Tingkatkan Kesadaran Hidup Sehat dan Bersih

Wipol Aksi Anti Kuman

Sabtu, 22/03/2014

Rendahnya kesadaran penerapan Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi salah satu faktor yang tidak dapat dipisahkan dari banjir awal tahun 2014, tercatat sekitar 43.602 pengungsi, sejumlah 40.360 orang terserang penyakit, serta 15 orang yang meninggal dunia di Jakarta.

“Tentunya banyak faktor yang menyebabkan banjir serta berbagai penyakit yang menyertainya. Namun, hal ini tidak terlepas dari masih minimnya kesadaran menerapkan PHBS dan kurang memahami bahaya kuman terhadap kesehatan keluarga dari seluruh lapisan masyarakat. Salah satu contoh konkritnya, masih kerapkali ditemui orang membuang sampah sembarangan dari mobil mewahnya,” terang dr. Jhon ST Marbun M. Kes selaku Kepala Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Pemprov DKI Jakarta.

Kebiasaan yang tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga lingkungan ini disebabkan rasa malas menghampiri tempat sampah, anggapan sampahnya kecil, ada petugas yang membersihkan serta mencontoh orang lain yang melakukan hal serupa. Pada akhirnya, tumpukan sampah ini dapat menjadi sumber berkembangnya kuman penyebab penyakit dan menyebabkan penyumbatan yang berpotensi menyebabkan banjir terutama pada musim hujan.

Sementara itu Dr. Linda Darmajanti, MT, selaku sosiolog dari FISIP Universitas Indonesia menjelaskan, dalam meningkatkan kesadaran atas lingkungan yang lebih bersih dan sehat dibutuhkan perubahan perilaku yang menyeluruh dan bertahap.

Ia pun mencontohkan bahwa upaya yang dilakukan dalam rangkaian kegiatan “Wipol Aksi Anti Kuman” dilakukan secara bertahap sehingga dalam merubah perilaku, masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri.

Mula-mula Wipol menumbuhkan kesadaran (awareness) dan menimbulkan ketertarikan (interest) akan perilaku hidup bersih dan sehat melalui penyuluhan. Kemudian saat tim melakukan kunjungan rumah dan mencontohkan cara perawatan rumah yang bersih serta higienis, individu dapat melihat sendiri manfaatnya (evaluation) hingga mau mencobanya (trial). Pada akhirnya, individu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (adoption) dalam keseharian, dan ini terbukti dari berkurangnya kasus penyakit keluarga.

“Dari aspek sosiologis, perilaku bersih dan sehat harus menjadi bagian dari perilaku sosial setiap individu dalam kehidupan sehari-sehari di masyarakat. Jika semua individu memiliki persepsi yang sama tentang konsep bersih dan sehat dan kemudian diterapkan dalam pergaulan sehari-hari dengan individu lain dalam lingkungan atau komunitas (healthy environment) maka akan terwujud masyarakat yang bersih dan sehat (healthy people) yang akhirnya dapat mewujudkan kota sehat (healthy city),” tambah dr. Linda.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan yang dapat membantu masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, Wipol dan komunitas Bersih Nyok! juga akan menyediakan beberapa tempat sampah dan papan informasi.

“Setelah melalui serangkaian kegiatan edukasi melalui gerakan ‘Wipol Aksi Anti Kuman’, masyarakat juga harus didukung dengan fasilitas yang dapat memudahkan mereka dalam menerapkan perilaku hidup bersih sehat dalam kesehariannya,” tuturnya.