Bangun Stone Ubud Hotel, RSO Rogoh Rp 300 Miliar

Bisnis Perhotelan di Bali Makin Cerah

Senin, 17/03/2014

NERACA

Denpasar- Pertumbuhan industri properti di Pulau Dewata terus naik dengan signifikan. Menurut data, 2014 -2016 Bali bakal “diserbu” 13.683 kamar hotel anyar. Mayoritas hotel baru tersebut dibangun di Kuta, Nusa Dua, Seminyak, Sanur dan Ubud. Hotel bintang empat mendominasi Bali, yakni sebanyak 44%. Lokasi hotel masih didominasi daerah Kuta, Nusa Dua, Seminyak, Sanur dan Ubud. Memang, pengembang masih berfokus ke lokasi tersebut karena tempat itu masih menjadi tujuan wisatawan.

Bisnis penginapan di Bali masih cukup menggiurkan bagi para pengembang. Total pasokan empat tahun ke depan, setara dengan 62% dari pasokan kamar hotel yang ada saat ini. Hingga akhir 2013, total kamar yang tersedia di Bali sebanyak 21.903 unit.

Bali masih menjadi tujuan investasi properti yang menarik di Indonesia. Hal tersebut disebabkan pertumbuhan harga properti di Bali masih tinggi. Hasil riset Knight Frank Indonesia menunjukkan, pertumbuhan harga tersebut merupakan yang kedua tertinggi di Indonesia setelah Jakarta. Kenaikan harga properti di Bali mencapai 20% hingga akhir 2013. Bisnis properti di Bali masih di dominasi hotel atau kondominium hotel (kondotel), hal tersebut disebabkan karena Bali menjadi tempat tujuan wisata.

Meski pertumbuhan pasokan hotel di Bali menunjukkan peningkatan, persaingan antar hotel belum ketat. Jika kita melihat jumlah, angkanya pasti besar. Tapi tiap hotel memiliki segmen masing – masing. Apalagi, hingga kini pembangunan hotel oleh para pengembang masih bertujuan untuk memenuhi kebutuhan atas hotel di Bali.

Kota lain yang dikabarkan akan menjadi tempat tujuan pengganti Bali seperti Lombok dan Makassar, dinilai belum cukup kuat dalam infrastruktur. Infrastruktur di sana belum mendukung seperti di Bali. Sehingga potensi peningkatan bisnis properti di Bali masih akan terus bertumbuh.

Tak pelak, PT Realindo Sapta Optima (PT RSO) menyiapkan anggaran Rp 300 miliar untuk mengembangkan bisnis hotelnya di pulau Bali. "Kami siapkan anggaran Rp 300 miliar - Rp 400 miliar untuk pembangunan Stone Ubud Hotel," ujar CEO PT RSO Raja Sapta Oktohari saat acara ground breaking pembangunan The Stone Hotel And Villa di kawasan Ubud, Bali, Sabtu (15/3).

Hotel tersebut dibangun di atas tanah 7,2 hektare. Targetnya sendiri hotel tersebut akan selesai dalam dua tahun. Hotel terdiri dari 40 vila dan 60 kamar. Pangsa pasarnya sendiri, diutamakan untuk dalam negeri.

Okto mengatakan, pembangunan hotel di Ubud menjalin kerja sama dengan Marriott International. Menurut dia, Marriott International merupakan partner sesuai dalam pengelolaan dan pengoperasian hotel dan villa yang mengutamakan keamanan, kenyamanan, dan eksklusif. "Kerja sama ini melanjutkan kesuksesan kerja sama terdahulu, The Stones Hotel Legian - Bali, Autograph Collection," tuturnya.

Pembangunan hotel ini, kata dia, juga untuk menyambut ASEAN Economic Comunity pada 2014. Menurutnya, pembangunan hotel di Ubud ini merupakan sarana untuk mengembangkan industri di Bali.

Okto menambahkan, tahun ini PT RSO berencana membangun 4 properti dengan nilai investasi Rp 4 triliun. Proyek properti yang akan dibangun adalah pembangunan The Stones Hotel & Villa-Ubud di Bali. Kedua, La Foret Vivante yang merupakan Apartemen exclusive yang berlokasi di daerah Permata Hijau Jakarta Selatan.

Kemudian ada juga membangun Gedung Perkantoran Premium yang berlokasi di Jalan Gatot Subroto-Jakarta. Dan Premium Apartemen dengan Luxurious-International Brand yang berlokasi di Senayan-Jakarta Selatan. "Kami tidak ragu-ragu melakukan ekspansi ke berbagai wilayah dalam negeri maupun luar negeri," ujarnya.

Topik Terkait

the stone ubud proyek