Ekonomi AS Menuju Kebangkrutan?

RASIO UTANG DAN PDB HAMPIR 100%

Selasa, 02/08/2011

Jakarta - Jutaan pasang mata di dunia kini menyoroti kondisi ekonomi di Amerika Serikat (AS). Pasalnya, sebagai “kiblat” ekonomi dunia, Negeri Paman Sam itu tengah berada di pinggir jurang kebangkrutan. Tengok saja, hingga Mei 2011, total utang AS menjadi US$14,3 triliun. Padahal, produk domestik bruto (PDB)-nya tahun 2010 hanya US$14,7 triliun. Artinya, rasio utang dengan PDB semakin mendekati 100%.

NERACA

Kongkretnya, Presiden AS Barack Obama saat ini menghadapi dua pilihan sulit. Membayar gaji pegawai atau kupon obligasi? Jika memilih tidak membayar gaji pegawai, maka rakyat AS (khususnya pegawai) akan murka, dan akan berpengaruh pada Pemilu 2012 mendatang. Begitu juga sebaliknya, jika memilih tidak membayar kupon obligasi, AS akan dicap gagal bayar alias default. Bahkan peringkat AAA yang disandangnya akan lepas.

Memang, sedikit melegakan ketika terjadi kesepakatan untuk menaikkan batas pinjaman di AS. Kompromi akan memotong sekitar U$2,4 triliun defisit selama 10 tahun ke depan dan kesepakatan yang diharapkan akan lolos di Senat, tapi bisa menghadapi penentangan keras di DPR. Namun, sepertinya masalah belum bisa dibilang selesai.Ada juga kekhawatiran terhadap pemangkasan peringkat kredit AS karena pertengkaran politik, yang bisa mendorong biaya pinjaman dan mengurangi kepercayaan di negara ini.

Terkait masalah pencairan kenaikan pagu utang AS yang memasuki deadline hari ini (2/8), Lana optimis akan segera cair disebabkan kompromi antara Pemerintah Obama dengan Kongres menemui titik terang. “Yang menjadi pertanyaan paketnya seperti apa? Jangka panjang atau pendek. Pemerintah Obama tidak punya pilihan lain, harus ikut, jika tidak, terjadi default,” jelas Lana kepada Neraca, Senin (1/8).

Lana menambahkan, AS akan terus mencetak lebih banyak uang yang kemudian dilempar ke luar negeri. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk menghindari inflasi dalam negeri AS dan membuat inflasi seluruh dunia.

Seperti diketahui, Presiden Obama dan Kongres AS telah mengumumkan tercapainya kesepakatan batas utang yang akan memangkas pengeluaran dan meningkatkan plafon utang AS.

Berdasarkan kesepakatan kerangka kerja, kenaikan plafon kredit sebesar US$1 triliun akan digabungkan dengan pemangkasan US$1 triliun segera dalam pengeluaran belanja. Obama mengatakan, pemangkasan ini tidak terjadi secara bersamaan, agar tidak membebani perekonomian negeri Paman Sam itu.

Sementara di mata pengamat ekonomi Farial Anwar, menaikan pagu utang satu-satunya solusi bagi Amerika untuk penanganan masalah ekonomi di negara itu. Pagu utang itu, sebaiknya diprioritaskan untuk membayar gaji karyawan dari pada membayar utang lain. Sebab, jika tidak, dikhawatirkan akan menimbulkan gejolak baru.

“Kalau dilihat keseluruhan ekonomi negara Barat, Amerika dan Eropa itu kelihatan negara kaya. Padahal selama ini mereka hidup dari utang dengan menerbitkan surat utang yang dibeli hampir seluruh negara di dunia. Tapi sekarang ekonomi Amerika jatuh, kesulitan membayar bunga utang, dan banyak negara melepas surat utangnya. Utang Amerika melebihi US$14 triliun. Satu-satunya cara untuk menanganinya dengan menambah pagu utang. Itu pun, penggunaannya lebih baik untuk membayar gaji karyawan dulu, kalau tidak akan timbul gejolak di negara tersebut. Ujung-ujungnya bisa krisis," ujarnya kemarin.

Saat ini, Amerika menurunkan suku bunga bank sampai 0,5%. Padahal, inflasi di negara itu 1,5%. Farial berpendapat, hal tersebut hanya taktik agar tidak ada orang yang mau menyimpan uangnya tetapi malah akan dibelanjakan. "Logikanya, suku bunga bank harusnya balance dengan inflasi. Jadi, ini cuma taktik saja. Tidak mungkin ada yang mau menyimpan uang dengan bunga serendah itu (0,5%). Jadi, uang itu akan beralih dari pada disimpan malah dibelanjakan. Konsumsi kembali terdongkrak. Sedangkan dari sisi pengusaha juga menguntungkan, bunga serendah itu memacu mereka untuk berproduksi kembali", jelas Farial.

Sedangkan terkait lembaga peringkat, Farial menyebutkan, laporan lembaga pemeringkat sebaiknya tidak perlu dipercaya. Karena, hasil laporan lembaga itu sering jauh berbeda dengan kenyataan di lapangan. "Memang tidak perlu dipercaya. Mereka menyatakan level kredit Amerika AAA+. Padahal, ekonomi negara itu hampir babak belur, tidak bisa bayar utang bunga. Masa ekonomi hancur dikasih level bagus? Aneh sekali. Sekarang sudah saatnya Asia, apa lagi Indonesia, tidak terpaku lagi pada negara barat", tandas Farial

Bahkan, Farial berpendapat, mengenai “Angel Credit” yang didengungkan Menlu AS Hillary Clinton saat menghadiri kongres di Bali beberapa waktu lalu, hanyalah isapan jempol belaka. "Dia (Hillary) itu tamu, cuma ingin menyenangkan tuan rumah saja (Indonesia). Statusnya pun politisi bukan investor. Kondisi negaranya kacau balau, banyak perusahaan gulung tikar. Tidak mungkin bisa investasi di negara lain. Kalau memang punya dana lebih, pasti lebih dulu digunakan untuk memperbaiki ekonomi negaranya", tukas Farial lagi

Suka Berperang

Sementara itu, menurut Peneliti Ekonomi LIPI Agus Eko Nugroho, hancurnya perekonomian AS saat ini lebih disebabkan oleh kearogansian waktu pemerintahan terdahulu, dimana mereka merasa negara super power yang suka berperang. Padahal, berperang itu membutuhkan dana yang tidak sedikit. “Lama-kelamaan Amerika Serikat menjadi banyak masalah di keuangannya alias berutang”, ujarnya kemarin.

Bahkan, Agus Eko menegaskan, dengan kondisi utang AS yang sudah hampir sama dengan PDB-nya, itu merupakan suatu pertanda buruk bagi AS apabila tidak bisa segera menyelesaikan masalah utangnya tersebut. vanya/iwan/ardi/rin