Industri Asuransi Kian Menggeliat di 2014

Sabtu, 22/03/2014

NERACA

Asuransi kesehatan merupakan lini bisnis yang dalam beberapa tahun terakhir bertumbuh signifikan. Kenaikan biaya kesehatan menjadi salah satu sebab masyarakat melirik asuransi kesehatan.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Julian Noor mengatakan, tahun 2014 salah satu yang menjadi perhatian pelaku industri asuransi terutama yang berbisnis asuransi kesehatan adalah beroperasinya Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Menurut Julian, dari satu sisi adanya BPJS bagus buat industri, karena kalau semua masyarakat tercakup dalam program tersebut untuk manfaat dasarnya, industri tinggal mengurusion top-nya atau manfaat tambahan.

"Tetapi ada fenomena BPJS kesehatan masuk ke kelas 2 dan kelas 1, apakah ini tidak berbenturan dengan industri asuransi?" ujar Julian.

AAUI, kata Julian sudah membentuk tim untuk membicarakan hal tersebut dengan BPJS Kesehatan. Diharapkan pembahasan terkait hal tersebut bisa diputuskan dalam waktu yang tidak lama sehingga saat proses transformasi BPJS Kesehatan pelaku industri asuransi tidak merasa terganggu.

Faktor lain yang membuat persaingan tambah ketat di lini bisnis asuransi kesehatan, tutur Julian, banyak perusahaan asuransi baru yang masuk ke bisnis ini. Di sisi lain, asuransi jiwa pun turut bersaing menawarkan asuransi kesehatan. Meski demikian, Julian menilai persaingan harga di asuransi kesehatan belum terlalu mengkhawatirkan dibanding asuransi properti.

Berdasarkan data AAUI per triwulan ketiga 2013, premi asuransi kesehatan dan kecelakaan diri tercatat sebesar Rp 4,75 triliun, meningkat 31,3% dari periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar Rp 3,62 triliun. Julian menyampaikan, saat ini catatan asuransi kesehatan masih digabung dengan kecelakaan diri, tapi porsi premi asuransi kesehatan sekitar 70% dari jumlah tersebut.

Namun dengan banyaknya perusahaan di dalam industri asuransi tentu akan menambah sengitnya persaingan di dalamnya. Dengan semakin ketatnya persaingan bisnis asuransi, berbagai cara dilakukan perusahaan asuransi untuk menarik nasabah.

Selain mengenalkan produknya lewat berbagai promosi, banyak perusahaan yang mengemas produk baru agar masyarakat semakin berminat menginvestasikan dananya ke asuransi.

Selanjutnya, dapat ditebak bahwa dengan makin banyaknya perusahaan di dalam suatu industri, persaingan dapat menuju ke arah persaingan yang tidak sehat. Yang paling sering terdengar yaitu Perang Tarif antar perusahaan asuransi, dimana mereka terus menurunkan ratenya masing-masing walaupun tetap sama saja tujuannya.

Yang menjadi pertanyaan, akankah perusahaan asuransi akan dapat membayar klaim bila pendapatan premi yang kecil akibat penurunan tarif tersebut. Padahal pendapatan premi berdasarkan hukum bilangan besar.

Makin banyak nasabah yang dihimpun, makin banyak premi yang didapat dan makin besar kemampuan perusahaan untuk membayar klaim. Dan lagi, sudah seharusnyalah nasabah merasa curiga bila mendapatkan penawaran dengan harga murah.

Walaupun dalam jangka pendek, konsumen diuntungkan. Tetapi jangka panjang akan merugikan nasabah itu sendiri, mana hal ini menyangkut kesiapan perusahaan membayar klaim. Sehingga jika nasabah disuruh pilih, mereka lebih mengharapkan pelayanan yang baik dan memuaskan daripada premi yang murah tapi klaimnya susah. Karena sesuatu yang termurah belum tentu terbaik.