang sehingga diputuskan untuk mempercepat membangun pusat distribusi regional.

Faktor yang kedua adalah infrastruktur yang dinilai masih kurang walaupun telah ada perbaikan. Faktor ketiga adalah mengenai pelaku dan penyedia jasa logistik, dimana biaya-biaya tambahan yang dibebankan oleh penyedia jasa logistik membuat biaya mahal.

Faktor keempat dengan belum adanya sertifikasi untuk menertibkan hal itu, yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi. Faktor yang kelima regulasi, dimana regulasi pembiayaan pengangkutan logistik dijanjikan akan terus diperbaiki. Dan faktor yang keenam adalah information, communication dan technology.

BERITA TERKAIT

Nissan SUV New Terra Masuk Pasar Asia Tenggara

Nissan meluncurkan SUV New Terra di Filipina sebagai bagian dari langkah perusahaan guna memperkuat komitmennya di kawasan Asia Tenggara. Pelanggan…

Honor 7A Resmi Masuk di Pasar Indonesia

Honor secara resmi memperkenalkan smartphone terbarunya untuk pasar Indonesia. Kali ini, perusahaan asal Tiongkok itu memboyong Honor 7A yang ditujukan…

Pasar Murah Asa Masyarakat Kecil Sambut Lebaran - Menjangkau Daya Beli Masyarakat

Tingginya harga kebutuhan pokok menjelang Lebaran, selalu menjadi momok menakutkan bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan di hari raya. Apalagi, bagi…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Ini Jurus Wujudkan Indonesia Jadi Kiblat Fesyen Muslim Dunia

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berupaya mewujudkan visi Indonesia untuk menjadi kiblat fesyen muslim dunia pada tahun 2020. Peluang…

Laporan Keuangan - Satu Dekade, Kemenperin Raih Opini WTP Berturut

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk laporan keuangan…

Dukung Industri 4.0 - Kemenperin Usul Tambah Anggaran Rp 2,57 Triliun

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mengusulkan tambahan anggaran pada tahun 2019 kepada DPR RI sebesar Rp2,57 triliun. Anggaran tersebut…