Budidaya Lele Makin Perkuat Ekonomi Jawa Tengah

Sektor Perikanan

Senin, 17/03/2014

NERACA

Demak - Budidaya lele kini semakin diminati oleh masyarakat, karena merupakan bisnis yang menguntungkan. Banyak keunggulan budidaya lele dibandingkan ikan tawar lainnya. Diantaranya, lele lebih cepat besar dibandingkan ikan tawar lainnya. Hanya dalam waktu 3 bulan, lele sudah dapat dipasarkan. Pasarnya tidak pernah sepi dan harganya pun stabil.

Pertimbangan inilah yang menjadikan lele menjadi primadona masyarakat Jawa Tengah. Sedikitnya 3.300 pembudidaya lele yang bergabung dalam wadah koperasi kini menjadi penopang tumbuhnya perekonomian masyarakat Jawa Tengah. Dari budidaya kolam, tahun 2013 lalu provinsi Jawa Tengah menyumbang produksi ikan air tawar sebanyak 112 ribu ton.

Jawa Tengah memang dikenal sebagai penghasil lele terbesar kedua setelah Jawa Barat. Adapun sentra budidaya ikan lele di provinsi ini terbesar di beberapa kabupaten. Produksi ikan lele tertinggi di Jawa Tengah terletak di kabupaten Demak dan merupakan sentranya budidaya lele. Produksi lele dari Demak cukup besar sekitar 14.432 ton tahun 2013. Sentra budidaya lele lainnya terdapat di kabupaten Banyumas, Purbalingga, Sukoharjo dan Karang Anyar serta Boyolali. Budidaya lele di Jawa Tengah sebagian besar berasal dari budidaya kolam. Mulai tahun 2006 Kementerian Kelautan dan Perikana (KKP) terus mengembangkan budidaya lele dengan berbagai teknik. Kini banyak berkembang budidaya lele di sawah model minapadi, dikeramba jaring apung serta kolam terpal.

"Budidaya lele memang cukup menguntungkan. Apalagi, kini masyarakat mulai kreatif dengan pengasapan ikan lele seperti yang dilakukan masyarakat Wonosari Demak," kata Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo saat panen ikan lele dan peninjauan lokasi pengasapan ikan lele di desa Wonosari Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Minggu (16/3).

Menurut Sharif, desa Wonosari memiliki keunggulan di bidang budidaya karena menjadi sentra produksi dan pengolahan ikan lele yang dikenal dengan ikon "jambu lele". Bahkan melalui ikon lele jambu atau bule, pembudidaya lele di Wonosari sudah menerapkan prinsip blue economy di wilayahnya. Dimana, limbah dari kolam lele yang ada di desa ini dimanfaatkan sebagai pupuk cair untuk menyirami tanaman buah jambu yang sengaja di tanam di dekat kolam lele.

"Hasilnya tanaman jambu berbuah cukup lebat. Hasil produksi buah jambu jenis Citra dan Delima yang terkenal manis desa Wonosari sekitar 150 ton/tahun. Sementara itu, produksi lele sekitar 14.432 ton pada tahun 2013 lalu," jelas dia.

Prinsip Blue Economy, lanjut dia, memang sangat tepat diterapkan di sentra produksi perikanan budidaya seperti desa Wonosari. Konsep minapolitan dan industrialisasi juga telah dilakukan di desa ini, dimana kegiatan produksi telah disinergikan dengan kegiatan pengolahan ikan dalam bentuk pengasapan pada kawasan budidaya air tawar yang cukup luas, sekitar 83 ha. Berdirinya pabrik pengasapan ikan yang menghasilkan kurang lebih 5 ton ikan asap per hari mendukung berjalannya konsep blue economy.

Limbah budidaya lele dimanfaatkan untuk peningkatan produktifitas jambu sehingga para pembudidaya mendapatkan dua pendapatan sekaligus, yang berarti meningkatkan penghasilan para pembudidaya."Disamping itu pabrik pengasapan ikan akan meningkatkan nilai tambah produk ikan yang ada serta banyak menyerap tenaga kerja untuk membudidayakan lele dan jambu serta mengolah ikan asap. Tenaga kerja yang diserap di sektor budidaya lele adalah 200 orang sedangkan untuk pengasapan ikan sebanyak 240 orang," tambah Sharif.

Industrialisasi Budidaya Lele

Sedangkan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto mengatakan selain 4 komoditas perikanan yang sudah dilakukan industrialisasi, maka ikan lele akan melakukan hal serupa dan akan didorong dalam perwujudannya. Hal ini dikarenakan banyaknya keuntungan. ekonomi yang bisa didapatkan oleh masyarakat budidaya atas ikan lele ini.

"Misalkan budidaya jambu lele di Demak dapat juga menyerap tenaga kerja, dimana memberikan penyerapan tenaga kerja sebesar 200 orang untuk lele, jambu 390 orang, seohingga terdapat 590 orang. Produksi jambu 150 ton, olahan pengasapan 144 ton, serta ikan lele 14.432 ton pada tahun 2013," kata dia.

Dia juga menuturkan nilai keuntungan produksi untuk jambu lele serta pengolahan pengasapa mencapai Rp223,2 miliar, dimana untuk jambu mencapai Rp2,5 miliar, ikan lele Rp218 miliar, dan pengolahan pengasapan Rp4,3 miliar. Oleh karenya, DJPB mendorong atas industrilisiasi budidaya ikan lele untuk kedepannya sehingga bisa mengentaskan kemiskinan dan membuka peluang tenaga kerja kepada masyaraakat.

"Budidaya ikan lele sangat mudah dikerjakan, teknologi sederhana, modal yang sedikit, dan didorong kultur masyarakat yang sekarang membiasakan diri mengkonsumsi ikan tawar dibandingkan ikan laut. Hal ini semua akan membuat budidaya ikan lele akan digemari masyarakat dan akan mencapai industrialisasi," ujar Slamet.

Sedangkan masalah pendanaan atau permodalan, lanjut Slamet, budidaya ikan lele sudah bekerjasama dengan pihak perbankan dalam permasalahan permodalan, dimana masalah modal merupakan hal penting dalam membudidaya ikan lele ini. Sejak dahulu permasalahan permodalan menjadi kendala yang dihadapi oleh masyarakat budidaya, namun sekarang, pihak perbankan menanamkan modalnya kepada masyarakat ini. "Dengan dukungan permodalan yang ditunjang oleh pihak perbankan maka diharapkan budidaya ikan lele ini dapat berkembang pesat untuk kedepannya," tegas dia.

Hal yang terpenting, kata dia, budidaya ikan lele mambawa dampak yang positif bagi warga Demak. Budidaya lele menjadikan mata pencaharian bagi warga Demak, yang jelas dapat mengurangi pengangguran."Keunggulan ikan lele adalah mampu bertahan di air yang kotor sekalipun. Lele itu ikan paling tahan, tidak ganti air pun akan tetap hidup," tandas dia.