Furniture dan Kerajinan Indonesia Kian Populer di Dunia

Selasa, 18/03/2014

NERACA

Jakarta – Pameran furniture dan kerajinan terbesar di Indonesia, yaitu IFEX (Indonesia International Furniture Expo) yang berakhir pekan lalu membuat rekor baru dari segi jumlah pengunjung dan exhibitor. Acara tersebut menegaskan kekuatan Indonesia dan popularitas sektor industri furniture dan kerajinan nasional, dan mempersiapkan acara yang lebih besar yang sudah dijadwalkan pada bulan Maret 2015.

"Upaya kami bekerja sama dengan penyelenggara Dyandra UBM International sudah menuai hasil yang optimal. Tujuan kami adalah untuk meningkatkan lagi kualitas dan kuantitas pameran ini. Respon dari pembeli, pengunjung, media, dan pemerintah menunjukkan bahwa kita telah mencapai goal seperti yang kami rencanakan. Ini adalah dorongan besar bagi kami untuk melakukan yang lebih baik lagi pada tahun 2015, " kata Ir. Soetono, Ketua Umum AMKRI (Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia) dalam keterangan pers yang dikutip, Senin (17/3).

Dengan 5000 pembeli dari 110 negara, dan sekitar 700 stand peserta dengan luas 40.000 m2, IFEX menawarkan pilihan produk kayu, rotan, bambu dan material lainnya untuk ruang tamu, ruang makan, kamar tidur, ruang keluarga, serta furniture untuk anak-anak. Keragaman dan kualitas produk yang dipamerkan mengkonfirmasikan kepada kita semua mengenai kemajuan Indonesia dalam industri ini, dan membuat IFEX pilihan pameran yang tidak kalah dengan pameran yang lain di Asia Tenggara. "IFEX telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, dan kerja keras dari tim pameran sangat terlihat," kata pengamat furniture Zilahi Imre dari Mag Mob, sebuah media publikasi perdagangan furniture.

IFEX berlangsung pada saat terjadi kenaikan ekspor furniture dan kerajinan di Indonesia. Negara ini memiliki lebih dari 4.000 UKM di industri mebel, dan pasar domestik tumbuh sangat cepat. Sementara, penjualan domestik untuk furniture dan kerajinan diperkirakan mencapai lebih dari US$ 700 juta per tahun, sementara ekspor furniture mencapai US$ 1,7 miliar pada tahun 2013.

Dengan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimiliki, seharusnya Indonesia bisa menjadi leader untuk industri mebel dan kerajinan di Kawasan Regional ASEAN. Dengan ketersediaan bahan baku hasil hutan yang melimpah, sumber daya manusia yang terampil dalam jumlah besar dan semakin kondusifnya iklim investasi di negeri ini, maka adanya rencana AMKRI untuk meningkatkan target pertumbuhan ekspor produk mebel dan kerajinan nasional mencapai US$5 miliar dalam lima tahun kedepan seharusnya bisa tercapai.

Diselenggarakannya pameran Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2014 serta seminar nasional yang membahas peranan desain dan pasar ini dapat mendorong tumbuhnya inovasi dan kreativitas para produsen mebel dan kerajinan nasional, para desainer, dan institusi desain serta pihak-pihak lainnya yang terkait, sehingga diharapkan kedepan mereka akan mampu menghasilkan produk-produk unggulan yang memiliki nilai tambah tinggi dan dapat menjadi salah satu produsen terkuat di pasar global.

UBM Asia adalah penyelenggara pameran komersial terbesar di Cina, India dan Malaysia. Dengan kantor pusat di Hong Kong dan anak perusahaan di seluruh Asia dan di Amerika Serikat, UBM Asia telah beroperasi di 25 kota besar. Pameran mebel internasional yang diselenggarakan oleh UBM meliputi Furniture China, INDEX India dan Malaysia International Furniture Fair (MIFF). IFEX diselenggarakan bekerjasama dengan AMKRI (Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia) serta mendapat dukungan penuh dari Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian dan instansi pemerintah yang terkait lainnya.

Tolak Ekspor Log

(AMKRI, dalam keterangan resmi terpisah, menjelaskan, adanya desakan yang kuat dan dilakukan secara terus-menerus oleh sekelompok kecil kalangan dunia usaha sektor kehutanan agar dibukanya ekspor kayu log, membuat Dirjen Bina Usaha Kehutanan Kementerian Kehutanan Bambang Hendrayono semakin meneguhkan sikapnya untuk membuka kran ekspor log. Alasannya adalah karena ada beberapa jenis kayu tertentu yang lebih menguntungkan apabila diekspor. Bambang juga memaparkan bahwa harga patokan yang tadinya dilakukan Kementerian Perdagangan, kini akan diusulkan oleh Kementerian Kehutanan.

AMKRI menyebut, industri yang kuat adalah industri yang memiliki jaminan pasokan bahan baku dalam jangka panjang dan lestari. Pada kasus industri mebel dan kerajinan yang berbasis kayu khususnya, komitmen adanya dukungan regulasi pemerintah untuk stop ekspor bahan baku adalah langkah yang sudah tepat karena bahan baku yang kita miliki merupakan komoditas yang sangat strategis.

Berkaitan dengan hal di atas, AMKRI menghimbau dengan segala kesadaran hati agar semua pihak khususnya pemerintah sebagai regulator untuk mendukung dan membuat pertumbuhan industri ini menjadi lebih baik dengan membuat kebijakan-kebijakan yang produktif serta menghilangkan kebijakan-kebijakan yang kontra produktif. Untuk itu, AMKRI memberi apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan yang teguh untuk tetap mempertahankan pelarangan ekspor kayu log yang nyaring disuarakan oleh beberapa kalangan.